26.1 C
Jakarta
Nov 21, 2019.
Image default

Ban Trelleborg Mulai Bidik Sektor Tambang

Dengan bekal nama besar Trelleborg di industri agrikultur, kini brand ban asal Swedia ini mulai menyasar aplikasi tambang di Indonesia. Mengapa?

Bagi para pelaku industri agrikultur di Indonesi, brand ban Trelleborg mungkin sudah tak asing lagi. Yudia Laksamana, Managing Director PT. Trelleborg Indonesia mengatakan brand asal Swedia ini memang sudah masuk ke industri agro Indonesia sejak tahun 2002.

Tetapi, setelah mengakusisi CGS Holding (Mitas Group) asal Republik Ceko pada 2015 lalu, Trelleborg pun mengembangkan sayapnya ke produksi ban radial yang cocok untuk alat-alat pertambangan.

“Saat pembelian grup Mitas, namanya CGS, di dalamnya ada teknologi radial. Jadi, kami kembangkan teknologi radial itu. Tentunya kami upgrade dan melakukan rebranding. Setelah itu baru kami berani masuk ke mining. Memang nama kami di mining juga belum kuat. Kami pemain baru,” kata Yudia saat ditemui di sela-sela Mining Mining 2019, di Jakarta International Expo Kemayoran, Kamis (19/9).

Yudia menuturkan, di pasar Indonesia, pihaknya baru mulai memperkenalkan produk ban khusus untuk pertambangan pada tahun ini. “Sebetulnya ban kami sudah ada dari dua tahun lalu. Tahun lalu dilakukan branding baru. Kami baru mau launch ke pasar pada tahun ini,” ujarnya.

Yudia mengatakan saat ini kondisi industri tambang memang sedang lesu. Tetapi, menurutnya, itu hanya siklus yang biasa. Ke depan, ia optimis pertambangan masih prospektif. “Saya lihat mungkin pasarnya masih cukup menjanjikan. Kalau alasannya kenapa kami masuk ke mining, tentu sebagai strategi untuk mengembangkan penjualan kami, salah satunya dari produk tambang”, jelasnya.

Untuk pasar alat berat di pertambangan, Trelleborg memiliki produk ban premium EMR1042 yang cocok untuk articulated dump truck (ADT). Menurut Yudia, ban ini menggigit di berbagai macam ground atau permukaan. “Kalau dia (EMR1042, Red) track-nya bagus, kami berpikirnya tentu energi akan berkurang. Pemakaian bahan bakar berkurang. Lebih irit,” ujarnya.

Selain Trelleborg EMR1042, pada jajaran ban premium, Trelleborg juga menawarkan Brawler yaitu ban solid OTR yang sudah lengkap dengan velg. Aplikasnya, antara lain, untuk weel loader. “Ini spesial untuk critical area, tetapi lebih khusus juga untuk underground mining,” ujarnya.

Selain ban premium, Trelleborg juga memiliki produk yang masuk kategori tier two, yaitu Mitas EM-60. Sebagai produk brand Eropa, menurut Yudia, Mitas memiliki compound yang lebih baik. “Teknologi ban itu hampir sama, cuma pemilihan compound dan resepnya saja yang berbeda,” tandasnya.

Compound adalah bahan yang membentuk sebuah ban. Compound itu terdiri dari beberapa macam resep, ada bahan kimia, ada rubber dan ada karet sintetik. Yudia mengatakan keunggulan ban produksi Trellebrog adalah didesain untuk traksi yang lebih bagus di segala cuaca. “Tentunya value buat customer adalah bisa me-reduce pemakaian energi atau fuel consumption,” ujarnya.

Trelleborg adalah perusahaan asal Swedia yang sudah berdiri lebih dari 100 tahun. Di Indonesia, Trellborg sudah hadir sejak 19 tahun lalu. Wheel system hanyalah salah satu lini bisnis Trelleborg.

Sebagai pemain baru di pasar industri tambang, Trellborg akan berhadapan dengan pemain-pemain lama seperti Michelin, Bridgestone, Yokohama, BKT dan lainnya. Tetapi Yudia mengatakan sebagai brand asal Eropa, Trelleborg memiliki keunggulan dari sisi teknologi. “Trelleborg sebetulnya sangat kuat di teknologi, kecanggihan meramu compound. Dia compound-nya tahan panas, cutting resistance,” ujarnya.

Ditanya soal strategi masuk ke segmen pertambangan, Yudia mengatakan nama besar Trelleborg terutama di industri agrikultur adalah asset yang berharga untuk bersaing dengan pemain-pemain lama di industri tambang. “Kalau orang ngomong Trelleborg, orang sudah tahu ini ban premium. Itu salah satunya yang kita punya dan pengalaman kami di agriklutur, sudah cukup kuat nama kami di situ,” ujarnya.

Untuk ban di industri tambang, Yudia mengatakan, saat ini pabriknya ada di Republik Ceko. Sedaangkan ban untuk sektor agrikultur, pabriknya saat ini ada di China, Srilangka dan Italia. Sedangkan untuk material handling sebagian besar ada di Srilangka. #

Related posts

Apa Dasarnya Alat Berat Dikategorikan Sebagai Kendaraan Bermotor?

Kesiapan PT Foresta Transtek Dukung Pembangunan Infrastruktur

Varian Baru Product Breaker Sandvik: Rammer & Bretec

admin