30.7 C
Jakarta
Feb 18, 2020.
Image default

Mengapa JCB Disebut Pelopor Teknologi Backhoe Loader?

Airindo Sakti adalah dealer mesin-mesin JCB untuk wilayah Indonesia Selatan yang meliputi Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat hingga Nusa Tenggara Timur.

Salah satu jenis alat berat yang aplikasinya lintas sektoral adalah backhoe loader. Sesuai dengan namanya, backhoe loader merupakan peralatan konstruksi yang pemakaiannya fleksible dan unik. Dirancang untuk memiliki dua attachment, satu di bagian depan dan yang satunya lagi di bagian punggung, backhoe loader bisa menggali parit dan selokan juga memuati truk dengan menggunakan loader-nya. Selain itu, alat ini bisa melakukan pekerjaan hoisting, asalkan tidak terlalu berat.

Backhoe loader bisa bisa beroperasi pada proyek-proyek konstruksi, di perkebunan, menjadi alat pendukung di pertambangan serta minyak dan gas hingga militer. Kunci keserbagunaannya terletak pada fleksibilitas berbagai attachment yang digunakan untuk bekerja.

Dari sisi pemain, setidaknya ada delapan perusahaan yang menguasai 85% market share segmen produk backhoe loader, di mana JCB menjadi pemimpin pasar global terbesar di dunia, hampir separuhnya (45%) market share dari semua model backhoe loader di dunia yang ada saat ini, diikuti oleh CNH Industrial N.V., dan Catterpilar Inc. Ketiga raksasa ini secara kolektif menguasai pangsa pasar backhoe loader di pasar global. Lima pemain terkemuka lainnya adalah adalah Komatsu Ltd., Deere & Company, Volvo Construction Equipment, Hitachi Construction Machinery Co., Ltd., Terex Corporation (Gehl & Manitou Group).

Penguasaan pasar backhoe loader oleh JCB tidak terlepas dari sejarah backhoe loader itu sendiri. Menurut Fajar Adi Dharma, Asst. Manager PT. Airindo Sakti, dealer JCB untuk wilayah Indonesia Selatan yang meliputi Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat hingga Nusa Tenggara Timur, JCB adalah pionir produk backhoe loader di dunia.

Tahun 1945 JCB berdiri yang berawal dari sebuah garasi kecil di Uttoxeter-Staffordshire, Inggris untuk membuat tipping trailer pertamanya. Fajar menuturkan, ide membuat backhoe loader bermula dari Mr. Joseph Cyril Bamford yang melihat sebuah traktor pertanian yang kemudian menginspirasinya untuk menambahkan attachment berupa backhoe dan loader pada traktor tersebut.

Prototype-nya mulai di perkenalkan ke dunia pada tahun 1953 dan diberi logo JCB seperti yang kita lihat hingga saat ini. Jadi, pertama kali backhoe loader ada di dunia adalah mesin yang sekarang disebut semua orang JCB,” kata Fajar kepada Equipment Indonesia pada sebuah acara pameran di Jakarta beberapa waktu lalu.

Pada pameran berskala internasional ini, JCB memamerkan salah satu varian backhoe loader yang di milikinya, yaitu JCB 3CX ECO Sitemaster. Fajar mengatakan, JCB memiliki varian backhoe loader terlengkap mulai dari JCB 1CX, JCB 2CX, JCB 3CX, JCB 4CX dan JCB 5CX. Dimensi ukuran dan power yang dihasilkan tersedia mulai dari yang kecil hingga yang paling besar, tergantung pada aplikasi dan kebutuhan customer.

JCB memiliki divisi Research & Development yang sangat baik, sehingga inovasi-inovasi baru teknologi backhoe loader juga dirintis perusahaan alat berat/konstruksi asal Inggris ini. Misalnya, JCB menjadi pionir backhoe loader model side shift chassis. Side shift chassis mengunakan model stabilizer yang tegak lurus (vertikal), di mana bagian king post (titik poros boom) pada bagian backhoe-nya bisa digeser ke kanan dan ke kiri mengikuti lebar unit. Allhasil, posisi kerja unit bisa lebih mendekat ke samping dengan alur kerja yang lebih fleksibel hingga ke titik penggalian. Model ini cocok di pergunakan pada area kerja yang sempit.

Model backhoe loader yang lainnya adalah center mount chassis, yaitu king post (titik poros boom) pada bagian backhoe statis di tengah. Artinya, tidak bisa di geser ke kanan dan ke kiri tetapi terkunci di satu poros. Model center mount chassis lebih efektif untuk pekerjaan pengangkatan material (lifting) pada bagian backhoe-nya, karena bentuk stabilizer (horizontal) yang lebih stabil serta bisa disesuaikan dengan bentuk permukaan tanah. Model ini cocok dipergunakan pada area kerja yang luas.

Inovasi lain yang dilakukan oleh JCB pada teknologi backhoe loader adalah yang pertama kali mengenalkan teknologi 4WD, All Wheel Steering, Power Shift Transmission, Torque Converter Drive, Lock Up Torque Converter, Servo Controls, Powerslide Excavator, Telescopic Extending Dipper, Shovel yang terintegrasi dengan 6 in 1 Bucket dan Forks.

