XCMG (Xuzhou Construction Machinery Group) masuk 10 besar brand alat konstruksi yang paling laris di dunia dan satu-satunya dari China.

Resistensi masyarakat alat berat/konstruksi Indonesia terhadap mesin-mesin made in china secara berangsur-angsur mulai memudar seiring dengan berbagai improvement yang dilakukan kalangan produsen baik yang terkait dengan mutu produk maupun servis (layanan purna jual/ASS).
“Prospek alat-alat konstruksi buatan China di Indonesia semakin menjanjikan, apalagi semakin banyak investor, termasuk kontraktor-kontraktor asal China yang beroperasi di Indonesia,” kata Rachmansyah, Director PT. Gaya Makmur Putra. Anak usaha dari PT. Gaya Makmur Tractors (GMT) ini merupakan distributor alat- alat konstruksi merek XCMG (Xuzhou Construction Machinery Group) di tanah air.

Tren investasi China di Indonesia terus mengalami peningkatan. Badan Koordinasi Penanaman Modal (BPKM) mencatat China masuk dalam tiga besar negara asal Penanaman Modal Asing (PMA) di tanah air. Hingga kuartal I 2017, PMA yang berasal dari negeri tirai bambu itu mencapai 0,6 miliar dollar AS atau 8,2 persen dari total PMA yang masuk ke Indonesia. Investor-investor China masuk ke berbagai sektor bisnis.
Pria yang akrab disapa Cong ini mengungkapkan saat ini mesin-mesin China sangat diuntungkan oleh makin maraknya proyek-proyek infrastruktur yang digalakkan pemerintahan Joko Widodo di berbagai daerah. Kondisi pasar akan semakin menguntungkan lagi kalau industri tambang benar-benar pulih, karena permintaan alat diperkirakan meningkat drastis.
Kehadiran mesin-mesin China memungkinkan para customer punya banyak pilihan alat saat ini. “Kalau sebelumnya pilihan mereka hanya mesin-mesin buatan Jepang, Eropa dan Amerika Serikat, kini ditambah dengan China. Menariknya lagi, harga produk-produk China sangat kompetitif, sementara mutu produk dan servisnya tidak kalah dari alat-alat buatan negara-negara tersebut,” tukasnya berpromosi.
Namun, Cong tidak menampik adanya pandangan stereotype sebagian pemain alat terhadap mesin-mesin China. Mereka masih beranggapan mesin-mesin buatan China kurang bagus, demikian juga servisnya. Pandangan negatif ini bertolak dari pengalaman buruk dengan beberapa produk China yang lain sekitar 15 hingga 20 tahun lalu.
“Kondisinya saat ini sudah banyak berubah. Seiring dengan perjalanan waktu, pabrikan-pabrikan China sudah melakukan banyak perubahan baik dalam hal kualitas produk maupun after sales services (ASS). Faktanya saat ini, produk-produk China tidak kalah bersaing dengan mesin-mesin Jepang, Eropa maupun Amerika, termasuk dalam urusan layanan purna jual,” ungkapnya sembari mencontohkan mesin-mesin XCMG yang sudah 12 tahun hadir di Indonesia dan pasarnya makin kuat karena didukung oleh produk yang bermutu dan servis yang baik. Dengan merujuk pada data Yellow Table terbaru, Cong menegaskan XCMG satu-satunya produk China yang masuk 10 besar produk terlaris di dunia. @



















