
Penurunan harga komoditas global berimbas pada merosotnya kinerja keuangan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM). Meski harga emas mengalami kenaikan yang tajam di tengah pandemi Covid-19, tetapi hal itu tak begitu menolong kinerja perusahaan tambang BUMN ini. Penjualan feronikel yang merupakan kontributor terbesar kedua untuk Antam turun cukup dalam.
Total pendapatan Antam pada kuartal pertama 2020 adalah Rp5,2 triliun, turun 16,35% dibanding Rp6,22 triliun pada kuartal pertama 2019 lalu. Pendapatan dari penjualan emas yang merupakan kontributor terbesar (76,38%) pendapatan Antam, naik 0,76% menjadi Rp3,97 triliun. Kinerja penjualan emas ini lebih baik dibandingkan kuartal pertama 2019 lalu yang turun sebesar 2,79%.
Meski penjualan emas naik, tetapi penjualan feronikel turun 21,15% menjadi Rp965,95 miliar dari sebelumnya pada kuartal pertama 2019 sebesar Rp1,23 triliun. Kontribusi feronikel pada pendapatan Antam adalah sebesar 18,57%.
Dari sisi pasar, penjualan ekspor yang berkontribusi sebesar 26,36%, pada kuartal pertama 2020 ini turun sangat dalam yaitu 63,66% menjadi Rp1,37 triliun.
“Seiring dengan membaiknya kondisi perekonomian global serta tumbuhnya tingkat permintaan komoditas tambang pada triwulan kedua tahun 2020, Antam berupaya untuk meningkatkan capaian produksi dan penjualan komoditas utama perusahaan,” kata Kunto Hendrapawoko, Sekretaris Perusahaan Antam dalam keterangan tertulis, Sabtu (27/6).
Pada kuartal pertama 2020, produksi feronikel Antam mencapai 6.315 ton nikel dalam feronikel (TNi). Sedangkan penjualannya mencapai 6.379 TNi.
Untuk komoditas emas, pada kuartal pertama total produksi mencapai 446 kg (14.339 troy oz) dan penjualan sebesar 5.097 kg (163.872 troy oz).
Tak hanya pendapatan yang turun, pada kuartal pertama 2020 ini Antam juga menderita rugi bersih akibat rugi selisih kurs. Total rugi bersih Antam pada kuartal pertama 2020 adalah sebesar Rp281,84 miliar. Pada periode yang sama tahun lalu masih membukukan laba bersih sebesar Rp176,1 miliar.
Kerugian ini terutama terjadi karena peningkatan beban keuangan menjadi Rp1,19 triliun dari hanya Rp17,02 miliar pada kuartal pertama 2019 lalu. Peningkatan beban keuangan ini terutama terjadi karena rugi selisih kurs dari pinjaman bank jangka pendek dan pinjaman investasi. Total rugi selisih kurs pada kuartal pertama sebesar Rp1,06 triliun dari hanya Rp108,38 miliar pada kuartal pertama 2019 lalu.
Antam optimis ke depan kinerja keuangannya akan kembali membaik. Dengan posisi sumber daya nikel yang mencapai 1,36 miliar wet metric ton (wmt) dan bauksit sebesar 597 juta wmt, dapat menunjkang rencana pengembangan bisnis dan operasi jangka panjang perusahaan. “Selain itu, dengan ditetapkannya harga patokan penjualan mineral logam di dalam negeri oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral akan memberikan tingkat harga jual mineral dalam negeri yang kompetitif dan hal tersebut memberikan peluang bagi Antam untuk meningkatkan jangkauan pemasaran biji nikel di dalam negeri,” jelas Kunto.
Saat ini Antam juga sedang menyelesaikan tahap konstruksi proyek pembangunan pabrik feroniel di Halmahera Timur, Maluku Utara yang memiliki kapasitas terpasang 13.500 ton nikel dalam feronikel per tahun. Selain itu, Antam juga sedang melakukan hilirisasi bauksit melalui proyek pembangunan pabrik Smelter Grade Alumina Reinery (SGAR) di Mempawah, Kalimantan Barat. Proyek ini dikembangkan bersama dengan PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) dengan kapasitas tahap pertama sebesar 1 juta ton SGAR.

















