Equipment APP.
Business Mining Top News

Pencapaian Bisnis Alat Berat pada Triwulan I-2024 di Tengah Melandainya Harga Komoditas

Sepanjang triwulan I-2024, perjalanan industri alat berat berada dalam tekanan seiring rendahnya harga komoditas pertambangan. Para pelaku usaha alat berat pun memasang target kinerja yang realistis hingga akhir 2024.

Truk Scania, salah satu produk andalan PT United Tractors Tbk untuk pengangkutan material tambang (Foto: EI)

Pelemahan harga komoditas pertambangan seperti batu bara dan nikel cukup memengaruhi realisasi produksi dan penjualan alat berat di Indonesia. Banyak pelaku usaha tambang mengurangi pembelian alat berat baru ketika harga komoditas kurang bersahabat bagi kelangsungan bisnis mereka.

Meski begitu, sektor pertambangan diperkirakan masih menjadi kontributor utama penjualan alat berat nasional. Terlepas dari turunnya harga komoditas, aktivitas produksi pada dasarnya tetap berjalan. Alhasil, kebutuhan terhadap alat berat baru di sektor tambang tetap ada, walau belum tentu setinggi periode sebelumnya. Di lain sisi, persaingan di pasar alat berat juga diyakini akan semakin ketat. Tantangan ini seiring kehadiran pemain-pemain baru di industri tersebut.

Salah satu distributor alat berat, PT United Tractors Tbk (UNTR), misalnya, membukukan tren penjualan alat berat yang kurang memuaskan. Sepanjang tahun 2024, hingga periode Maret 2024 (triwulan I-2024), penjualan alat berat UNTR turun.

UNTR mencatatkan penjualan sebanyak 1.126 unit alat berat merek Komatsu hingga akhir Maret tahun 2024. Sejak awal tahun hingga saat ini, UNTR menjual sebanyak 1.126 unit Komatsu. Penjualan ini turun 37,1% dibandingkan periode yang sama tahun 2023 sebanyak 1.791 unit. Ini disebabkan oleh penurunan penjualan di sektor kehutanan, konstruksi, dan pertambangan.

Berdasarkan laporan bulanan, dikutip Senin (28/4/2024), penjualan alat berat ke sektor pertambangan mendominasi hingga akhir Maret 2024, yakni sebesar 69% dari total penjualan. Kemudian disusul penjualan ke sektor konstruksi 13%, sektor perkebunan 10% penjualan, dan sektor kehutanan sebesar 8% penjualan. Sementara itu, market share Komatsu secara year to date pada Maret 2024 adalah sebesar 29%.

Adapun penjualan Komatsu pada bulan Maret saja mencapai 301 unit. Penjualan tersebut sebesar 72% berasal dari sektor pertambangan, 15% dari sektor konstruksi, 11% sektor perkebunan, dan 2% sektor kehutanan.

Dari segmen produksi batu bara, UNTR melalui Pamapersada Nusantara (PAMA) memproduksi 32,3 juta ton pada Januari-Maret 2024, lebih tinggi 20,97% dari capaian pada periode yang sama tahun 2023 sebanyak 26,7 juta ton.

Overburden Removal (OB) PAMA juga meningkat 16,81% di periode tiga bulan, yakni mencapai 286,3 juta bank cubic meter (bcm), dari sebelumnya 245,1 juta bcm. Pada Maret 2024, rata-rata stripping ratio sebesar 8,8 kali, turun dari bulan sebelumnya 8,9 kali.

Total produksi batu bara sebanyak 11,7 juta ton pada Maret 2024, naik 10,38% dari Februari sebanyak 10,6 juta ton, dan volume OB juga naik 8,36% menjadi 102,4 juta bcm di bulan Maret 2024, dari 94,5 juta bcm pada Februari 2024.

Berikut, penjualan batu bara UNTR melalui Tuah Turangga Agung (TTA) pada bulan Maret 2024 sebanyak 1,29 juta ton. Jumlah ini lebih tinggi 30,96% dari tahun sebelumnya sebanyak 985.000 ton. Secara year to date penjualan batu bara TTA sebanyak 3,96 juta ton. Volume penjualan ini naik 33,33% dibandingkan periode tiga bulan tahun 2023 sebanyak 2,97 juta ton.

