Scroll untuk baca artikel
Example 728x250
MiningTop News

Mengenal Lebih Dekat Truck Tambang Hybrid LGMG RTH100

16
×

Mengenal Lebih Dekat Truck Tambang Hybrid LGMG RTH100

Share this article
Example 468x60

Jakarta, Equipment Indonesia – Operas-operasi pertambangan sedang menghadapi beberapa tantangan berat. Perang Amerika Serikat versus Iran yang disusul dengan kemelut berkepanjangan di Selat Hormuz memicu lonjakan minyak. Indonesia sangat merasakan dampaknya karena sekitar 20% hingga 25% kebutuhan minyak mentah nasional diimpor dari kawasan Timur Tengah. Berdasarkan data dari Kementerian ESDM, dikutip dari Kata Data, impor ini menyumbang volume sekitar 27 juta barel dari total 135,33 juta barel minyak mentah yang diimpor sepanjang tahun lalu. Dalam operasi tambang, penggunaan bahan bakar termasuk komponen biaya paling besar. Itu sebabnya, kenaikan harga BBM berpengaruh langsung terhadap beban biaya operasional para kontraktor.

Tantangan berikutnya adalah tuntutan operasi pertambangan ramah lingkungan yang berpusat pada kewajiban menekan kerusakan ekologis dan meminimalisir jejak karbon. Tuntutan ini mencakup penerapan efisiensi energi, pengelolaan limbah tailing yang aman, serta kewajiban reklamasi lahan pasca-tambang untuk mencegah pencemaran dan degradasi lingkungan hidup. Sehubungan dengan itu, Indonesia sudah berkomitmen untuk mencapai target Net Zero Emission pada tahun 2060 atau lebih cepat.

ALTRAK

Untungnya, problem-problem tersebut bukan tanpa solusi. Untuk mengantisipasi gangguan rantai pasok global akibat ketegangan geopolitik (seperti potensi penutupan Selat Hormuz), kini pemerintah mengalihkan sebagian impor minyak dari wilayah Arab Saudi dan Uni Emirat Arab ke negara-negara Afrika dan Amerika Serikat. Tidak cuma itu. pemerintah Indonesia mewajibkan alat-alat berat, truk, genset, mesin-mesin industri hingga kereta api mengkonsumsi campuran Biodiesel B50 per 1 Juli 2026. Program ini ditujukan untuk memperkuat ketahanan dan kemandirian energi nasional.

Terkait dengan isu efisiensi energi dan lingkungan, kini semakin banyak produsen yang menawarkan produk-produk yang sumber tenaga utamanya bukan lagi murni bahan bakar minyak tetapi menggunakan teknologi hybrid dan bertenaga listrik. Mesin hybrid adalah sistem penggerak alat berat yang menggabungkan dua sumber tenaga, yaitu mesin pembakaran internal (biasanya bensin/diesel) dan motor listrik yang ditenagai baterai. Teknologi ini dirancang untuk bekerja secara sinergis guna meningkatkan efisiensi bahan bakar dan mengurangi emisi. Sementara alat berat listrik adalah adalah mesin konstruksi atau pertambangan yang menggunakan motor listrik dan baterai berkapasitas tinggi sebagai sumber tenaga utamanya, menggantikan mesin pembakaran internal (diesel) tradisional.

Baca Juga :  Multicrane Perkasa Perkenalkan Mini Crane Maeda

Salah satu produsen alat berat yang sudah berinovasi dalam mengembangkan alat tambang hybrid adalah LGMG. Untuk pengangkutan batubara, perusahaan ini sudah memasarkan RTH100,  yaitu truk tambang hybrid berbadan lebar kelas 100 Ton. Truk berat ini dirancang untuk beroperasi secara efisien dan ramah lingkungan. RTH100 dilengkapi sistem kemudi hidrolik penuh serta mesin bertenaga tinggi untuk menunjang operasional angkut berat di area pertambangan batubara.

RTH100 memiliki kapasitas muat maksimal (payload) sebesar 100.000 kg (100 Ton); berat kosong (Curb Weight) berkisar antara \(48.000 – 53.000\) kg; dan berat total kendaraan (GVW) sekitar \(148.000 – 153.000\) kg. Truk hybrid ini ditenagai oleh engine bertenaga besar (sekitar 754 HP / 305 kW) yang dipadukan dengan sistem hybrid (hybrid system architecture), dan menggunakan sistem kemudinya hidrolik 100%.

RTH100 sudah melewati masa uji coba langsung di lokasi tambang batubara terbuka milik salah satu pelanggannya. Uji coba ini sekaligus sebagai fase verifikasi sebelum diproduksi secara massal pada pabriknya di China. Selama masa uji coba itu, berkat efisiensi bahan bakar yang tinggi, waktu operasional yang sangat baik, dan kinerja yang stabil, RTH100 mendapatkan pengakuan dan disukai oleh klien-klien lokal.

Menurut LGMG, truk hybrid RTH100 dikembangkan dengan sangat teliti selama dua tahun, dan diuji secara ekstensif di berbagai lokasi pertambangan. Truk ini secara inovatif menggabungkan keunggulan tenaga bahan bakar dan teknologi energi baru, memastikan kapasitas angkut yang besar dan keandalan yang kuat sekaligus secara signifikan mengurangi konsumsi BBM dan emisi, mencapai tingkat penghematan bahan bakar lebih dari 30%. Kehadiran RTH100, kata LGMG, memberikan dukungan kuat untuk pembangunan tambang hijau.

Mesin tambang Hbrid LGMG RTH100. Kredit foto: LGMG

Selain itu, LGMG telah secara independen menguasai teknologi kontrol energi baru inti, termasuk kontrol kendaraan cerdas, kontrol perluasan jangkauan khusus, keselamatan tekanan tinggi, dan kontrol manajemen termal, yang semuanya telah sangat memajukan pengembangan industri. LGMG mengatakan, nilai inti dari truk tambang hybrid RTH100 adalah “andal, aman, dan hemat energi.”

Baca Juga :  Excavator Hydraulic Mining Shovel CAT® 6030

Kehadiran RTH100 di pertambangan Indonesia memberikan solusi yang lebih ramah lingkungan, lebih cerdas, dan lebih berkelanjutan, mempromosikan ekonomi karbon ganda dan mengantarkan era baru operasi pertambangan. Sebagai pemimpin global di industri truk tambang berbadan lebar, LGMG mendorong transformasi dan inovasi teknologi di seluruh industri dengan tekad dan kekuatan. @

Iklan Berca