Keunggulan backhoe loader JCB lainnya, menurut Fajar, adalah komponen-komponen utama dibuat sendiri oleh pabrikan JCB, mulai dari engine, transmisi, axle, brake, cylinder, arm dan boom hingga cabin. Selain itu, berbagai attachment juga dibuat oleh JCB sendiri.

“Karena komponen-komponen utama dibuat sendiri, maka kinerja unit akan maksimal dan bila terjadi kerusakan akan lebih mudah dan cepat penanganannya. Customer membuat klaim hanya ke satu merk dan dealer, yaitu JCB dan PT. Airindo Sakti,” ujarnya.

Kelebihan backhoe loader JCB 3CX ECO Sitemaster lainnya, Fajar menyebutkan, adalah penggunaan power shift transmission (semi automatic). Sementara backhoe loader dari brand-brand lain masih menggunakan power shuttle transmission. “Kami sudah menggunakan power shift transmission. Power shift transmission itu lebih cocok dan banyak dipakai pada aplikasi simultan maju dan mundur seperti loading dan un-loding dengan frekuensi yang tinggi, mengadopsi cara kerja unit wheel loader.  Power shift transmission itu memang yang paling tepat,” ungkapnya meyakinkan.

Dari sisi konsumsi bahan bakar, backhoe loader JCB terbilang sangat irit. Dia mencontohkan model 3CX ECO Sitemaster yang ditampilkan selama acara pameran ini. Pemakaian rata-rata bahan bakarnya hanya sekitar 6  hingga 7,5 liter per jam, sedangkan yang dipergunakan adalah mesin mekanikal bukan elektronik (common rail). Kenapa hal itu bisa terjadi? Menurut Fajar, karena hanya JCB satu-satunya di dunia yang melakukan inovasi dengan menggunakan sistem hidrolik 3 pompa, yang memungkinkan aliran dan tekanan hidrolik tinggi yang sama (torsi besar), tetapi pada kecepatan engine yang lebih rendah (rpm rendah) dalam aplikasi pekerjaan yang berat. “Ini mengadopsi cara kerja excavator,” ujarnya.

Backhoe loader JCB 3CX ECO Sitemaster pada bagian shovel-nya menggunakan model six in one package, karena ada enam aplikasi standar yang bisa difungsikan oleh alat ini: digging, dozing, grabbing, grading, loading dan back filling. Termasuk telescopic extending dipper untuk jangkauan yang lebih maksimal sudah disematkan pada unit ini. Jika ditambahkan berbagai attachment (opsional) pada bagian backhoe-nya, alat ini akan lebih “rakus” dalam bekerja. Fajar memastikan, backhoe loader jauh lebih multi fungsi dibandingkan excavator sekalipun.

Backhoe loader bisa diaplikasikan untuk berbagai macam konstruksi. Fajar mencontohkan, saat ini di Indonesia perbaikan jalan masih banyak menggunakan excavator kelas 20 ton. Padahal kehadiran alat berat sebesar itu untuk area yang penduduknya padat cukup mengganggu dan berbahaya bagi warga yang melintas serta menambah parah kemacetan lalu lintas. Berbeda dengan di negara-negara seperti Singapura, Malaysia, Thailand dan India, di mana backhoe loader banyak digunakan untuk konstruksi jalan. Alat ini memang lebih lincah dalam melakukan maneuver di jobsite karena posturnya yang compact, serta menggunakan ban karet untuk mobilitas tinggi dan juga multi fungsi.

Meski jarang terlihat dalam pekerjaan konstruksi di perkotaan, populasi backhoe loader di perkebunan kelapa sawit sangat banyak. “Di perkebunan kelapa sawit yang lahannya luas, wajib hukumnya memiliki backhoe loader, karena truk trailer sulit masuk sehingga mobilisasi alat berat tidaklah mudah. Jarak antar kebun juga berjauhan. Backhoe loader cocok untuk berbagai aplikasi pekerjaan di perkebunan sawit karena alat ini bisa berjalan sendiri dengan kecepatan maksimal 40 km per jam,” kata Fajar.

Alasan lain mengapa backhoae loader laris di perkebunan kelapa sawit, dia menambahkan, karena peralatan kerja (attachment) yang dipasang pada bagian depan maupun bagian belakang dapat diganti sesuai dengan kebutuhan customer. Opsi attachment yang beragam itu pula memungkinkan backhoe loader bisa digunakan sebagai mesin pendukung dalam berbagai kegiatan lainnya.

Untuk memudahkan customer dan dealer mengontrol unit-unitnya, JCB secara standar menyematkan fitur sistem telematika sberupa GPS dan JCB LiveLink, yakni perangkat lunak inovatif untuk mengelola mesin-mesin JCB dari jarak jauh secara online dan real time melalui aplikasi mobile atau email. Geofencing lokasi unit berada, tanda peringatan mesin, tanda waktu servis berkala, fungsi analisis pemakaian bahan bakar, dengan semua data tersimpan di pusat dengan aman. Tidak tanggung-tanggung, JCB memberikan layanan tersebut selama 5 tahun, gratis. @

(Kalau Anda membutuhkan Backhoe Loader JCB – khusus untuk wilayah Jawa, Bali hingga Nusa Tenggara – silahkan menghubungi PT Airindo Sakti:  Telp. +62 21 789 0908;  Fax. +62 21 780 1330, 780 3343; Email. inquiry@airindosakti.co.id)

Related posts