Pada Maret 2024, penjualan batu bara mencapai 1,29 juta ton, dengan perincian batu bara thermal 1,04 juta ton dan batu bara metalurgi 251.000 ton. Penjualan batu bara tersebut turun 7,19% dari Februari sebanyak 1,39 juta ton.

Sementara itu, unit usaha UNTR di bidang pertambangan emas di Martabe, Sumatera Utara, PT Agincourt Resources mencatatkan penjualan emas mencapai 49.404 troy ons per tiga bulan 2024, turun 15,99% dari periode yang sama tahun 2023 sebanyak 58,806 troy ons.

Tidak itu saja. UNTR juga mulai mencatatkan hasil dari tambang nikel Stargate pada Maret tahun 2024. Pada tiga bulan 2024, UNTR mencatatkan penjualan sebanyak 382.543 wet metric tons (wmt) nikel. Penjualan Stargate pada bulan Maret saja mencapai 220 ribu wmt. Ini  terbagi atas 101 ribu wmt limonite dan 119 ribu wmt penjualan samprolite.

Dari sisi kinerja keuangan, pendapatan dan laba UNTR sama-sama mengalami penurunan di triwulan I-2024. UNTR membukukan pendapatan bersih konsolidasian Rp32,4 triliun pada triwulan I-2024. Angka ini turun 7% dibandingkan periode yang sama tahun 2023 sebesar Rp34,8 triliun. Penurunan pendapatan tersebut, disebabkan oleh penurunan kinerja dari segmen mesin konstruksi dan pertambangan batu bara.

Baca Juga :  Seretnya Pendapatan dan Belanja Negara di Tengah Pandemi

UNTR mencatatkan laba setelah pajak yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk Rp4,5 triliun di tiga bulan pertama 2024. Jumlah laba bersih tersebut menyusut 15% dari Rp5,3 triliun pada triwulan I-2023.

Menurut manajemen UNTR, dalam keterangan resmi, dikutip Jumat (10/5/2024), penurunan pendapatan, ditambah dengan biaya keuangan yang lebih tinggi dan kerugian selisih kurs menyebabkan penurunan laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk (laba bersih perseroan) sebesar 15%.

Pendapatan UNTR dari penjualan suku cadang dan jasa pemeliharaan alat berat turun 11% menjadi Rp2,6 triliun dari Rp3 triliun. Secara keseluruhan pendapatan unit usaha mesin konstruksi turun 22% menjadi Rp8,3 triliun dibandingkan Rp10,6 triliun pada periode yang sama tahun 2023.

Unit usaha UNTR di bidang kontraktor penambangan dijalankan oleh PAMA. Sampai dengan triwulan pertama tahun 2024, unit usaha kontraktor penambangan membukukan pendapatan bersih sebesar Rp13,3 triliun, naik 14% dari Rp11,7 triliun pada periode yang sama tahun 2023.

Unit usaha UNTR di bidang pertambangan batu bara dijalankan oleh TTA. Total penjualan batu bara sampai triwulan pertama tahun 2024 mencapai 4 juta ton (termasuk 0,8 juta ton batu bara metalurgi), meningkat 33% dibandingkan triwulan pertama tahun 2023. Pendapatan bersih unit usaha pertambangan batu bara turun sebesar 21% dibandingkan periode yang sama di tahun 2023 dari Rp10,5 triliun menjadi Rp8,3 triliun karena menurunnya rata-rata harga jual batu bara.

Unit usaha pertambangan emas dan mineral lainnya mencatatkan peningkatan pendapatan sebesar 8% menjadi Rp1,8 triliun, yang sebagian besar disebabkan oleh peningkatan harga jual rata-rata emas sebesar 14% (dari US$1.896 per ons menjadi US$2.165 per ons).

Anak usaha UNTR yang bergerak di bidang pertambangan emas, PT Agincourt Resources mengoperasikan tambang emas Martabe yang terletak di Sumatera Utara. Sampai dengan bulan Maret 2024, total penjualan setara emas dari Martabe mencapai 49 ribu ons, turun 16% dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2023 sebesar 59 ribu ons. Ini karena pemerintah baru saja menyetujui Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) pertambangan tahunan pada akhir triwulan pertama 2024. Penjualan emas diperkirakan akan kembali normal pada triwulan mendatang.

