Equipment APP.
Business Construction EQ Mining Press Release Top News

Caterpillar Kuasai Yellow Table, Sany Terjungkal ke Posisi Enam

Produsen alat berat terbesar dunia, Caterpillar, kembali menempati peringkat pertama daftar Yellow Table tahun ini sebagai perusahaan dengan nilai penjualan tertinggi. Sementara raksasa alat berat dari China, Sany, turun ke posisi ke-6. Pemeringkatan ini dilakukan berdasarkan data penjualan 50 OEM teratas dunia pada 2023.

Tabel top ten produsen alat berat dunia tahun 2023 (Sumber: Yellow Table/Tabel: International Construction)

Caterpillar kembali menduduki peringkat pertama sebagai produsen alat berat terbesar dunia dalam daftar Yellow Table yang dikeluarkan oleh KHL Group. KHL Group merupakan perusahaan penyedia informasi industri konstruksi dan kelistrikan internasional melalui berbagai platform. Berdasarkan pemeringkatan tersebut, penjualan Caterpillar menempati posisi teratas dari 50 produsen alat berat terkemuka dunia dewasa ini.

Penjualan divisi konstruksi dan sumber daya Caterpillar meningkat dari 37,5 miliar dolar Amerika Serikat menjadi 41 miliar dolar Amerika Serikat. Secara persentase, Caterpillar mencatatkan total penjualan sebesar 16,8 persen, naik dari 16,3 persen dari tahun sebelumnya. Atau penjualan Caterpillar mengalami peningkatan 0,5 persen.

Caterpillar kembali menempati posisi teratas sebagai produsen alat berat terbesar dunia versi Yellow Table. Foto ini merupakan motor Grader Caterpillar yang dipamerkan di Jakarta pada acara Mining Indonesia 2023 di Jakarta (Foto: EI)

Peningkatan penjualan produsen asal Amerika Serikat itu tidak mengejutkan, meski mencetak rekor penjualan baru sebesar 242,4 miliar dolar Amerika Serikat. Salah satu alasan terciptanya rekor tersebut karena kinerjanya yang ciamik di wilayah Amerika Utara yang juga terbantu oleh berbagai kebijakan pemerintah.

Menurut Off-Highway Research, pada 2023, hampir 330.000 unit mesin konstruksi terjual di wilayah Amerika Utara, naik 8 persen dari penjualan tahun sebelumnya. Sementara di pasar lain di seluruh dunia seperti Eropa, Jepang, dan India juga tetap mengalami pertumbuhan.

Persaingan di top three juga cukup sengit. Produsen yang berbasis di Amerika Serikat, John Deere, naik ke peringkat tiga daftar Yellow Table ini, dari posisi keempat pada tahun sebelumnya. Peningkatan itu tidak terlepas dari kondisi yang begitu kuat di pasar dalam negeri Amerika Serikat. Karena itu, tidak mengejutkan bahwa John Deere merangsek ke peringkat tiga daftar tersebut. Total penjualan John Deere versi Yellow Table adalah 6,1 persen.

Baca Juga :  Fat Truck Rilis Model Pickup Amfibi Untuk Industri Utilitas

Sementara posisi kedua penjualan terbesar versi Yellow Table ditempati Komatsu. Namun, total penjualan produsen asal Jepang itu tertinggal jauh dari jumlah penjualan Caterpillar. Jaraknya hingga 6,4 persen. Komatsu hanya mencatatkan penjualan sebesar 10,4 persen.

XCMG menempati posisi ketiga dalam daftar Yellow Table 2024. Foto di atas adalah produk-produk excavator XCMG dalam berbagai ukuran. Foto: EI

Adapun pabrikan yang berbasis di China, XCMG, mengalami penurunan ke peringkat empat. Penjualan mereka tergerus oleh nilai tukar mata uang. Sementara perusahaan China lainnya, Sany, melorot ke peringkat enam Yellow Table. Penurunan dua perusahaan China ini terjadi karena kondisi pasar dalam negeri China yang sedang sulit. Justru yang mengejutkan adalah bahwa dengan kondisi pasar dalam negeri China yang sulit itu, manufaktur-manufaktur negeri Tirai Bambu tersebut tidak jatuh lebih dalam.

Dalam daftar Yellow Table itu, penjualan XCMG yang berada di peringkat empat tercatat 5,3 persen, sedangkan Sany yang menghuni peringkat enam hanya mencatatkan penjualan sebesar 4,2 persen. Untuk Kembali berada di posisi teratas, kedua produsen China itu, dan pabrikan-pabrikan China lainnya, sudah melakukan ekspansi besar-besaran ke pasar di luar China dalam beberapa tahun terakhir.

Sebaliknya, Liebherr mengalami lompatan dua strip dan menghuni peringkat lima daftar Yellow Table ini dengan total penjualan 4,2 persen atau, secara persentase, sama dengan total penjualan Sany. Adapun posisi ketujuh ditempati Volvo Construction Equipment dengan 4,3 persen. Total penjualannya tidak mengalami perubahan dari tahun sebelumnya. Posisi ke-8 dipegang Hitachi Construction Machinery dengan 3,7 persen, diikuti JCB (3,3 persen), dan Doosan Bobcat 3,1 persen.

