Alat Berat
Business Feature Top News

Harga Batubara Membuat Mesin-Mesin Tambang Makin Panas

Kenaikan harga batubara yang sangat signifikan di tengah krisis energi global semakin menggairahkan pertumbuhan pasar alat-alat tambang nasional.

Excavator Komatsu sedang melakukan pekerjaan pengupasan lapisan tanah penutup (overburden) di area tambang batubara. Foto: Komatsu Indonesia

Peningkatan harga batubara hingga menembus rekor tertinggi baru di level US$430 per ton pada perdagangan Senin (07/3/2022) akan membuat mesin-mesin peralatan tambang makin panas pada tahun 2022. Penguatan harga komoditas itu terjadi seiring berlarut-larutnya konflik antara Rusia dan Ukraina.

Sejalan dengan naiknya harga-harga komoditas energi di pasar global, rekor baru produksi alat berat diproyeksikan terealisasi pada 2022. Salah satunya, emiten penjual alat berat merek Komatsu, yaitu PT United Tractors Tbk (UNTR) telah membuktikan dan mendapat berkat kenaikan harga batubara. Penjualan alat berat UNTR mencapai 530 unit pada bulan Januari 2022, meningkat 146,51 persen, jika dibandingkan 215 unit pada bulan Januari 2021.

Sara Kristi Loebis, Sekretaris Perusahaan UNTR, mengemukakan dalam laporan bulanan, pada Januari 2022, penjualan alat berat Komatsu masih didominasi oleh sektor pertambangan, yaitu sebesar 57 persen, naik dari 39 persen pada bulan Januari 2021. Persentase penjualan terbesar kedua diraih sektor konstruksi sebesar 16 persen. Di peringkat ketiga dan keempat ditempati oleh sektor kehutanan dan agribisnis masing-masing 15 persen dan 12 persen.

Tidak cuma penjualan alat berat, volume produksi batubara UNTR dari lini usaha PT Pamapersada Nusantara (PAMA) mencapai 7,4 juta ton pada Januari 2022. Sementara volume penjualan batubara UNTR dari PT Tuah Turangga Agung (TTA) tercatat 402.000 ton pada Januari 2022. Adapun volume penjualan emas UNTR mencapai 25.000 (glod equivalent ounces/GEOs) pada Januari 2022.

Selama tahun 2021, UNTR berhasil membukukan pendapatan bersih sebesar Rp79,5 triliun, naik sebesar 32 persen dari Rp60,3 triliun pada 2020. Pemulihan penjualan alat berat dan kenaikan harga batubara menjadi kunci. Seiring dengan peningkatan pendapatan bersih, laba bersih UNTR juga melonjak 71,67 persen menjadi Rp10,3 triliun pada 2021, dibandingkan Rp6 triliun pada 2020.

Menurut Sara, masing-masing segmen usaha, yaitu mesin konstruksi, kontraktor penambangan, pertambangan batubara, pertambangan emas dan industri konstruksi secara berturut-turut memberikan kontribusi sebesar 29 persen, 42 persen, 17 persen, 10 persen dan 2 persen terhadap total pendapatan bersih konsolidasian.

Segmen usaha mesin konstruksi mencatat peningkatan penjualan alat berat Komatsu sebesar 97,44 persen menjadi 3.088 unit pada 2021, dibandingkan sebanyak 1.564 unit pada 2020. Pangsa pasar Komatsu pada tahun 2021 sebesar 21 persen.

Pendapatan UNTR dari penjualan suku cadang dan jasa pemeliharaan alat juga mengalami peningkatan sebesar 30 persen menjadi Rp7,8 triliun. Penjualan UD Trucks mengalami peningkatan dari 224 unit menjadi 375 unit, dan penjualan produk Scania naik, dari 217 unit menjadi 545 unit. Secara total, pendapatan UNTR dari segmen usaha mesin konstruksi naik sebesar 70 persen menjadi Rp22,8 triliun pada 2021 dibandingkan dengan Rp13,4 triliun pada tahun 2020.

