Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Banner
BusinessMiningTop News

Multi Traktor Perkasa Tawarkan Solusi Alat Berat Elektrik & Hybrid

×

Multi Traktor Perkasa Tawarkan Solusi Alat Berat Elektrik & Hybrid

Share this article
PT Multi Traktor Perkasa memperkenalkan Yimu Intelligence, yaitu truk tambang hybrid intelligent system dengan engine dan battery. Sumber foto: MTP

Multi Traktor Perkasa menghadirkan ekosistem peralatan tambang yang berfokus pada reduksi biaya, produktivitas tinggi, dan ramah lingkungan.

Jakarta, Equpment Indonesia – Tekanan global untuk transisi energi dan melonjaknya biaya operasional akibat konsumsi dan tingginya harga bahan bakar membuat industri pertambangan dan konstruksi di Indonesia saat ini menghadapi berbagai tantangan. Menghadapi situasi seperti itu, PT Multi Traktor Perkasa (MTP) menawarkan efisiensi operasional melalui lini produk alat berat berteknologi hybrid dan EV (Electric Vehicle).

Sebab, di satu sisi, volatilitas harga bahan bakar diesel terus menggerus margin perusahaan karena biaya bahan bakar minyak selalu mengambil porsi terbesar dalam struktur biaya perusahaan. Seringkali mencapai lebih dari 45%. Di sisi lain, tuntutan global terhadap tata kelola Environmental, Social, and Governance (ESG) dan regulasi dekarbonisasi memaksa perusahaan untuk segera beralih dari ketergantungan pada energi fosil. Dan, transisi menuju energi bersih kini bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah keharusan operasional untuk menjaga daya saing dan keberlanjutan bisnis.

Menjawab tantangan tersebut, MTP mengambil langkah dengan menghadirkan ekosistem peralatan tambang yang berfokus pada reduksi biaya, produktivitas tinggi, dan ramah lingkungan.

“Kita tidak bisa lagi mempertahankan cara-cara lama jika ingin memenangkan kompetisi di era yang sangat mengedepankan cost efficiency. MTP hadir bukan sekadar menjual alat, melainkan memberikan solusi finansial dan operasional. Dengan beralih ke lini produk elektrifikasi dan hybrid yang kami ageni—seperti GIDA, GWM, dan YIMU—pelanggan dapat menekan biaya bahan bakar yang tinggi, dengan produk yang dapat diandalkan. Pada akhirnya perusahaan akan lebih kompetitif untuk dapat bersaing, ” kata Sales Director MTP, Ending Nugroho.

Sehubungan dengan itu, PT MTP menawarkan sejumlah unit yang sudah terelektrifikasi guna membantu para pelanggan memangkas biaya bahan bakar dan menekan biaya operasional secara keseluruhan. Adapun alat-alat yang ditawarkan itu dijelaskan Ending Nugroho satu per satu.

Gida Hybrid Tower Lamp (PV, Battery & Smart Genset)

MTP menawarkan GIDA All-in-One Hybrid Tower Lamp, menggunakan panel surya dan baterai LiFePO4 sebagai sumber energi utama, dengan generator internal 5KW sebagai backup power. Sumber foto: MTP

Saat ini, Mobile Tower Lamp berbasis genset diesel telah banyak digunakan di banyak area, baik area pertambangan, perkebunan maupun konstruksi. Namun tanpa disadari, konsumsi bahan bakar tower lamp berbasis diesel cukup tinggi karena genset akan terus beroperasi selama penerangan dibutuhkan. Sebagai solusi, MTP membawa GIDA All-in-One Hybrid Tower Lamp. GIDA menjadikan panel surya dan baterai LiFePO4 sebagai sumber energi utama, dengan generator internal 5KW sebagai backup power.

