Scroll untuk baca artikel
loading=
loading=
MiningTop News

Alat Berat Listrik di Tambang: Siapkah Industri Menghadapi Era Baru?

×

Alat Berat Listrik di Tambang: Siapkah Industri Menghadapi Era Baru?

Share this article
Ilustrasi operasi truk tambang listrik di tambang batu bara. Foto ini adalah truk tambang listrik merek LGMG yang beroperasi tanpa operator pada salah satu pertambangan batu bara di daerah Mongolia Dalam, Cina. Kredit foto: Equipment Indonesia

Elektrifikasi alat berat bukan sekadar mengganti mesin diesel dengan baterai. Tantangan sesungguhnya adalah membangun ekosistem operasi, infrastruktur, SDM, keselamatan, reliability, dan manajemen risiko yang mampu menghasilkan nilai bisnis.

Oleh Mhd. Taufik Arfin, ANZIIF (snr.assoc), CIIB

Jakarta, Equipment Indonesia – Suara mesin diesel, debu, dan deru truk-truk angkut selama puluhan tahun menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari aktivitas pertambangan. Namun, lanskap tersebut perlahan mulai berubah. Alat berat bertenaga listrik atau battery electric vehicle (BEV) mulai memasuki area tambang, bukan lagi sekadar sebagai konsep di ruang pamer, tetapi melalui berbagai uji coba di lapangan.

Di Indonesia, salah satu perkembangan menarik terjadi pada awal 2026 ketika PT Multi Harapan Utama (MHU) melakukan uji coba truk angkut listrik SANY di area operasionalnya di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Uji coba tersebut diarahkan untuk mengevaluasi performa hauling, ketahanan unit terhadap kondisi medan aktual, serta kesesuaian jam kerja dengan kebutuhan produksi.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa pembicaraan tentang elektrifikasi alat berat sudah memasuki tahap yang lebih serius. Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah alat berat listrik bisa bekerja di tambang? Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah alat berat listrik dapat bekerja secara aman, andal, produktif, dan ekonomis dalam operasi tambang yang sebenarnya?”

Bukan Sekadar Mengganti Diesel dengan Baterai

Selama ini, elektrifikasi sering dilihat dari perspektif pengurangan emisi. Itu tentu penting. Tetapi bagi perusahaan tambang, keputusan investasi tidak mungkin hanya didasarkan pada aspek lingkungan. Alat harus tetap produktif. Biaya operasi harus kompetitif. Reliability harus dapat dipertahankan. Dan yang tidak kalah penting, teknologi tersebut harus mampu memberikan return on investment yang masuk akal.

Perkembangan industri global menunjukkan arah yang sama. Dalam perkembangan terbaru, Sandvik melihat bahwa pembicaraan mengenai elektrifikasi pertambangan mulai bergeser dari sekadar sustainability menuju performance dan mine economics. Para pelanggan menginginkan peralatan listrik yang setidaknya mampu menyamai diesel dalam hal produktivitas, reliability dan efisiensi biaya.

Ini merupakan perubahan cara berpikir yang sangat penting. Sebuah alat berat listrik tidak akan otomatis menjadi solusi hanya karena tidak menggunakan diesel. Ia harus membuktikan kemampuannya dalam kondisi kerja nyata. Dengan kata lain, TCO atau Total Cost of Ownership menjadi jauh lebih penting daripada harga pembelian unit.

Perhitungannya harus mencakup investasi awal, konsumsi energi, charging infrastructure, battery life, maintenance, spare parts, downtime, produktivitas, kebutuhan teknisi, hingga nilai residual equipment.

Baca Juga :  Volvo CE Perkenalkan Line-up Produk Baru Yang 'Lebih Cerdas dan Sustainable' di Volvo Days 2024

Trial Adalah Laboratorium yang Sangat Penting

Saya melihat fase trial justru merupakan bagian paling penting dalam perjalanan menuju elektrifikasi. Trial bukan semata-mata untuk membuktikan apakah teknologi tersebut bagus atau tidak. Trial adalah kesempatan untuk menemukan apa yang belum kita ketahui.

Dalam operasi tambang yang kompleks, banyak persoalan baru muncul ketika equipment benar-benar berada di lapangan. Bagaimana karakter baterai ketika bekerja dalam siklus hauling yang panjang? Bagaimana performanya pada tanjakan? Berapa lama waktu charging sebenarnya? Bagaimana pengaruh temperatur, hujan, kondisi jalan, dan pola operasi terhadap konsumsi energi? Bagaimana jika listrik terputus? Bagaimana jika charger mengalami gangguan? Dan yang sangat penting, berapa lama equipment dapat kembali beroperasi ketika terjadi masalah?