Segmen usaha kontraktor penambangan UNTR dioperasikan oleh PAMA. Sampai dengan Desember 2021, kontraktor penambangan membukukan pendapatan bersih sebesar Rp33,2 triliun, naik 14 persen dari Rp29,2 triliun pada 2020. PAMA mencatat peningkatan volume produksi batubara sebesar 1 persen, dari 114,6 juta ton menjadi 116,2 juta ton, dan peningkatan volume pekerjaan pemindahan tanah (overburden removal) sebesar 3 persen dari 825,0 juta bcm menjadi 852,1 juta bcm.

Segmen usaha pertambangan batubara dijalankan oleh TTA. Sampai dengan Desember 2021 total penjualan batubara mencapai 9 juta ton, termasuk 2,4 juta ton batu bara metalurgi, atau turun 3 persen apabila dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2020 sebesar 9,3 juta ton. Pendapatan segmen usaha pertambangan batubara meningkat sebesar 44 persen menjadi Rp13,7 triliun pada 2021. Ini karena peningkatan rata-rata harga jual batu bara.

Segmen usaha pertambangan emas dijalankan oleh PT Agincourt Resources (PTAR) yang mengoperasikan tambang emas Martabe di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Sampai dengan Desember 2021, total penjualan setara emas UNTR mencapai 330.000 (glod equivalent ounces/GEOs) pada 2021, naik dari 320.000 GEOs pada 2020. Hal ini sejalan dengan peningkatan volume penjualan dan rata-rata harga jual emas, pendapatan bersih segmen usaha pertambangan emas naik 18,57 persen, dari Rp7 triliun menjadi Rp8,3 triliun pada 2021.

Segmen usaha industri konstruksi dijalankan oleh PT Acset Indonusa Tbk (ACST). Sampai dengan Desember 2021, Industri Konstruksi membukukan pendapatan bersih sebesar Rp1,5 triliun, dari sebelumnya sebesar Rp1,2 triliun pada 2020. ACST membukukan rugi bersih sebesar Rp696 miliar, turun dibandingkan rugi bersih sebesar Rp1,3 triliun pada 2020. Kerugian bersih terutama disebabkan oleh perlambatan beberapa proyek yang sedang berlangsung dan berkurangnya peluang proyek konstruksi baru selama pandemi.

Sejalan dengan strategi pengembangan usaha di sektor energi yang ramah lingkungan, UNTR telah menetapkan bisnis Energi Baru dan Terbarukan (EBT) sebagai salah satu strategi transisi korporasi. Untuk mempercepat pengembangan EBT, pada akhir tahun 2021 seluruh bisnis energi dalam grup dikonsolidasikan melalui PT Energia Prima Nusantara (EPN). Hingga Desember 2021, EPN telah memasang Rooftop Solar PV di sejumlah fasilitas dalam grup UNTR dan Astra mencapai 2,4 megawatt peak (MWp).

Hingga akhir tahun 2022, ditargetkan akan ada penambahan instalasi baru Rooftop Solar PV sebesar 15 MWp dan akan meningkat di tahun berikutnya. Perseroan saat ini mengoperasikan satu pembangkit listrik tenaga minihidro (PLTMH) yaitu PLTMH Kalipelus berkapasitas 0,5 MW di Jawa Tengah, dan sedang membangun pembangkit listrik tenaga minihidro lainnya yakni PLTM Besai Kemu di Lampung, Sumatra. PLTM Besai Kemu memiliki kapasitas sebesar 7 MW dan diperkirakan akan beroperasi pada tahun 2023.

Selain itu, Perseroan juga menargetkan beberapa proyek pembangkit listrik tenaga minihidro di area Sumatra dengan total potensial kapasitas lebih dari 20 MW. Perseroan juga aktif melakukan studi dan tinjauan pada energi terbarukan lainnya seperti proyek hydropower skala besar, floating solar PV, geothermal, wind power dan waste-to-energy. Proyek-proyek ini konsisten dengan strategi UNTR untuk meningkatkan kompetensi di berbagai potensi energi terbarukan dalam rangka mencapai portofolio bisnis yang berkelanjutan.

