Jakarta, Equipment Indonesia – Tahun 2026 menghadirkan gambaran yang rumit. Stabilitas perekonomian global dihadapkan pada berbagai tantangan seperti ketidakpastian geopolitik, perlambatan perdagangan dunia, suku bunga tinggi di negara-negara maju, hingga ketegangan di berbagai kawasan. Rentetan persoalan global itu akan dengan cepat berdampak terhadap perekonomian Indonesia karena dunia semakin terhubung dan saling bergantung. Tidak heran sejumlah kalangan memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global pada tahun ini akan mengalami penurunan karena perekonomian di berbagai belahan dunia semakin tertekan.
Kondisi perekonomian yang semakin tertekan itu tidak kondusif untuk pasar alat berat. Perusahaan-perusahaan kontraktor maupun jasa rental tidak akan berani investasi unit-unit baru selama ketidakpastian terus menghantui bisnis mereka. Perbankan dan jasa pembiayaan pun akan sangat selektif dalam mencari mitra-mitra bisnis. Bagaimana distributor (dealer) alat berat Indonesia menghadapi kondisi yang pelik itu? Apakah masih ada peluang untuk meningkatkan penjualan pada tahun ini?
Majalah Equipment Indonesia, dalam edisi awal tahun ini, menggali pandangan beberapa distributor (dealer) mengenai prospek bisnis alat berat pada 2026, baik dari produksi maupun distribusi (penjualan). Himpunan Industri Alat Berat Indonesia (HINABI) memproyeksikan pertumbuhan produksi alat berat yang cukup moderat pada 2026 ini, yakni sekitar 9000-9500 unit, atau naik sekitar 5%-10% dari capaian tahun 2025 sebanyak 8693 units. Adapun produksi alat berat HINABI pada tahun 2025 terdiri dari Hydraulic Excavator (7398 unit), Bulldozer (683 unit), Dump Truck (416 unit), Compactor, Pneumatic Tire Roller dan Road Stabilizer (185 unit), dan Grader (11 unit).
Ketua Umum HINABI, Widayat Raharjo, menyebut beberapa faktor yang menggerakkan pertumbuhan produksi alat berat Indonesia pada tahun 2026 ini, yaitu A. pertambangan (batubara, nikel, emas dan mineral lainnya); perkebunan (program biodiesel dan food estate; konstruksi (Proyek Strategis Nasional & rehabilitasi daerah bencana); serta pasar ekspor.

Dari sisi penjualan, Perhimpunan Agen Tunggal Alat Berat Indonesia (PAABI) mengakui bahwa secara umum, pada tahun 2026, pasar alat berat masih berada dalam tekanan. Namun, pasar diperkirakan akan tetap tumbuh dan penjualan alat berat akan tumbuh moderat pada kisaran 5%-10% dibandingkan tahun sebelumnya (2025), sebagaimana disampaikan Ketua IV PAABI, Immawan Priyambudi (Lihat Majalah Equipment Indonesia edisi Desember 2025).
Hingga akhir tahun 2025, menurut PAABI, penjualan alat berat baru diproyeksikan akan mencapai sekitar 23.000 unit. Kalau dibandingkan dengan capaian tahun 2024, volume penjualan alat berat tahun 2025 diperkirakan turun sekitar 5%. Setelah mengalami kontraksi pada tahun 2025, diperkirakan pada tahun ini permintaan alat berat akan naik, meski level pertumbuhannya hanya moderat. Optimisme PAABI itu merujuk pada beberapa proyek strategis pemerintah di sektor infrastruktur dan food estate, di samping permintaan yang masih cukup tinggi dari sektor pertambangan. Mudah-mudahan semua ekspektasi itu dapat terealisasi pada tahun 2026 ini.@




