Adapun segmen usaha pertambangan nikel UNTR terdiri dari PT Stargate Pasific Resources (SPR) yang baru saja diakuisisi dengan kepemilikan mayoritas pada bulan Desember 2023 dan Nickel Industries Limited (NIC) yang diakuisisi pada bulan September 2023 dengan kepemilikan sebesar 19,99%.

SPR mengoperasikan tambang nikel di Konawe Utara, Sulawesi Tenggara. SPR mencatatkan penjualan bijih nikel sebanyak 383 ribu wet metric ton (wmt) pada triwulan pertama tahun 2024, yang terdiri dari 203 ribu wmt saprolit dan 180 ribu wmt limonit.

NIC merupakan perusahaan pertambangan dan pengolahan nikel terintegrasi dengan aset utama yang berlokasi di Indonesia. Perseroan mencatat equity income dari NIC yang tertunda, karena adanya perbedaan periode pelaporan kinerja. NIC melaporkan penjualan 34 ribu ton logam nikel pada kuartal terakhir tahun 2023, yang terdiri dari 29 ribu ton logam nikel dalam bentuk NPI dan 5 ribu ton dalam bentuk nikel matte.

Sementara itu, PT Acset Indonusa Tbk (ACST) adalah perusahaan publik di bidang jasa konstruksi yang sahamnya sebanyak 87,7% dimiliki oleh PT Karya Supra Perkasa (KSP), anak usaha UNTR. Sampai dengan triwulan pertama tahun 2024, unit usaha industri konstruksi membukukan pendapatan bersih sebesar Rp535 miliar, naik 55% dibandingkan Rp345 miliar pada triwulan pertama 2023. Acset membukukan rugi bersih sebesar Rp42 miliar, lebih tinggi 40% dibandingkan rugi bersih sebesar Rp30 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Berikut, di segmen usaha energi, sejalan dengan strategi pengembangan usaha di sektor energi yang ramah lingkungan, UNTR telah menetapkan bisnis Energi Baru dan Terbarukan (EBT) sebagai salah satu strategi transisi perseroan.

Baca Juga :  Sinotruk, Market Leader Truck Tambang Indonesia

Untuk mempercepat pengembangan EBT, pada akhir tahun 2021 seluruh bisnis energi dalam grup dikonsolidasikan melalui PT Energia Prima Nusantara (EPN). Sampai dengan bulan Maret 2024, EPN telah memasang Rooftop Solar PV sebesar 1,9 megawatt peak (MWp) sehingga secara kumulatif Rooftop Solar PV terpasang sejak tahun 2018 hingga triwulan pertama 2024 mencapai 17 MWp.

EPN saat ini mengoperasikan dua Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM) yaitu PLTM Kalipelus berkapasitas 0,5 MW di Jawa Tengah dan PLTM Besai Kemu berkapasitas 7 MW di Lampung, Sumatra yang mulai beroperasi secara komersial pada Januari 2024.

Pada bulan Agustus 2022, UNTR melalui anak usaha melakukan investasi pada PT Arkora Hydro Tbk (Arkora) dengan kepemilikan saham sebesar 31,49%. Arkora saat ini mengoperasikan dua PLTM, yaitu PLTM Cikopo 2 di Jawa Barat dengan kapasitas 7,4 MW dan PLTM Tomasa 10 MW di Sulawesi Selatan.

Arkora juga sedang membangun dua PLTM, yaitu PLTM Koro Yaentu berkapasitas 10 MW dan PLTM Kukusan 2 berkapasitas 5,4 MW yang masing-masing diperkirakan akan beroperasi pada tahun 2023 dan 2025. Ketika kedua proyek ini mulai beroperasi, Arkora akan memiliki pembangkit listrik dengan total kapasitas 33 MW. Pada bulan Desember 2023, Arkora menandatangani Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik dengan PLN untuk pengembangan proyek PLTM Tomini berkapasitas 10 MW yang berlokasi di Sulawesi Selatan.

UNTR secara aktif melakukan studi terkait proyek energi terbarukan lainnya seperti geothermal, solar, dan waste-to-energy. Proyek-proyek ini konsisten dengan strategi perseroan untuk meningkatkan kompetensi di berbagai potensi energi terbarukan dalam rangka mencapai portofolio bisnis yang berkelanjutan.