Wheel loader baru Hitachi, ZW370-5A, untuk aplikasi tambang. Foto: HAP

Adapun PT Hexindo Adiperkasa Tbk (HEXA) hingga akhir  tahun 2021 membukukan laba bersih US$38,906 juta, atau tumbu 88,83 persen dibandingkan sebesar US$20,682 juta pada 2020. Hasil itu mendongkrak laba per saham dasar menjadi US$0,05, sedangkan pada akhir tahun 2020 hanya US$0,02.

Dalam laporan keuangan HEXA yang disampaikan ke  Bursa Efek Indonesia (BEI) baru-baru ini, disebutkan, perolehan laba tersebut berasal dari pendapatan bersih yang naik 79,06 persen menjadi US$308,87 juta pada 2021. Pendapatan tersebut berasal dari penjualan alat berat yang meningkat 123,18 persen menjadi US$154,34 juta pada 2021. Penjualan suku cadang naik 58,06 persen menjadi US$49,81 juta. Pendapatan jasa pemeliharaan dan perbaikan tumbuh 3,05 persen menjadi US$22,216 juta pada 2021.

Rigid hauler HHL Terex yang diageni oleh PT Kobexindo Tractors Tbk. Foto: KOBX

Emiten penyedia alat berat PT Kobexindo Tractors Tbk (KOBX) juga berhasil mencatat pertumbuhan laba komprehensif yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk menjadi US$4,68 juta pada triwulan III 2021. Jika dibandingkan periode sama tahun 2020, KOBX merugi US$5,47 juta.

Naiknya pendapatan menjadi penopang pencapaian laba tersebut. KOBX membukukan lonjakan pendapatan sebesar 154 persen menjadi US$89,48 juta pada triwulan III 2021, dibandingkan periode sama tahun 2020 sebesar US$35,20 juta.

Menurut Wakil Presiden Direktur KOBX, Martio, pendapatan ditopang pertumbuhan penjualan segmen unit alat berat sebesar 250 persen menjadi US$68,55 juta pada triwulan III 2021. Segmen ini merupakan kontributor terbesar, yakni 76,61 persen terhadap total pendapatan KOBX.

Segmen suku cadang membukukan pendapatan US$11,55 juta pada triwulan III 2021, tumbuh 32,57 persen ketimbang periode sama tahun 2020 sebesar US$8,72 juta. Segmen ini berkontribusi terbesar kedua yaitu 12,91 persen terhadap pendapatan KOBX.

Segmen terbesar ketiga adalah jasa perbaikan dan kontraktor pertambangan. Segmen ini meraih US$6,1 juta, atau berkontribusi 6,80 persen terhadap pendapatan KOBX. Segmen jasa perbaikan dan kontraktor pertambangan ini tumbuh sekitar 89 persen, dari US$3,22 juta pada triwulan III 2020.

PT Intraco Penta Tbk merupakan dealer alat berat merek LiuGong di Indonesia. Foto: LiuGong

Adapun emiten alat berat PT Intraco Penta Tbk (INTA) belum beruntung seperti UNTR, HEXA dan KOBX. INTA masih mencetak rugi sebesar Rp217,6 miliar sampai dengan kuartal III 2021. Walaupun masih rugi, INTA telah berhasil memperkecil angka kerugian dari setahun penuh 2020 yang mencapai sekitar Rp1 triliun.

Pendapatan usaha INTA sampai dengan kuartal III 2021 turun menjadi Rp443,8 miliar, dari periode yang sama tahun 2020 mencapai Rp596,9 mliar. Ke depan, manajemen INTA optimistis bisa mencatat kinerja lebih baik di sektor alat berat.

Head of Finance INTA, Daniel Kusniadi mengatakan posisi keuangan INTA selama lima tahun terakhir menurun. Salah satunya karena pandemi Covid-19 yang masih melanda. Manajemen berharap, kineja INTA tahun ini bisa lebih baik dan mampu menekan kerugian.

Berita Terkait