26 C
Jakarta
11 Apr, 2021.

Divisi Rental & Used Equipment Trakindo: Bukan Hanya Sekedar Rental

Selama pandemi Covid-19, divisi rental dan peralatan bekas PT Trakindo Utama selektif memilih customer, lebih fokus menggarap klien-klien besar yang fundamental bisnisnya. 

Alat-alat berat bekas bersertifikat yang dijual oleh PT Trakindo Utama. (Foto: Trakindo)

Pandemi COVID-19 yang sudah genap setahun mengguncang Indonesia berdampak negatif terhadap industri alat berat, termasuk bisnis rental dan alat bekas (used equipment). Tidak hanya penjualan alat-alat baru yang anjlok, pasar rental dan alat bekas (used equipment) juga tergerus. Ini karena semenjak pecahnya krisis kesehatan global ini banyak pekerjaan yang terganggu. Tidak sedikit proyek yang ditangguhkan penggarapannya, dan bahkan dibatalkan sama sekali. Kalau pun masih dilanjutkan, volume pekerjaan mungkin berkurang dan harus memenuhi protokol kesehatan. Akibatnya, investasi alat berat turun, pemakaian mesin-mesin sewa berkurang, demikian juga penjualan alat-alat bekas.  Bagaimana industri rental menyiasati kondisi tersebut?

Kalau dicermati, sebetulnya tidak semua sektor bisnis yang mengandalkan penggunaan alat berat tertekan oleh pandemi Covid-19. “Hanya beberapa sektor saja yang terdampak, seperti konstruksi dan infrastruktur, sementara pengaruhnya ke sektor-sektor lain seperti pertambangan, forestry dan agriculture kurang signifikan,” kata Ivan Lie, Division Head Rental & Used Equipment PT Trakindo Utama, dalam perbincangan secara virtual dengan Majalah Equipment Indonesia beberapa waktu lalu.

Ia mengangkat contoh sektor pertambangan yang kondisinya saat ini sudah semakin membaik karena sejak akhir tahun lalu harga komoditas tambang, khususnya batu bara, sudah mulai menguat sehingga memacu semakin giatnya aktivitas-aktivitas penambangan akhir-akhir ini.

Sementara harga komoditas-komoditas tambang lain, seperti mineral, cukup stabil selama krisis ini karena permintaan masih tinggi. Tambang emas dan tembaga tetap jalan. Bahkan tambang nikel justru sedang ramai-ramainya sekarang ini karena kebijakan hilirisasi dan naiknya permintaan nikel.

Di sektor forestry dan agriculture (forag), lanjut Ivan, trennya secara perlahan-lahan sudah mulai bergeser ke mekanisasi.  Dengan semakin mahal dan susahnya mencari para pekerja akhir-akhir ini, para pemilik perkebunan dan konsesi HTI (hutan tanaman industri) serta kontraktor-kontraktor perkebunan arahnya sudah mulai mekanisasi. Tantangan bagi para pemain alat berat justru bagaimana mendukung percepatan pergeseran dari cara kerja manual dan padat karya ke mekanisasi di sektor kehutanan dan agrikultur.

Sektor bisnis yang paling merasakan dampak pandemi COVID-19, menurut Ivan, adalah industri konstruksi karena pemerintah memangkas budget untuk belanja infrastruktur tahun lalu dan dialihkan untuk penanggulangan pandemi COVID-19.  Tahun 2020 pemerintah hanya meneruskan pembangunan proyek-proyek penting saja, selebihnya distop seperti pembangunan gedung-gedung perkantoran dan tempat tinggal.

Tetapi pada 2021 ini anggaran infrastruktur sudah mengalami kenaikan. Pemerintah mengalokasi anggaran infrastruktur yang jauh lebih besar dibandingkan 2020. Besarannya mencapai Rp 417 Triliun, dibandingkan Rp 281,1 Triliun pada 2020. Kenaikannya mencapai 48%. Pemerintah beralasan, lonjakan anggaran sebesar itu karena banyak proyek infrastruktur yang tertunda tahun lalu.

Kurang signifikan

Ivan Lie, Division Head Rental & Used Equipment PT Trakindo Utama (Dok. EI)

Sebagai salah satu pemain besar di segmen rental dan peralatan bekas, Trakindo pasti terimbas oleh pandemi ini. Beberapa customer rental perusahaan ini menghilang, mungkin karena mereka sedang tidak ada pekerjaan dan kondisi finansialnya kurang solid. Namun, kepergian mereka diimbangi oleh kehadiran pelanggan-pelanggan baru yang jumlahnya bahkan jauh lebih banyak. Alhasil, bisnis rental Trakindo hingga akhir tahun 2020 aman-aman saja.

“Sejauh ini kami aman-aman saja. Performa bisnis kami pada akhir tahun 2020 cukup baik. Kami dapat memenuhi target yang kami sudah canangkan, baik untuk bisnis rental maupun used equipment. Kami sangat berterima kasih karena dalam kondisi pandemi ini para customer masih bertahan, bahkan bermunculan pelanggan-pelanggan baru yang memercayakan alat-alat yang kami sediakan. Ujung-ujungnya bisnis rental Trakindo pada tahun 2020 cukup baik,” ungkap Ivan.

