Equipmentindonesia.com – Indonesia menempatkan logam tanah jarang (LTJ) atau rare earth elements (REE) sebagai salah satu fokus baru dalam agenda hilirisasi mineral nasional. Setelah bertahun-tahun perhatian publik tersedot pada nikel, bauksit, dan tembaga, kini pemerintah bersama sejumlah pelaku usaha mulai melihat potensi besar yang tersimpan dalam mineral ikutan penambangan timah di Bangka Belitung.
Perkembangan ini ditandai dengan langkah PT Timah Tbk (TINS) yang menggandeng PT Perminas untuk mengembangkan proyek hilirisasi logam tanah jarang. Kerja sama tersebut menjadi bagian dari upaya membangun rantai pasok REE nasional yang selama ini belum berkembang meski Indonesia memiliki sumber daya yang cukup menjanjikan.
Direktur Strategi Korporasi dan Pengembangan Usaha PT Timah, Harry Budi Sidharta menjelaskan bahwa kolaborasi dengan Perminas difokuskan pada penguasaan teknologi pengolahan logam tanah jarang yang selama ini menjadi tantangan utama pengembangan industri tersebut.
“Terkait kerja sama dengan Perminas, kita fokus pada pengelolaan logam tanah jarang. Sebagaimana diketahui mandat dari Perminas adalah pengelolaan logam tanah jarang, maka peran Perminas di dalam kerja sama hilirisasi tanah jarang di Bangka Belitung bersinergi dengan PT Timah adalah sebagai partner kita dalam penyediaan teknologi,” ujarnya di Jakarta, Senin (15/6).
Langkah ini menunjukkan bahwa isu utama dalam pengembangan industri REE bukan lagi sekadar ketersediaan sumber daya, melainkan kemampuan mengolahnya menjadi produk bernilai tambah tinggi. Berbeda dengan komoditas mineral lain, teknologi pemrosesan logam tanah jarang masih dikuasai oleh segelintir negara dan perusahaan di dunia.
Harry mengakui bahwa akses terhadap teknologi tersebut tidak mudah diperoleh. “Sebagaimana diketahui bahwa teknologi dari pengelolaan logam tanah jarang merupakan salah satu yang tidak mudah didapatkan, sensitif terhadap isu geopolitik dan lain-lain, maka kita manfaatkan atau kita bekerja sama bersinergi dengan Perminas untuk membantu kita mendapatkan teknologi yang sesuai dalam pengelolaan logam tanah jarang di Bangka Belitung,” jelasnya.
Di Indonesia, sebagian besar potensi REE berasal dari mineral ikutan penambangan timah, terutama monasit dan xenotim yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. Selama puluhan tahun material tersebut lebih banyak dianggap sebagai produk sampingan, sementara nilai ekonominya belum tergarap secara maksimal.
Melalui kerja sama dengan Perminas, PT Timah akan berperan sebagai pemasok bahan baku REE yang berasal dari sisa hasil produksi (SHP) timah. Selanjutnya material tersebut akan diproses menjadi produk bernilai tambah yang lebih tinggi.
Direktur Utama PT Timah, Restu Widiyantoro, menjelaskan pembagian peran tersebut dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XII DPR RI. “PT Timah mendapat tugas sebagai supplier untuk bahan-bahan REE atau SHP. Sisa hasil produksi dari timah itu menjadi bahan utama untuk Perminas yang selanjutnya Perminas akan memproses menjadi produk-produk ikutannya,” ujarnya.
Model bisnis yang dibangun memperlihatkan upaya pemerintah membentuk rantai nilai REE yang lebih terintegrasi. PT Timah tetap fokus pada aktivitas pertambangan dan penyediaan bahan baku, sementara penguasaan teknologi pemisahan dan pemurnian dilakukan oleh mitra yang memiliki kompetensi khusus.
Proyek ini tidak hanya ditujukan untuk menghasilkan produk hilir, tetapi juga diharapkan memberikan kontribusi ekonomi dalam waktu relatif singkat. Restu menyebut monetisasi proyek ditargetkan mulai terjadi dalam dua tahun ke depan.