Sebagai informasi, pada 03 Januari 2024, UNTR melalui EPN telah melakukan pengambilbagian 49,6% saham PT Supreme Energy Sriwijaya (SES) senilai US$51,9 juta. SES adalah pemegang 25,2% saham PT Supreme Energy Rantau Dedap (SERD) yang memiliki proyek panas bumi yang telah beroperasi di Sumatera Selatan dengan kapasitas eksisting sebesar 2 x 49 MW.

Kemudian, pada 15 Maret 2024, Perseroan melalui EPN mengambilbagian 20,2% saham SERD senilai US$80,7 juta. Setelah transaksi ini, total kepemilikan saham langsung dan tidak langsung EPN di SERD menjadi 32,7%.

Meski kinerja UNTR kurang menggembirakan sepanjang triwulan I-2024, tetap saja ada kabar gembira untuk para pemegang sahamnya. UNTR akan membagikan dividen pada bulan Mei 2024.

Emiten Grup Astra ini akan membagikan dividen sebesar Rp1.569 kepada pemegang sahamnya. UNTR tercatat telah membagikan dividen interim sebesar Rp701 per saham pada Oktober 2023. Dengan demikian, total dividen UNTR untuk tahun buku 2023 mencapai Rp2.270 per saham. “RUPST menyetujui pembagian dividen sebesar Rp1.569 per saham atau Rp5,7 triliun,” kata Sara K. Loebis, Sekretaris Perusahaan UNTR.

Sebelumnya, UNTR telah membagikan dividen interim sebesar Rp701 per saham. Sehingga sisanya sebesar Rp1.569 per saham akan dibayarkan sebagai dividen final.

Sara mengatakan, dividen final tersebut akan dibayarkan pada 22 Mei 2024 kepada para pemegang saham. Dengan jumlah dividen tersebut, maka jumlah seluruh dividen UNTR adalah Rp8,2 triliun, dengan dividen payout ratio sebesar 39,8%. Jumlah ini turun dibandingkan tahun buku 2022 yang sebesar Rp7.003 per saham dengan dividen payout ratio sebesar 121%.

Perlu dicatat, tahun buku 2022 merupakan pertama kalinya UNTR membagikan dividen dengan payout ratio hingga melebihi 100%. Sementara itu, berdasarkan kinerjanya UNTR mencetak peningkatan penjualan, tetapi dengan laba bersihnya turun 2% menjadi Rp20,6 triliun sepanjang tahun 2023.

Dalam laporan keuangannya, UNTR mencatatkan pendapatan bersih sebesar Rp128,5 triliun. Pendapatan ini meningkat 4,03% dibandingkan periode 2022 sebesar Rp123,6 triliun. Manajemen UNTR menuturkan kontribusi terbesar pendapatan UNTR diperoleh dari kontraktor penambangan dengan penghasilan sebesar Rp53,9 triliun. Kontributor terbesar kedua terhadap pendapatan UNTR adalah penjualan mesin konstruksi senilai Rp36,6 triliun, lalu pertambangan batu bara Rp30,5 triliun, dan pertambangan emas dan mineral lainnya Rp5,2 triliun.

Hanya saja, laba bersih UNTR turun sebesar 2% pada 2023 menjadi Rp20,6 triliun, dari Rp21 triliun di 2022. Manajemen menjelaskan penurunan laba bersih ini dikarenakan adanya kenaikan biaya keuangan dan kerugian nilai tukar mata uang asing.

Baca Juga :  Ini Solusi Terbaik Volvo Group di Industri Tambang

Pendapatan Kobexindo naik

PT Kobexindo Tractors Tbk melakukan diversifikasi produk dengan mengageni brand baru. Salah satu produk baru yang mulai dipasarkannya adalah Shantui (Foto: EI)

Bagaimana perjalanan bisnis PT Kobexindo Tractors Tbk (KOBX)? Emiten distributor alat berat dan jasa kontraktor pertambangan ini mampu mencatat pendapatan bersih sebesar Rp531,94 miliar per 31 Maret 2024. Pencapaian ini naik 1,3% jika dibandingkan pendapatan bersih KOBX sebesar Rp525,11 miliar per 31 Maret 2023.