Ia menambahkan, secara umum efek pandemi COVID-19 terhadap bisnis rental dan used equipment Trakindo kurang terdampak. Salah satu alasannya karena selama ini perusahaan tersebut belum banyak menggarap persewaan di sektor konstruksi. “Sektor konstruksi bukan bisnis yang porsinya besar bagi kami selama ini,” ujarnya. Yang menjadi fokus bidikan Trakindo selama ini adalah pasar pertambangan dan forag, terutama pemain-pemain besar karena bisnis mereka secara fundamental kuat.

Meski kurang terpengaruh secara bisnis, pandemi COVID-19 berefek terhadap aktivitas-aktivitas tim sales dan servis Trakindo di lapangan. Protokol kesehatan yang diterapkan dalam rangka menanggulangi pandemi ini membuat mobilitas tim  terhambat. Trakindo tidak bisa menangani para customer seintensif seperti sebelum pandemi. Penanganan masalah-masalah di job site tidak bisa cepat. Apalagi kalau harus karantina terlebih dahulu. Belum lagi sistem kerja online yang belum tentu semua orang comfortable dengan itu. Perawatan dan perbaikan alat juga terganggu karena harus melewati protokol kesehatan dan tidak bisa mengandalkan panduan secara online.

“Tantangannya adalah bagaimana kita tetap me-maintain para pelanggan meski sedang lockdown. Produktivitas customer sangat ditentukan oleh availability peralatan di lapangan. Kalau alat-alat yang disewakan tiba-tiba rusak dan tim servis tidak bisa masuk ke lokasi, ini jadi masalah. Repotnya, di jobsite seperti pertambangan, kalau satu unit excavator rusak, ini bisa menyebabkan beberapa alat lainnya ikut parkir. Sebab, satu unit excavator melayani empat dump truck. Jadi, satu fleet berhenti. Akibat dari semuanya ini, rental revenue berkurang,” papar Ivan.

Dalam situasi krisis seperti ini, lanjut dia, pebisnis rental harus selektif dalam berinvestasi alat dan mencari pelanggan. Untuk kepentingan rental, kadang-kadang perusahaan rental melakukan investasi peralatan baru sesuai kepentingan customer. Dalam kondisi ideal, alat-alat itu baru bisa dikembalikan jika kontraknya berakhir. Namun, dalam kondisi krisis seperti saat ini, banyak customer memutus kontrak dengan jasa rental karena kontrak mereka juga diputus oleh pemberi kerja. Dalam kasus seperti ini, perusahaan rental yang menanggung resiko karena sudah terlanjut investasi unit-unit baru.

“Ini risiko besar yang kadang-kadang ditanggung oleh perusahaan rental. Sebab itu, kami harus hati-hati dalam melakukan investasi dan memilih customer yang benar-benar solid secara finansial untuk mengantisipasi kegagalan membayar harga sewa di tengah jalan,” kata Ivan sembari mencontohkan salah satu pelanggannya di sektor minyak dan gas yang terpaksa mengembalikan separuh dari unit-unit yang disewakannya dari Trakindo karena proyeknya terimbas pandemi.

Untuk mencegah terjadinya risiko seperti itu, Trakindo benar-benar menyaring pelanggan-pelanggan yang ada, terutama berkaitan dengan kredibilitasnya dalam hal keuangan dan pekerjaan yang ditanganinya. “Kami perlu menskrining pelanggan-pelanggan yang ada. Apakah keuangannya solid atau tidak? Proyek-proyek mereka solid atau tidak?  Sebab, mereka bisa saja memanfaatkan kesempatan ini untuk mengalihkan resiko untuk  memiliki alat ke Trakindo,” ia menjelaskan. Untuk itu, meski dalam kondisi pandemi, tanpa mengabaikan protokol kesehatan, tim Trakindo tetap menemui para customer dengan segala risikonya. Mereka sangat gigih mendatangi para customer untuk mendukung bisnis mereka dan membantu mengatasi persoalan yang mereka hadapi di lapangan.

Selain itu, Trakindo berusaha mendengarkan dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan para customer yang berbeda-beda. “Dalam kondisi sekarang kami harus benar-benar mendengarkan apa yang menjadi challenges para pelanggan. Mereka punya macam-macam persoalan. Pendekatan yang kami lakukan tidak bisa pukul rata. Masing-masing customer butuh perlakuan berbeda. Kami tidak bisa ngotot dengan target bisnis yang sudah kami canangkan tanpa memperhatikan persoalan-persoalan yang mereka hadapi. Jadi, kami memberikan banyak kemudahan kepada customer agar bisnis mereka tetap jalan dan kami juga untung,” Ivan menerangkan. EI

 

Related posts

329751
Users Today : 956
This Year : 42211
Total Users : 329051
Views Today : 14595
Total views : 8373665
Who's Online : 18
Your IP Address : 34.204.185.54
Server Time : 2021-04-10