Sumber utama dari GIDA adalah energi dari matahari melalui panel surya yang selanjutnya akan tersimpan di baterai. Untuk mengantisipasi tingkat curah hujan yang tinggi, hybrid yang dikombinasikan dengan smart genset sebagai backup power menjadi Solusi paling layak secara operasional, khususnya di site pertambangan di Indonesia. Namun, kata Ending Nugroho, perlu digarisbawahi bahwa smart genset tersebut adalah hanya backup, bukan sumber energi utama. Saat cuaca cerah, baterai dapat terisi secara penuh (95%-100%) dengan solar panel dan tower lamp siap bekerja secara penuh 12 jam pada sif malam. Saat cuaca mendung atau hujan sepanjang hari yang menghalangi pengisian daya matahari, generator pintar dapat mengisi daya baterai hanya dengan dua liter solar untuk menjamin lampu menyala 12 jam penuh. GIDA memberikan perlindungan garansi yang sangat menarik bagi pelanggan yaitu tiga tahun untuk baterai liFEpo4, PV sampai dengan lima tahun, dan lampu LED selama dua tahun.

Lebih jauh dikatakan, dari beberapa skenario operasional, GIDA bisa menghemat biaya bahan bakar hingga 90% jika dibandingkan tower lamp berbasis genset murni. Perhitungan payback period atas investasi tower lamp GIDA dapat diperoleh dalam jangka waktu 7-9 bulan, bila dihitung dengan harga solar industri sekarang. Periode tersebut dapat dicapai dengan waktu yang lebih pendek jika harga solar industri meningkat.

“Pada mining exhibition september lalu, kami mengenalkan produk ini di booth kami, dan antusiasme dari customer atas solusi teknologi dari produk GIDA tinggi sekali. Kami siap  memberikan berbagai simulasi biaya dan perhitungan payback period, berdasarkan masing-masing voice customer yang tentunya berbeda di masing-masing area operasi. Bahkan kami sangat yakin, untuk durasi pemakaian kurang dari dua tahun, Solusi Tower Lamp Hybrid GIDA dapat lebih efisien  dibandingkan dengan tetap mempertahankan tower lamp berbasis diesel yang sudah ada di populasi unit customer,” ujar Ending Nugroho lagi.

GMW Wheel Loader EV

Sementara itu, di area loading point dengan ground condition yang baik, pemilihan wheel loader kerap dihadapkan pada dilema trade-off antara biaya investasi awal (Capital Expenditure/CapEx) dan biaya operasional (Operational Expenditure/OpEx). Alat berat bermesin diesel mungkin menawarkan harga beli awal yang lebih murah, tetapi berdampak pada biaya bahan bakar yang sangat tinggi selama bertahun-tahun.

Karena itu, MTP mengadirkan solusi wheel loader EV penuh, GWM GW60E, dengan bucket 3.5 kubik dan rated load 5.8 ton. Ditenagai oleh baterai LFP berkapasitas 350 kWh, loader ini tidak hanya menghilangkan ketergantungan pada diesel, tetapi juga memberikan kapasitas muatan 5,8 ton yang lebih besar dibanding produk wheel loader diesel.

Estimasi Total Cost of Ownership (TCO) untuk proyek tiga tahun atas GWM GW60E ini, jika sebuah tambang memiliki infrastruktur jaringan listrik, dapat menghemat lebih dari tiga miliar  dibandingkan wheel loader konvensional. Bahkan untuk area tambang off-grid, penghematan dapat mencapai sekitar 800 juta untuk periode waktu yang sama.

Untuk pabrik atau kawasan industri yang memiliki akses utilitas PLN berkapasitas besar (heavy-duty), Ending Nugroho merekomendasikan agar mulai beralih ke wheel loader GWM GW60E guna menekan biaya operasional dan tetap meningkatkan produktivitas kerja. Sedangkan, pada kondisi area customer yang telah tersedia On-Grid (PLN), titik impas (break-even point) dari selisih harga awal dapat tercapai sangat cepat, yaitu kurang dari delapan bulan dengan pendekatan cash-basis.