Di antara produsen-produsen China, yang mengalami penurunan penjualan paling dalam adalah Lovol. Pabrikan ini terjun bebas tujuh peringkat dalam daftar Yellow Table ini. Namun begitu, ada juga kabar gembira dari China. Tiga perusahaan negara itu masuk dalam daftar “Top 50” manufaktur berpendapatan besar versi Yellow Table. Mereka adalah LGMG yang menduduki posisi 34, Tonly (43), dan Sinoboom di posisi paling buncit (50). Khusus Sinoboom yang memproduksi access equipment, produsen ini naik satu peringkat dari posisi 51 pada tahun sebelumnya.

Baca Juga :  Seretnya Pendapatan dan Belanja Negara di Tengah Pandemi

Pada saat bersamaan, manufaktur-manufaktur berbasis di Jepang mengalami penurunan penjualan dari 20,0 persen menjadi 19,9 persen. Penurunan itu tercermin pula pada posisi mereka di daftar Yellow Table. Tahun lalu, tiga posisi terbawah daftar OEM Yellow Table (peringkat 48-50) semuanya berasal dari Jepang. Pada daftar terbaru ini, tiga posisi terbawah sudah diambil alih oleh tiga manufaktur dari China yang sudah disebutkan di atas tadi.

Produsen alat berat dari Jerman, Liebherr, menempati posisi nomor 5 dalam daftar Yellow Table 2023. Foto: Karunia

Lantas bagaimana dengan penjualan pada 2024 ini? Diperkirakan, penjualan tahun ini mengalami penurunan sebesar 8 persen dari 2023. Namun, semuanya masih sesuai ekspektasi, masih sangat sehat, dan tetap dalam koridor sejarah penjualan. Perkiraan ini menunjukkan juga bahwa akan ada penurunan pendapatan pada Yellow Table tahun depan.

Di tengah perkiraan penurunan, masih ada harapan yang tersimpan. Sebab pasar di Amerika Utara masih sangat kuat untuk mesin-mesin konstruksi. Sementara pasar Eropa akan sedikit mengalami penurunan penjualan pada tahun ini. Lalu pemilu di India berdampak negatif pada penjualan. Sementara pasar China masih sulit karena belum ada tanda-tanda pemulihan. Bahkan diperkirakan, pasar China masih akan sedikit mengalami penurunan. Bila pasar China pulih lebih cepat dari yang diperkirakan, maka daftar Yellow Table tahun depan akan sedikit mengalami perbaikan, meskipun tetap tidak akan bisa sama dengan tahun ini.

Bila dilihat berdasarkan negara, penjualan terbesar masih dikuasai Amerika Serikat yang menguasai 28,6 persen dari seluruh total penjualan. Angka ini naik dari 26,8 pada tahun sebelumnya. Posisi kedua dipegang Jepang dengan 19,9 persen yang mengalami penurunan dari posisi 20,9 persen tahun sebelumnya. Penjualan terbesar ketiga dipegang China dengan 17,2 persen, turun dari posisi 18,2 persen pada tahun sebelumnya. Penjualan terbesar keempat terjadi di pasar Swedia yang mengantongi 9,3 persen, turun dari posisi 9,9 persen. Posisi selanjutnya secara berturut-turut ditempati Jerman (6,3 persen), Korea Selatan (5,7 persen), Inggris (3,3 persen), Finlandia (3,0 persen), Prancis (2,4 persen), Italia (1,9 persen), dan Australia (1,1 persen). 

Baca Juga :  Excavator Concept-X Doosan Infracore Memenangkan Gold Award 2021

Bila dihitung berdasarkan wilayah, jumlah penjualan terbesar disumbang oleh Asia dengan total 42,8 persen. Meskipun angka ini turun dari posisi 44,8 persen pada tahun lalu. Bahkan, ini untuk ketiga kalinya secara beruntun sumbangan penjualan dari kawasan ini terus menurun. Sebab pada 2022, penjualan di Asia mencakup 50 persen dari total penjualan seluruh dunia. Penjualan terbesar kedua pada tahun ini dipegang Amerika Utara dengan 29,9 persen diikuti pasar Eropa sebesar 29,0 persen.

Metodologi  

Adapun metodologi yang dipakai dalam pembuatan daftar top 50 OEM Yellow Table ini dilakukan berdasarkan jumlah penjualan sepanjang tahun 2023 dalam mata uang dolar Amerika Serikat. Mata uang negara lain dikonversi ke dolar Amerika Serikat dengan rata-rata harga pada 2023. Hal itu dilakukan untuk menjaga keadilan (fairness) dalam menilai.

Seluruh data dikumpulkan dari berbagai sumber, termasuk laporan keuangan yang sudah diaudit, pernyataan perusahaan dan sumber-sumber pihak ketiga yang sangat dapat dipercaya. Kemudian tahun fiskal di Jepang, India, dan beberapa negara lain yang berakhir pada 31 Maret tidak mungkin dapat dijadikan informasi tahunan. Dalam kasus seperti ini, maka hanya hasil fiskal tahunan yang dipakai. Sumber: International Construction

Berita Terkait

Our website uses cookies to improve your experience. Don't worry you are in safe browsing with us. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

Privacy & Cookies Policy