30.7 C
Jakarta
Feb 18, 2020.
Image default

Bagaimana Prospek Industri Sawit di Tengah Tekanan Uni Eropa?

Proses pengumpulan tandan buah segar kelapa sawit menggunakan traktor Mahindra. Traktor asal India ini diageni oleh PT Intraco Penta Wahana dari Intracopenta Group (Dok. IPW)

Industri sawit Indonesia dan Malaysia menghadapi tekanan dari Uni Eropa yang mengkampanyekan sawit tidak ramah lingkungan. Ancaman dari benua biru ini membuat harga minyak sawit tertekan. Pasalnya, Eropa merupakan salah satu pasar ekspor yang besar.

Uni Eropa akan menerapkan kebijakan Renewable Energy Directive 2 (RED 2). Kebijakan ini berserta aturan teknisnya bertujuan mengurangi penggunaan sawit sebagai biofuel mulai dari 2021 hingga 2030.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Joko Supriyono berpendapat kebijakan itu harus ditanggapi serius oleh Indonesia karena akan memiliki dampak jangka panjang bagi negara kita. Dia mengemukan dua alasan. Pertama, pangsa pasar  ekpsor minyak sawit Indonesia ke Eropa mencapai  4,5 juta ton dan bernilai US$ 3 miliar per tahun, terbesar kedua di antara pasar tradisional sawit Indonesia. Alasan kedua,  bila Eropa melanjutkan penerapan regulasi itu, maka dampaknya bisa merembet ke urusan-urusan lain.

“Untuk sekarang hal yang dibatasi adalah bahan bakar untuk biodiesel, tapi sangat mungkin terjadi jika regulasi ini berjalan dengan sukses, maka untuk food pun akan dibatasi. Karena sekarang beredar isu mengenai kesehatan  dan bukan tidak mungkin hal tersebut akan menjadi hal yang diadopsi oleh parlemen Eropa,” ujar Joko saat rapat dengar pendapat dengan Komisi IV DPR RI, Senin (25/11).

“Oleh karena itu, kami berharap bahwa pemerintah dan DPR juga bisa turut serta dalam mengawal, mengantisipasi bahwa dampak dari regulasi ini tidak akan menyebar luas,” tambahnya.

Di tengah tekanan dari Eropa ini, Joko mengungkapkan permintaan minyak nabati, termasuk sawit global, sebenarnya masih tinggi. Bakan tingkat permintaannya lebih tinggi dibandingkan tingkat produksi. Tren konsumsi minyak nabati yang meningkat ini sejalan dengan pertumbuhan populasi dunia dan naiknya income perkapita di beberapa negara, khususnya di negara-negara berkembang. Konsumsi yang terus meningkat ini harus diimbangi dengan produksi yang kuat juga. Merujuk data Reuters, Joko mengatakan pertumbuhan produksi minyak nabati itu sebenarnya masih lebih rendah dari pertumbuhan demand.

“Kalau produksi itu tumbuh hingga 34,5% sedangkan demand-nya tumbuh 35,9%, hal ini menandakan demand sangat kuat di masa yang akan datang sehingga harus dipenuhi dengan produksi yang lebih kuat lagi. Ini tentu harus menjadi peluang tersendiri bagi minyak sawit,” terangnya.

Joko menilai terjadi pergeseran pola permintaan minyak nabati di pasar global. Bila selama ini penggunaan minyak nabati, termasuk sawit, didominasi untuk kepentingan makanan (food), belakangan ini juga tumbuh permintaan untuk penggunaan non makanan, terutama untuk industri dan biofuel.

“Bahkan untuk kebutuhan industri non food atau biofuel justru tumbuh lebih tinggi daripada makanan. Ini menjadi peluang bagi minyak nabati atau kelapa sawit untuk bagaimna bisa mengambil opportunity ini bagi kepentingan Indonesia,” ujarnya.

Diversifikasi pasar

Berdasarkan data ekpsor tahun 2018 yang pernah dirilis GAPKI, negara  yang paling banyak menyerap sawit dari Indonesia adalah India, Uni Eropa dan China. Dari total 34,71 juta ton Crude Palm Oil (CPO) yang diekspor tahun 2018, yang diekspor ke India sebanyak 6,71 juta ton. Sedangkan ke Uni Eropa 4,78 juta ton dan China sebesar 4,41 juta ton.

Joko mengatakan para pelaku industri sawit Indonesia dengan bantuan pemerintah terus berupaya memperluas pasar ekpsor, terutama ke negara-negara Afrika. Total ekspor ke Afrika pada tahun lalu mencapai 2,58 juta ton. “Inilah yang sedang dilakukan bersama antara pelaku usaha dan pemerintah, dimana Presiden meminta agar pelaku usaha mulai mendiversifikasi pasar negara-negara non tradisional,” ungkapnya.

Joko menambahkan ekspor CPO ke negara-negara non tradisional ini mengalami peningkatan yang cukup baik. Bahkan, menurutnya, sekelompok pasar non tradisional sudah mengimpor tahun lalu sebanyak 6,5 juta ton. “Kalau dilihat pertumbuhannya, ini 16% per tahun, cukup menarik dan ini adalah sebagian besar di negara-negara Afrika dan beberapa di Asia Timur,” ujarnya.

Related posts