“Kerja sama ini diprogramkan untuk mencapai 2 tahun sudah diharapkan terjadi monetisasi. Jadi sudah bisa menghasilkan produk yang bisa mendapatkan devisa untuk negara,” katanya.
Optimisme tersebut didorong oleh prospek pasar REE yang terus berkembang. Di tengah meningkatnya kebutuhan global terhadap mineral kritis, negara-negara produsen berlomba mengamankan rantai pasok bahan baku strategis. Indonesia berupaya mengambil posisi tidak hanya sebagai pemasok material mentah, tetapi juga sebagai produsen produk bernilai tambah.
Sebagai bagian dari rencana tersebut, PT Timah telah menyiapkan lahan sekitar 40 hektare di kawasan Tanjung Ular, Bangka Barat. Lokasi tersebut direncanakan menjadi pusat pengembangan industri logam tanah jarang yang terintegrasi dengan kegiatan pertambangan timah.
Harry Budi Sidharta menjelaskan bahwa perusahaan sebenarnya telah memiliki proyek percontohan di kawasan tersebut yang nantinya akan diaktifkan kembali.
“Tanjung Ular itu sebenarnya banyak luas ya 40-an hektar betul bener, tapi mungkin nggak sebanyak itu ya bertahap bertahap, sebenarnya kita juga sudah ada pilot project ya di Tanjung Ular itu nanti mungkin kita reaktivasi lagi,” ujarnya.
Pengembangan kawasan tersebut akan dilakukan secara bertahap sesuai kesiapan teknologi dan perkembangan riset yang sedang berlangsung. Menurut Harry, fasilitas pemurnian nantinya dapat dibangun oleh Perminas maupun mitra teknologi yang ditunjuk.
“Silakan nanti dari tim Perminas dan penyedia teknologi membangun fasilitas pemurniannya nanti bangunnya juga di sebelah fasilitas kita di Bangka nanti kita akan istilahnya kita akan pembayaran ya pembayaran pemurniannya sesuai dengan volume saja,” katanya.
Skema tersebut memungkinkan PT Timah mengembangkan bisnis REE tanpa harus mengeluarkan investasi besar untuk membangun pabrik pemurnian. Perusahaan akan membayar jasa pengolahan berdasarkan volume material yang diproses.
Selain PT Timah, sejumlah pelaku industri lain juga mulai melirik peluang pengembangan logam tanah jarang. Salah satunya adalah PT Arsari Tambang yang berencana membangun pusat riset dan pengembangan REE berbasis timah di Bangka Belitung.
Direktur Utama PT Arsari Tambang, Aryo Djojohadikusumo mengatakan bahwa REE merupakan salah satu produk sampingan timah yang memiliki prospek besar di masa depan. “Saat ini, salah satu produk sampingan dari timah adalah REE, seperti neodymium, dysprosium, dan semua unsur tanah jarang tersebut merupakan produk sampingan dari timah dan semoga kita dapat memanfaatkannya,” kata Aryo.
Menurutnya, Indonesia sudah terlalu lama menjadi produsen timah tanpa memiliki pusat riset yang memadai untuk mengembangkan teknologi turunannya. “Salah satu hal yang sedang kami investasikan adalah membangun pusat riset timah dan unsur tanah jarang di Bangka,” ujarnya.
Ia bahkan membuka peluang kerja sama dengan PT Timah dalam pengembangan pusat riset tersebut. “Suatu hari nanti akan membangun pusat riset timah yang dapat kami gunakan untuk berinvestasi dalam teknologi baru karena solder pada masa depan, dalam penggunaan semikonduktor, membutuhkan lebih banyak investasi pada teknologi,” tambah Aryo.
Masuknya Arsari Tambang menunjukkan bahwa pengembangan REE mulai dipandang sebagai peluang bisnis jangka panjang. Tidak hanya menghasilkan produk mineral, industri ini berpotensi melahirkan ekosistem manufaktur berbasis teknologi tinggi yang selama ini belum berkembang di Indonesia. EI




