Yimu Hybrid Truck: Hybrid Dump Truck

Lebih lanjut Ending Nugroho menjelaskan, saat ini banyak customer sangat concern terhadap efisiensi bahan bakar dalam menjaga tingkat profitabilitas suatu proyek. Untuk itu, peralihan alat berat dan truk ke full EV menjadi sesuatu hal yang layak dipertimbangkan. Namun kendala yang dihadapi adalah infrastruktur jaringan listrik yang tidak tersedia di area pertambangan. Untuk memberikan solusi dari kondisi tersebut, MTP memperkenalkan Yimu Intelligence, yaitu truk tambang hybrid intelligent system dengan engine dan battery. MTP menawarkan dua model yaitu  EM888H yang berkapasitas 120 ton dan EM999H dengan kapasitas hingga 185 ton),

Yimu menggunakan platform Hybrid Intelligent Multi-Axle Driving & Steering (HiMADS). Teknologi ini menggabungkan tenaga diesel dan baterai lithium-ion berkapasitas besar secara cerdas. Salah satu keunggulannya adalah sistem pemulihan energi saat jalan menurun (regenerative braking). Ini sangat penting dalam operasional tambang yang memiliki tingkat elevasi yang beragam. Dengan Intelligent system YIMU, sistem dapat mengatur secara otomatis pada saat truk membutuhkan torsi yang lebih besar dengan mengandalkan tambahan tenaga dari electric motor. Dan, intelligent system ini akan beroperasi secara penuh dan otomatis dengan berbagai paramater sehingga truk YIMU dapat bekerja secara optimal dan tetap efisien.

Menurut Ending Nugroho, Yimu memberikan keseimbangan yang optimal antara tenaga yang besar (770hp) dan penghematan energi. Dengan penggerak hybrid dan intelligent system, biaya konsumsi bahan bakar dapat dipangkas lebih dari 30% dibandingkan truck rigid diesel konvensional. Lebih dari itu, desain multi-axle memberikan radius putar yang lebih fleksibel dan kapasitas muat (payload) yang jauh lebih besar

Kemitraan untuk Masa Depan yang Berkelanjutan

Pada bagian lain Ending Nugroho menjelaskan, teknologi canggih, penghematan besar, dan komitmen terhadap green energy tidak akan berjalan maksimal tanpa dukungan purnajual (aftersales) yang handal. Alat berat dan fasilitas tambang harus terus menyala dan downtime (waktu berhenti kerja) adalah musuh utama produktivitas. Karena itu, MTP tidak hanya sekadar menjual produk, tetapi juga menjadi mitra operasional jangka panjang.

“Kami sangat menyadari bahwa keunggulan teknologi dan efisiensi alat harus diiringi dengan ketersediaan jaminan aftersales yang solid. Oleh karena itu, saat ini MTP telah menempatkan titik dukungan strategis dan fasilitas support kami di pusat-pusat pertambangan utama yaitu di Muara Enim, Jakarta, Balikpapan, dan Angsana,” ujar Ending Nugroho.

Untuk semakin memastikan cakupan layanan yang lebih luas dan respons yang cepat, MTP juga telah bekerja sama dengan mitra strategis di beberapa area wilayah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah (Kalselteng). Sinergi ini ditujukan semata-mata untuk memberikan layanan aftersales terbaik demi mendukung kelancaran dan kesinambungan operasional pelanggan tanpa hambatan berarti.

Dengan kombinasi tiga lini produk unggulan – Tower Lamp Hybrid GIDA yang efisien, Wheel Loader EV GWM yang bebas emisi, dan Hybrid Dump Truck YIMU berkapasitas massif – serta didukung oleh jaringan aftersales yang handal, MTP siap mengawal operasional tambang para pelanggan. “Solusi yang ditawarkan MTP bukan sekadar alat pelengkap, melainkan aset strategis untuk memangkas cost, mendukung kelestarian lingkungan (green energy), meminimalkan biaya perawatan (low maintenance), dan menjaga profitabilitas perusahaan tambang Anda di era transisi energi seperti sekarang ini,” pungkas Ending Nugroho. #