PT Equipindo Perkasa melakukan regenerasi kepemimpinan untuk merespons perkembangan pasar alat berat yang berubah cepat akhir-akhir ini.
Jakarta, Equipment Indonesia – Peta jalan (roadmap) industri alat berat Indonesia berubah sangat cepat yang terutama dipicu oleh kehadiran pemain-pemain pendatang baru dari China. Tidak hanya mereknya yang beragam, tetapi mereka masuk dengan kapital yang tidak sedikit. Gempuran pemain-pemain dari negeri tirai bambu itu memporak-porandakan tatanan bisnis alat berat yang sudah terbangun sejak lama di Tanah Air.
Dalam urusan distribusi, misalnya, mereka cenderung untuk tidak menggunakan sistem dealership sebagaimana yang biasa dilakukan merek-merek Jepang, Korea dan Eropa selama ini. Mereka menggunakan sistem distribusi langsung dengan mendirikan perusahaan sendiri di sini. Kalau pun mereka membangun jaringan dealer, namun secara diam-diam mereka menjual langsung kepada para pengguna akhir.
Mereka juga royal dalam memberikan insentif kepada customer. Misalnya, mereka men-split pembayaran down payment (DP) untuk meringankan beban biaya pembelian awal customer. Cara ini benar-benar menarik minat banyak pelanggan lokal, terutama pemain-pemain menengah ke bawah karena memungkinkan mereka untuk langsung memulai bisnis dengan memanfaatkan unit-unit yang ada.
Untuk mendongkrak pasar, beberapa brand China sudah membangun fasilitas perakitan di Indonesia. Sany, misalnya, sudah memiliki fasilitas perakitan di daerah Karawang, Jawa Barat. Langkah serupa akan ditempuh LiuGong yang dalam waktu dekat akan segera membangun pabrik di Indonesia.
Digitalisasi adalah faktor lain yang mengobok-obok wajah industri alat berat Indonesia. Digitalisasi bisnis alat berat adalah proses mengubah cara kerja manual menjadi digital untuk meningkatkan efisiensi dan pengalaman pelanggan. Ini melibatkan penggunaan teknologi seperti Internet of Things (IoT) untuk pemantauan jarak jauh (misalnya, konsumsi bahan bakar dan kondisi mesin), otomatisasi dan kendali jarak jauh, predictive maintenance untuk mencegah kerusakan, serta platform digital untuk penyewaan dan pembelian alat. Selain itu, digitalisasi juga mencakup analisis data dan digital marketing untuk memperluas jangkauan pasar.
Berbagai perkembangan yang menakjubkan itu tidak bisa dihadapi dan diatasi dengan bisnis gaya lama. Perubahan demi perubahan terjadi begitu cepat dalam dunia bisnis, termasuk di segmen alat berat. Para pelaku usaha ditantang untuk menjalankan bisnis mereka di tengah berbagai gerakan perubahan tersebut. Artinya, mereka juga harus berubah. Sebab, kalau mereka tidak mau berubah (menyesuaikan diri), maka bisnis mereka akan tenggelam dalam persaingan. Bagaimana PT Equipindo Perkasa menyikapi berbagai perubahan tersebut?
Regenerasi

“Persaingan terlalu berat saat ini, terutama dengan masuknya produk-produk dari China di pasar Indonesia. Sistemnya sangat berbeda dengan era sebelumnya. Semuanya berubah. Kalau sebelumnya kita mempunyai sistem keagenan yang sangat solid, sekarang ini berubah semuanya. Kita mau tidak mau harus menyesuaikan diri. Mereka bergerak sangat cepat dan agresif. Kondisi ini mendorong kita untuk mengubah cara pandang kita yang lama. Saya sebagai generasi tua harus menyadari diri. Biarlah anak-anak muda yang merespons situasi sekarang ini karena mereka lebih paham,” kata Harijanto, pendiri PT Equipindo Perkasa kepada Equipment Indonesia beberapa waktu lalu di kantornya yang terletak di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara.
Kondisi pasar alat berat di Indonesia sekarang ini tidak sebagus dulu lagi karena persaingan lebih ketat seiring dengan jumlah pemain yang semakin banyak. Upaya-upaya pemasaran dan penjualan tidak bisa dilakukan dengan cara-cara konvensional. Diperlukan dukungan tim yang lebih solid, cekatan serta mengikuti perkembangan teknologi. Untuk menghadapi situasi pasar yang semakin kompleks itu, Harijanto secara berangsur-angsur mulai memberi ruang kepada putranya, Davin Christian, untuk menjalankan PT Equipindo Perkasa. “Sudah terjadi transisi, dan posisi saya sekarang – boleh dibilang – hanya sebagai penasihat. Ibaratnya, kalau di partai politik, posisi saya itu sebagai Dewan Kehormatan,” ucapnya sembari tersenyum.
Proses suksesi kepemimpinan di Equipindo berlangsung tanpa persiapan khusus karena Davin sudah lama terlibat dalam pengelolaan perusahaan ini. “Memang sudah saatnya. Saya melihat timing-nya memang tepat, dan Davin memang sudah bisa menjalankan perusahaan ini, terutama untuk kegiatan-kegiatan operasional yang biasa saya jalankan. Jadi, secara automatically bisa dipercayakan kepada Davin,” jelas Harijanto.
