27.2 C
Jakarta
6 Mar, 2021.

Proyek-proyek BRI di ASEAN Harus Fokus pada Keberlanjutan

Pelaksanaan proyek-proyek Belt and Road Initiative (BRI) di ASEAN harus lebih fokus terhadap keberlanjutan, menurut hasil kajian bersama UOB-HKUST IEMS.

Lebih dari 120 negara sudah menandatangani kesepakatan kerja sama dengan China (Foto: ABC News)

Sebuah riset bertajuk “The Belt and Road Initiative in ASEAN” yang dilakukan UOB bersama dengan The Hong Kong University of Science and Technology’s (HKUST) Institute for Emerging Market Studies (IEMS) merekomendasikan perhatian lebih besar pada masalah keberlanjutan dalam pelaksanaan berbagai proyek Belt and Road Initiative (BRI) di ASEAN.

Riset tersebut juga menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan Tiongkok mulai menyadari pentingnya memanfaatkan keberagaman pasar di kawasan ASEAN serta perlunya kolaborasi untuk meraih kesuksesan yang berkelanjutan.

Riset ini dilakukan dari bulan Oktober 2018 hingga Oktober 2020 melalui riset desktop yang komprehensif dan melibatkan lebih dari 300 wawancara mendalam dengan pejabat pemerintah, perwakilan asosiasi bisnis, pengusaha, anggota kelompok masyarakat sipil, serta pakar akademisi dan konsultasi.

Dalam riset ini tim meneliti perusahaan-perusahaan Tiongkok yang melakukan investasi BRI di enam negara utama ASEAN yang sedang berkembang: Indonesia, Malaysia, Myanmar, Filipina, Thailand dan Vietnam. Tujuannya adalah memberikan pemahaman mengenai faktor politik, kelembagaan dan lingkungan yang mempengaruhi desain dan implementasi proyek BRI, potensi investasi BRI untuk memacu investasi dari sektor swasta serta peluang investasi langsung asing (FDI) di ASEAN.

Sebagai bagian dari BRI, banyak perusahaan milik negara dan swasta di Tiongkok yang telah melaksanakan proyek infrastruktur dan FDI berskala besar di negara-negara tersebut guna mempromosikan konektivitas yang lebih baik antara Tiongkok dan ASEAN.

Pemerintah Tiongkok juga telah menyadari adanya kebutuhan untuk menempatkan prioritas yang lebih besar dalam mempromosikan proyek-proyek BRI yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Mereka diminta mengambil langkah-langkah proaktif untuk memastikan proyek-proyek mereka mematuhi aturan-aturan yang berlaku seperti standar lingkungan dan undang-undang ketenagakerjaan. Hal ini menyusul adanya kritik yang ditujukan kepada proyek-proyek yang tidak dapat mempertimbangkan masalah sosial dan lingkungan dengan baik.

“Riset ini telah menunjukkan bahwa perusahaan Tiongkok kian menyadari pentingnya standar lingkungan, sosial dan tata kelola yang baik untuk menciptakan dampak yang lebih positif dan berkelanjutan melalui investasi mereka. Adalah hal yang menggembirakan mengetahui bahwa beberapa perusahaan tengah berupaya mengatasi masalah-masalah yang ada dan mendorong terciptanya lebih banyak manfaat bagi komunitas setempat di ASEAN,” kata Christine Ip, CEO – Greater China, UOB, dalam rilis yang diterima Equipment Indonesia, Selasa (1/12). (Informasi selengkapnya dapat dibaca pada Majalah Equipment Indonesia edisi Februari 2021)

 

Related posts