Pengalaman trial yang dilakukan di Indonesia maupun perkembangan global menunjukkan bahwa jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak bisa sepenuhnya diperoleh dari brosur atau pengujian di pabrik. Karena itu, real mine condition menjadi sangat penting.

Di Australia, misalnya, BHP, Rio Tinto dan Caterpillar pada 2026 melanjutkan uji coba Cat 793 XE battery-electric haul truck di Jimblebar, Pilbara. Pengujian tersebut tidak hanya melihat performa truk, tetapi juga infrastruktur, charging system, keselamatan, maintenance dan kelayakan komersial.  Bahkan, pengembangan selanjutnya mengarah pada pengujian dynamic charging, yaitu pengisian energi ketika kendaraan sedang bergerak. Ini menunjukkan bahwa electrification bukan hanya persoalan equipment. Ini adalah persoalan sistem.

Charging Station adalah Bagian dari Mining Equipment Ecosystem

Ilustrasi operasi dump truck tambang bertenaga listrik penuh buatan LGMG yang beroperasi tanpa awak (operator)di dalah satu lokasi tambang. Sumber foto: Equipment Indonesia

Pada operasi diesel, secara sederhana kita memiliki truk dan bahan bakar. Pada operasi listrik, ekosistemnya menjadi lebih kompleks: Truck + battery + charger + electricity + grid + software + people + maintenance. Karena itu, ketika perusahaan membeli 10 atau 20 unit electric truck, sebenarnya perusahaan tidak hanya membeli equipment. Perusahaan sedang membangun electrified mining ecosystem.

Ketersediaan listrik menjadi sangat penting. Lokasi charging station harus direncanakan dengan baik. Kapasitas jaringan harus cukup. Waktu charging harus disesuaikan dengan production cycle. Harus ada contingency plan apabila terjadi gangguan pada listrik atau charger. Semakin besar fleet yang akan dielektrifikasi, semakin kompleks kebutuhan tersebut. Satu unit EV mungkin relatif mudah untuk diuji. Tetapi pertanyaannya menjadi sangat berbeda ketika jumlahnya mencapai puluhan, bahkan ratusan unit. 

SDM Menjadi Faktor Kunci

Teknologi baru membutuhkan kompetensi baru. Operator harus memahami karakteristik peralatan listrik. Mekanik membutuhkan kemampuan berbeda. Teknisi harus memahami sistem kelistrikan tegangan tinggi, battery management system, charging system dan prosedur isolasi energi. Yang menarik, perkembangan ini sudah mulai terlihat di Indonesia.

Baca Juga :  Mengintip Cara Kerja “Tomra Visual Assist”

Pada Juli 2026, PPSDM KEBTKE menyelenggarakan pelatihan Basic Electrical Safety for Electric Vehicle (Heavy Equipment Sector) untuk 20 personel PT Saptaindra Sejati. Sebelumnya, pada Mei 2026, lembaga yang sama juga bekerja sama dengan PT SIS untuk pelatihan basic safety sistem kelistrikan hybrid electric vehicle bagi personel operasional alat berat. Ini merupakan sinyal positif.

Artinya, industri mulai menyadari bahwa mengadopsi teknologi tanpa mempersiapkan manusia yang mengoperasikannya adalah sebuah risiko. Teknologi hanya akan tergantung pada keandalan orang yang menjalankannya.

Risiko Keselamatan Juga Berubah

Elektrifikasi tidak menghilangkan risiko. Ia mengubah profil risiko. Pada peralatan konvensional, kita sudah sangat familiar dengan risiko engine failure, hydraulic failure, fuel system, mechanical breakdown dan fire.

Pada electric equipment, muncul exposure baru seperti high-voltage electrical system; battery damage; thermal event atau thermal runaway; charging equipment failure; battery degradation; electrical shock; power interruption; software atau control system failure. Karena itu, prosedur HSE yang digunakan pada mesin-mesin diesel tidak bisa begitu saja diterapkan tanpa penyesuaian. Risk assessment harus dilakukan kembali. Emergency response procedure harus diperbarui. Fire protection harus dievaluasi. Kompetensi teknisi harus ditingkatkan, dan hubungan dengan OEM harus dirancang secara lebih strategis.