Menurut laporan keuangan konsolidasian KOBX untuk tahun yang berakhir pada 31 Maret 2024, dikutip Senin (6/5/2024), pendapatan bersih KOBX ini berasal dari penjualan unit alat berat Rp345,29 miliar, turun 5,96% dari Rp367,19 miliar. Penjualan suku cadang meningkat 47,31% menjadi Rp101,85 miliar, dari Rp69,14 miliar. Pendapatan jasa perbaikan dan kontraktor pertambangan sebesar Rp52,31 miliar, turun 14,90% dari Rp61,47 miliar. Pendapatan sewa alat berat naik 20,51% menjadi Rp29,91 miliar, dari Rp24,82 miliar, dan sewa bangunan naik 3,63% dari Rp2,48 miliar menjadi Rp2,57 miliar.

Beban pokok pendapatan KOBX berhasil ditekan turun hingga 2,20% dari Rp440,51 miliar menjadi Rp430,82 miliar per 31 Maret 2024. Hal ini mendorong laba kotor KOBX tumbuh sebesar 19,52% menjadi Rp101,11 miliar dari Rp84,60 miliar per 31 Maret 2023.

Selain itu, beban usaha juga turun 19,19% menjadi Rp67,28 miliar, dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp83,26 miliar. Akan tetapi, KOBX mencatat beban operasi lainnya-bersih sebesar Rp37,46 miliar per 31 Maret 2024. Hal ini menyebabkan KOBX mencatat rugi usaha Rp3,63 miliar per 31 Maret 2024. Padahal di periode yang sama tahun 2023, KOBX mencatat laba usaha Rp71,02 miliar.

Selain itu, beban keuangan KOBX meningkat signifikan sebesar 340,46% dari Rp7,76 miliar menjadi Rp34,18 miliar per 31 Maret 2024. Hal ini menyebabkan KOBX mencatat rugi sebelum pajak sebesar Rp37,72 miliar per 31 Maret 2024. Kondisi ini berbanding terbalik dibandingkan periode yang sama tahun 2023, dimana KOBX mencatat laba sebelum pajak sebesar Rp65,87 miliar.

Alhasil, rugi bersih tahun berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp41,91 miliar (Rp18,44 per saham) per 31 Maret 2024. Di periode yang sama tahun 2023, KOBX berhasil membukukan laba tahun berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp63,46 miliar (Rp27,93 per saham).

Kemudian, total aset KOBX per 31 Maret 2024 mencapai Rp3,55 triliun, naik 1,43% dari Rp3,50 triliun per 31 Desember 2023. Sedangkan total ekuitas KOBX turun 10,08% dari Rp480,03 miliar per 31 Desember 2023 menjadi Rp431,65 miliar per 31 Maret 2024. Total libilitas mengalami kenaikan sebesar 2,65% dari Rp3,02 triliun per 31 Desember 2023 menjadi Rp3,10 triliun per 31 Maret 2024.

Direktur Utama PT Kobexindo Tractors Tbk, Andry B. Limawan, dalam keterangan resminya pada Senin (6/5/2024), mengatakan strategi Perseroan untuk terus memperkuat lini produk unggulan non tambang membuahkan hasil. Tahun 2023 lalu, perusahaan ini menambah lini produk baru dari Develon berupa excavator kelas 5-20 ton yang biasa digunakan untuk segmen infrastruktur atau konstruksi.

KOBEX berharap penjualan alat berat non-tambang/batu bara secara bertahap dapat terus bertumbuh dan mampu mengimbangi penjualan alat-alat tambang batu bara. KOBEX saat ini memiliki empat segmen usaha utama, yakni penjualan unit alat berat, penjualan suku cadang, jasa perbaikan dan kontraktor pertambangan, serta sewa (alat berat dan bangunan).

PT Kobexindo Tractors Tbk melakukan diversifikasi produk dalam beberapa tahun terakhir. Selain alat berat merek Develon (sebelumnya Doosan), perusahaan tersebut mengageni produk-produk Shantui, yang menyasar pasar infrastruktur dan pertambangan. Adapun tipe-tipe produk yang dipasarkan terdiri dari bulldozer, wheel loader, mini excavator, dan motor grader. Shantui dikenal memiliki basis produksi bulldozer terbesar di dunia, dan volume produksi serta angka penjualan produknya termasuk yang tertinggi di dunia. EI

Berita Terkait

Our website uses cookies to improve your experience. Don't worry you are in safe browsing with us. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

Privacy & Cookies Policy