Davin sendiri merasa dibesarkan di lingkungan bisnis alat berat karena sejak kecil dia sudah menyaksikan bagaimana orangtuanya mengelola perusahaan ini. “Saya punya ketertarikan pada bisnis alat berat sejak kecil. Dulu seusai sekolah, saya langsung ke kantor. Saya melihat orangtua menggeluti bisnis yang punya masa depan ini. Saya pelajari produk-produk apa saja sih yang dijual? Bagaimana cara menjualnya? Bagaimana meng-handle customer? Operation-nya seperti apa? Bagaimana meng-handle tim sales dan sebagainya. Saat kuliah di luar negeri, saat summer time, saya tidak pernah ambil. Saya balik ke Indonesia. Saya gunakan kesempatan itu untuk ke kantor. Dengan begitu, sejak awal saya sudah mengerti bisnisnya seperti ini. Mungkin karena akumulasi berbagai pengalaman tersebut saya semakin tertarik dengan bisnis alat berat,” kenangnya.
Davin mengungkapkan, kesadaran ini muncul dari dirinya sendiri, bukan karena dorongan orangtua, dan tanpa persiapan khusus. Dia kerja sambil belajar, dan proses belajar itu tidak pernah berhenti karena dunia ini, termasuk bisnis alat berat, selalu berubah. Saat pertama kali dia terjun ke perusahaan ini, belum ada produk-produk China seperti sekarang ini. Artinya, karena perubahan terus terjadi, maka proses belajar tidak pernah berhenti. “Saya belajar terus untuk mengikuti perkembangan produk-produk baru yang bermunculan,” imbuhnya.
Menurut Davin, tantangan paling utama dalam bisnis alat berat sebenarnya adalah kondisi pasar yang cenderung fluktuatif. Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki potensi kekayaan alam yang melimpah. Pembangunan infrastruktur ada di mana-mana. Itu sebabnya banyak produsen menyasar pasar Indonesia dengan begitu massif. Kehadiran pemain-pemain asing dari China membawa tantangan baru bagi perusahaan-perusahaan distributor yang 100 persen lokal seperti Equipindo Perkasa.
“Pemain-pemain baru dari China masuk dengan sangat ekspansif dan dengan dukungan sumber daya uang yang sangat besar. Kondisi itulah yang menyulitkan bagi perusahaan-perusahaan distibusi lokal untuk mengimbangi persaingan. Kapital yang mereka miliki sangat besar,” terangnya sembari menambahkan bahwa pemain-pemain lokal harus melakukan apapun supaya survive.
PT Equipindo Perkasa adalah distributor alat konstruksi jalan merek Sakai sejak November 2002. Bahkan, karena saking suksesnya menjual peralatan konstruksi jalan asal Jepang itu, Equipindo identik dengan Sakai. Selain Sakai, perusahaan ini mengageni Motor Grader Hidromek, yang diklaim sebagai pasangan ideal untuk Sakai dalam pekerjaan konstruksi jalan dan aplikasi-aplikasi terkait.
Tahan Banting

Meski pasar alat berat sangat fluktuatif, Harijanto merasa bangga karena Equipindo tetap bertahan. Apa kunci keberhasilan perusahaan ini dalam melewati berbagai rintangan tersebut? “Kami ini perusahaan keluarga. Kami selalu berusaha untuk berhati-hati supaya bisa survive. Kami selalu berusaha untuk menghemat supaya tetap eksis saat berada dalam situasi sulit. Tabungan itu dapat kami gunakan agar bisnis kami bisa tetap stabil saat kondisi ekonomi sulit,” Harijanto membagi tips suksesnya menghadapi kondisi krisis.
Dia mencontohkan keberhasilan Equipindo melewati pandemi Covid-19. “Saat terjadi pandemi, perusahaan kami tidak melakukan PHK sama sekali. Tidak seorang pun pegawai yang gajinya kita potong. Kita tetap berusaha maintain dan berusaha eksis supaya karyawan-karyawan kami tidak mengalami kesulitan. Itu prinsip kami. Memang kami bukan perusahaan besar, tetapi perusahaan kami at least daya tahannya cukup kuat.”
Ketika ditanya mengenai rencana ekspansi bisnis paska regenerasi kepemimpinan, Davin mengatakan Equipindo mengikuti arus (follow the river) dan sangat berhati-hati dalam melakukan ekspansi usaha. “Uangnya ada di mana, kami akan mengarahkan produk-produk kami ke sana. Saat ini dan dalam beberapa tahun ke depan yang menjadi fokusnya adalah pembangunan food estate. Kami punya beberapa produk untuk mendukung industri ini. Pada zaman Presiden Joko Widodo, yang menjadi fokusnya adalah pembangunan infrastruktur. Sektor ini adalah ranahnya Equipindo Perkasa dengan produk Sakai dan Grader Hidromek. Kami jualan cukup banyak. Produk-produk Sakai ada di berbagai proyek infrastruktur baik di jalan tol maupun IKN,” ungkapnya.
Melengkapi Davin, Harijanto menambahkan bahwa Equipindo Perkasa tidak perlu terburu-buru dalam melakukan ekspansi. Tunggu momen yang tepat. Yang paling utama, kata dia, setelah regenerasi, perusahaan ini semakin solid dan besar. “Sebagai perusahaan keluarga, suksesinya diharapkan berjalan dengan mulus, dan Davin bisa melanjutkan bisnis ini kepada anak-anaknya, serta jangan sampai perusahaan ini mengalami kesulitan,” tutupnya berharap. @




















