“Bagi Hyundai, fokus di sektor mining bukan semata-mata menjual unit, tapi juga bagaimana meningkatkan availability alat, menurunkan cost per BCM, dan menjaga produktivitas meski jam kerja ditekan. Yang pasti, selama customer masih beroperasi, kebutuhan terhadap alat yang reliable dan efisien akan tetap ada.”
Jakarta, Equipment Indonesia – Tahun 2026 menghadirkan gambaran yang rumit. Sistem kuota target produksi komoditas batubara dan mineral (nikel) yang diterapkan pemerintah Indonesia pada tahun ini memberikan prospek yang suram bukan hanya terhadap industri pertambangan tetapi juga bisnis peralatan berat, khususnya mesin-mesin tambang. Sektor batubara dan nikel merupakan pasar utama alat-alat tambang selama ini. Itu sebabnya langkah pemerintah tersebut membuat banyak pelaku bisnis alat berat kelimpungan.
Bagaimana Hyundai Construction Equipment Indonesia (Hyundai) melihat prospek bisnis alat berat pada tahun 2026 ini? Majalah Equipment Indonesia menemui Hadityo Sugiarto, Sales & Marketing Director Hyundai Construction Equipment Indonesia untuk merespon pertanyaan tersebut. Bagi Hyundai, kata dia, 2026 bukan tahun euforia, tapi juga jelas bukan tahun krisis. Arahnya cenderung moderat, bahkan di beberapa area bisa stagnan, tergantung sektor dan wilayah cakupan market di Indonesia.
Pasar, dia melanjutkan, akan jauh lebih selektif. Customer tetap belanja alat, namun dengan pendekatan yang lebih hati-hati. Fokusnya bukan lagi ekspansi besar-besaran, melainkan replacement unit, peningkatan produktivitas, dan efisiensi life cycle cost. Jadi, buat Hyundai, 2026 adalah tahun untuk bertumbuh secara cerdas, bukan sekadar mengejar volume.

Hadityo menyoroti beberapa tantangan cukup nyata yang mengganggu pertumbuhan penjualan alat-alat berat pada tahun 2026 ini di pasar. Pertama, ketidakpastian global, terutama terkait dengan harga komoditas dan kondisi geopolitik yang sangat dinamis. Kedua, tekanan cash flow di sisi kontraktor, baik mining maupun konstruksi. Ketiga, overcapacity di beberapa segmen, sehingga utilisasi alat berat belum maksimal. Keempat, akses pembiayaan yang makin ketat karena financing company menjadi lebih selektif.
“Sebenarnya semuanya ini bukan hal baru, dan hampir semua pemain besar juga menghadapi tantangan-tantangan yang sama. Yang membedakan adalah bagaimana kita membantu para customer tetap produktif di tengah kondisi yang tidak ideal,“ ujarnya.
Meski kondisi pasar cukup menantang, Hadityo menilai masih ada ruang bagi bisnis alat berat untuk bisa tumbuh pada tahun ini. Menurutnya, ada tiga sektor yang relatif masih cukup solid, yaitu pertambangan, terutama yang sudah memiliki kontrak jangka menengah hingga panjang; infrastruktur publik tertentu, khususnya proyek-proyek yang sudah masuk pipeline pemerintah; quarry dan material handling untuk mendukung proyek-proyek konstruksi dan kawasan industri. Untuk sektor rental, dia menilai pasarnya masih ada, tapi lebih bersifat opportunistik, bukan ekspansi besar-besaran.
Khusus untuk sektor pertambangan batubara, Hadityo mengingatkan mengenai rencana pemerintah Indonesia untuk memangkas target produksi dari hampir 800 juta ton pada tahun 2025 menjadi 600 juta ton pada 2026. Jika rencana itu terealisasi, penjualan mesin-mesin tambang kemungkinan besar akan terimbas. Namun, ia berkeyakinan, dampaknya tidak akan merata. “Produsen-produsen besar dan kontraktor-kontraktor utama relatif masih berjalan stabil. Kalaupun ada penundaan, itu lebih banyak terjadi di proyek-proyek greenfield, bukan di operasi-operasi yang sudah berjalan,“ imbuhnya.
Bagaimana prospek alat-alat tambang Hyundai dalam menghadapi kondisi tersebut? “Bagi Hyundai, fokus di sektor mining bukan semata-mata menjual unit, tapi juga bagaimana meningkatkan availability alat, menurunkan cost per BCM, dan menjaga produktivitas meski jam kerja ditekan. Yang pasti, selama customer masih beroperasi, kebutuhan terhadap alat yang reliable dan efisien akan tetap ada,” ungkapnya.
Upaya lain yang dilakukan Hyundai untuk mengembangkan pasarnya adalah memperkuat segmen aftermarket. Bagi kami, kata Hadityo, aftermarket bukan sekadar supporting business, tapi sudah menjadi bagian dari core strategy. “Penjualan unit tentu tetap penting. Tapi, dalam kondisi pasar yang menantang seperti sekarang, justru parts, service, contract maintenance, dan component solution menjadi penopang utama stabilitas bisnis—baik bagi dealer maupun customer.”
Berkomentar mengenai upaya-upaya terobosan Hyundai untuk bersaing di pasar alat berat Indonesia yang jumlah pemainnya terus bertambah, Hadityo mengatakan, “Kami tidak melihat diferensiasi hanya dari sisi produk. Fokus kami lebih menyoroti Total Cost of Ownership (TCO), kecepatan dan kepastian layanan after-sales, dan fleksibilitas dalam skema komersial. Target kami sederhana: Hyundai tidak hanya dikenal sebagai equipment manufacturer & supplier, tapi sebagai partner operasional bagi customer.”
Selain itu, perusahaan ini sangat responsif dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan customer yang terus berkembang. Hadityo mencontohkan kebutuhan bucket khusus untuk mining, attachment untuk quarry dan material keras, seperti rock ripper. Juga ada spesifikasi unit yang disesuaikan dengan kondisi operasi lokal. Bahkan, banyak improvement yang diterapkan Hyundai di Indonesia justru berasal dari feedback langsung customer di site, bukan dari kantor pusat.
Mempertimbangkan berbagai tantangan dan peluang yang ada sepanjang tahun 2026, perusahaan ini tidak punya target penjualan yang muluk-muluk. “Kami bersifat realistis saja. Bukan target agresif, tetapi kami berharap bisa sedikit lebih baik dibandingkan dengan tahun 2025, dengan catatan didukung oleh aftermarket yang kuat, fokus pada existing customer, serta disiplin dalam pricing dan risk management. Bagi Hyundai, kualitas pertumbuhan jauh lebih penting daripada sekadar mengejar angka,“ tutupnya. EI



















