29.5 C
Jakarta
Dec 7, 2019.
Image default

Aktivitas Bongkar Muat Alat Berat dan Spareparts IPCC Masih Lesu

Kelesuhan sektor pertambangan, perkebunan, maupun infrastruktur turut dirasakan oleh PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IPCC). Aktivitas bongkar muat alat berat di terminal internasional yang dikelola IPCC turun drastis sepanjang 2019 ini.

Investor Relation PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IPCC) Reza Priyambada mengungkapkan secara akumulasi (Januari-Oktober 2019), jumlah alat berat yang ditangani di IPCC telah mencapai 11.145 unit atau turun 39,02 persen dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya sebanyak 18.276 unit.

Penurunan terjadi karena aktivitas ekspor dan impor alat berat mengalami penurunan. Ekspor alat berat turun 25,74 persen dari 4.448 unit di periode yang sama di tahun sebelumnya menjadi 3.303 unit pada Januari-Oktober 2019.

Begitupun dengan impor yang lebih rendah 43,29 persen menjadi 7.842 unit dari periode yang sama di tahun sebelumnya yang mencapai 13.828 unit.

Meski secara akumulasi turun, tetapi kondisi pada Oktober lalu sudah mulai terlihat membaik. Reza mengungkapkan pada Oktober lalu terlihat jumlah alat berat yang ditangani di terminal internasional IPCC mencapai angka 936 unit di  atau lebih tinggi 5,36 persen dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 889 unit.

Impor dan ekspor spareparts juga tercatat mengalami kelesuhan. Secara akumulasi (Januari-Oktober 2019), total spareparts yang ditangani IPCC ialah berjumlah 51.690 meter kubik di tahun ini atau turun 41,44 persen dibandingkan periode yang sama di tahun lalu sebanyak 88.267 meter kubik.

Untuk kegiatan impor spareparts tercatat melemah 33,10 persen dari 43.253 meter kubik di tahun lalu menjadi 28.938 meter kubik pada Januari-Oktober tahun ini. Penurunan tersebut masih lebih baik jika dibandingkan dengan penurunan yang terjadi pada aktivitas ekspor yang secara akumulasi di tahun ini turun 49,45 persen menjadi 22.753 meter kubik dari periode akumulasi di tahun lalu sebesar 45.014 meter kubik.

Reza menjelaskan penurunan yang terjadi pada aktivitas bongkar muat alat berat sepanjang tahun ini selain dikarenakan melemahnya sektor-sektor usaha yang berkaitan dengan alat berat dan spareparts tersebut juga dikarenakan menurunnya jumlah volume berat yang ditangani IPCC.

“Adapun volume berat rata-rata yang ditangani ialah berkisar 50 – 80 ton/M3 dibandingkan yang diharapkan seberat lebih dari 100 ton/M3. Hal ini berpengaruh kepada tarif yang dikenakan sehingga berimbas pula terhadap potensi pendapatan yang diterima oleh IPCC,” ujarnya kepada Equipment Indonesia, Senin (18/11).

Dengan melihat tren yang terjadi pada alat berat dan spareparts yang masih cenderung melemah seiring belum pulihnya sejumlah sektor terkait dengan alat berat dan spareparts membuat harapan pencapaian kinerja IPCC cenderung turun. Kontribusi dari alat berat yang mengalami penurunan berimbas pada potensi pendapatan per segmen sehingga mempengaruhi pendapatan secara total. “Dengan berkurangnya pendapatan dari alat berat dan spareparts maka menyebabkan adanya penurunan pada kinerja pendapatan,” ujarnya.

Ke depan, Reza mengatakan diharapkan sejumlah sektor terkait alat berat dan spareparts dapat kembali pulih dan meningkatkan permintaan serta produksi alat berat dan spareparts sehingga dapat meningkatkan kembali aktivitas bongkar muat alat berat dan spareparts di Terminal Internasional IPCC. Dengan demikian, IPCC diharapkan dapat kembali meraih kinerja gemilang dengan adanya peningkatan tersebut.

 

Related posts