The Hidden Risk: Downtime

Bagi perusahaan tambang, salah satu risiko terbesar dari electric equipment mungkin bukan baterainya, melainkan downtime. Bayangkan, sebuah hauling truck mengalami masalah pada battery management system atau power electronics. Jika komponen tersebut bersifat proprietary dan hanya dapat ditangani oleh teknisi tertentu, maka waktu respons vendor menjadi faktor yang sangat menentukan.

Di sinilah pentingnya memastikan spare parts availability, technical support, diagnostic capability, response time, dan service level agreement. Jangan sampai perusahaan memiliki peralatan yang sangat modern, tetapi harus menunggu berminggu-minggu untuk mendapatkan komponen atau teknisi. Dalam pertambangan, satu unit yang berhenti bukan hanya persoalan maintenance. Ada potensi kehilangan produksi. Dan ketika fleet semakin besar, dampaknya dapat menjadi signifikan.

Bagaimana dengan Asuransi?

Dari perspektif risk management, elektrifikasi juga membawa pertanyaan baru bagi industri asuransi. Apakah program asuransi yang selama ini digunakan untuk mesin-mesin diesel otomatis cukup untuk electric equipment? Belum tentu. Perlu dilihat kembali exposure terhadap equipment damage, machinery breakdown, battery, charging infrastructure, fire, liability dan business interruption.

Untuk peralatan yang semakin terkoneksi dan menggunakan sistem digital, aspek teknologi dan cyber risk juga semakin relevan. Bagi equipment yang sangat critical terhadap produksi, business interruption juga tidak boleh diabaikan. Karena itu, pendekatan yang ideal bukan membeli equipment terlebih dahulu kemudian memikirkan risikonya setelah unit beroperasi. Risk assessment seharusnya dimulai sebelum equipment datang ke site.

Baca Juga :  Liebherr Luncurkan Dump Truck Elektrik Otonom Pertama, T 264

Dari Trial Menuju Fleet Electrification

Menurut saya, inilah tantangan terbesar Indonesia. Kita mungkin tidak terlalu sulit melakukan trial satu atau dua unit. Yang jauh lebih menantang adalah bagaimana mengubah hasil trial tersebut menjadi commercial operation dan kemudian melakukan scale-up.

Sebelum menuju fleet electrification, perusahaan perlu menjawab setidaknya beberapa pertanyaan. Apakah power supply cukup? Apakah infrastruktur pengisian siap? Apakah SDM tersedia? Bagaimana emergency response? Bagaimana maintenance strategy? Bagaimana spare parts? Bagaimana battery lifecycle? Bagaimana pengaruhnya terhadap produktivitas? Berapa TCO sebenarnya? Dan terakhir, bagaimana seluruh risiko tersebut dikelola dan ditransfer? Jawabannya tidak harus selalu “ya” untuk semua pertanyaan tersebut. Justru fungsi trial adalah menemukan gap dan menyusun solusi sebelum investasi diperbesar.

Elektrifikasi Harus Menciptakan Nilai

Masa depan alat berat di sektor pertambangan kemungkinan akan semakin elektrifikasi, otomatisasi, terkoneksi dan berbasis data. Tetapi kita tidak boleh terjebak pada teknologi sebagai tujuan. Teknologi adalah alat untuk menciptakan nilai. Alat berat listrik harus mampu membantu tambang menjadi lebih efisien, lebih aman, lebih rendah emisi dan tetap kompetitif. Karena itu, keberhasilan elektrifikasi seharusnya tidak hanya diukur dari berapa unit electric truck yang sudah dibeli. Tetapi seberapa baik teknologi tersebut terintegrasi dengan sistem tambang secara keseluruhan. Mulai dari energi, infrastruktur, manusia, maintenance, produksi, HSE, sampai risk management.

Pada akhirnya, alat berat listrik bukan sekadar mengganti diesel dengan baterai. Ini adalah perubahan cara tambang bekerja. Dan bagi perusahaan yang sedang mempertimbangkan langkah tersebut, mungkin pertanyaan terbaik bukan kapan kita membeli electric equipment, melainkan apa yang harus kita siapkan agar ketika peralatan itu datang, tambang kita benar-benar siap mengoperasikannya?

Teknologi terbaik bukanlah teknologi yang paling canggih. Teknologi terbaik adalah teknologi yang mampu bekerja dengan aman, andal, produktif dan ekonomis di kondisi tambang yang sebenarnya. (EI)

Mhd. Taufik Arfin, ANZIIF (snr.assoc), CIIB adalah CEO L&G Insurance Broker, Kepala Departemen Riset dan Penelitian Industri Asosiasi Perusahaan Pilang Asuransi & Reasransi Indonesia (APPARINDO)