31.6 C
Jakarta
14 Mei, 2021.

Penjualan Alat Berat UNTR 2020 Hanya 1.564 Unit

Hydraulic excavator Komatsu PC195 LC (Foto: KI)

Situasi pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia hampir sepanjang tahun 2020 bahkan sampai saat ini berimbas pada kinerja PT United Tractors Tbk (UNTR). Hal ini terlihat, di antaranya, dari kinerja penjualan alat berat Komatsu yang masuk dalam segmen usaha Mesin Konstruksi. 

Dalam laporan kinerja tahun 2020, UNTR menjelaskan sepanjang 2020 terjadi penurunan penjualan alat berat Komatsu sebesar 47% menjadi 1.564 unit. Padahal pada 2019 perusahan ini berhasil menjual 2.926 unit.

Pelemahan harga komoditas dan penurunan aktivitas di semua sektor pengguna alat berat berdampak pada penurunan permintaan alat berat. Hal yang sama juga terjadi pada pendapatan perseroan dari penjualan suku cadang dan jasa pemeliharaan alat yang juga turun sebesar 34% menjadi sebesar Rp6,0 triliun. Meski demikian, dari riset pasar internal, Komatsu tetap mampu mempertahankan posisinya sebagai market leader alat berat, dengan pangsa pasar domestik sebesar 29%.

Truk Scania di arena GIOCOMVEC 2020. (Foto: EI)

Sementara penjualan UD Trucks mengalami penurunan dari 420 unit menjadi 224 unit serta penjualan produk Scania turun dari 432 unit menjadi 217 unit. Total pendapatan bersih dari segmen usaha Mesin Konstruksi turun 41% menjadi sebesar Rp13,4 triliun dibandingkan Rp22,6 triliun pada tahun 2019.

Sepanjang tahun 2020, UNTR membukukan pendapatan bersih sebesar Rp.60,3 triliun. Jika dibandingkan capaian tahun 2019 terjadi penurunan sebesar 29%. Tahun 2019 perseroan membukukan pendapatan bersih sebesar Rp.84,4 triliun. Sementara laba bersih perseroan sebesar Rp 6,0 triliun. Padahal pada tahun 2019, perusahaan ini berhasil meraih laba bersih sebesar Rp.11,3 triliun.

Sejauh ini, kontributor terbesar masih datang dari Kontraktor Penambangan yang dilaksanakan oleh PT Pamapersada Nusantara (PAMA). Segmen usaha ini menyumbang 48% untuk total pendapatan perusahaan.

Pada tahun 2020, PAMA mencatat pendapatan bersih sebesar Rp29,2 triliun. Dibandingkan tahun 2019 turun 26% dari Rp39,3 triliun. PAMA mencatat penurunan volume produksi batu bara sebesar 13% dari 131,2 juta ton menjadi 114,6 juta ton. Volume pekerjaan pemindahan tanah (overburden removal) turun 17% dari 988,9 juta bcm menjadi 825,0 juta bcm.

Selanjutnya, Segmen Usaha Mesin Konstruksi menyumbang 22% dari total pendapatan perseroan. Kemudian segmen pertambangan batu bara yang dijalankan oleh PT Tuah Turangga Agung (TTA) memberi kontribusi 16% bagi total pendapatan perseroan.

Hingga Desember 2020 total penjualan batu bara mencapai 9,3 juta ton. Ini sudah termasuk di dalamnya 1,9 juta ton batu bara kokas. Capain ini meningkat 9% dibanding tahun 2019 yang tercatat sebesar 8,5 juta ton. Namun, pendapatan segmen usaha Pertambangan Batu Bara turun 11% menjadi Rp9,5 triliun dikarenakan penurunan rata-rata harga jual batu bara.

Perusahaan ini juga bergerak di segmen pertambangan emas. Segmen ini menyumbang 12% bagi pendapatan perseroan. Segmen usaha Pertambangan Emas dijalankan oleh PT Agincourt Resources (PTAR). PTAR mengoperasikan tambang emas Martabe di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara.

Pada tahun 2020, total penjualan setara emas dari Martabe mencapai 320 ribu ons atau turun 22% dibandingkan dengan tahun lalu sebanyak 410 ribu ons. Segmen usaha Pertambangan Emas membukukan pendapatan bersih sebesar Rp7,0 triliun atau turun 12% dari Rp7,9 triliun. Rata-rata harga jual terealisasi untuk emas setelah hedging adalah sebesar USD1.465 per ons. Harga ini lebih baik dibandingkan pada 2019 di USD1.369 per ons.

Ada juga segmen usaha Industri konstruksi yang dijalankan oleh PT Acset Indonusa,Tbk (ACSET). Pada tahun 2020, Industri Konstruksi membukukan pendapatan bersih sebesar Rp1,2 triliun. Padahal pada tahun 2019 perusahaan ini berhasil meraih pendapatan bersih sebesar Rp3,9 triliun. ACSET membukukan rugi bersih sebesar Rp1,3 triliun yang disebabkan oleh perlambatan pekerjaan beberapa proyek yang sedang berlangsung. Selain itu berkurangnya peluang memperoleh kontrak baru akibat dampak pandemi COVID-19.

Segmen usaha lain di sektor energi lewat PT Bhumi Jati Power (BJP) yang saat ini sedang membangun pembangkit listrik tenaga uap berkapasitas 2×1.000 MW di Jepara, Jawa Tengah. Hingga bulan Desember 2020, progres pembangunan konstruksi proyek ini telah mencapai 97%. BJP merupakan perusahaan patungan bersama antara anak usaha Perseroan, Sumitomo Corporation dan Kansai Electric Power Co Inc. Di BJP anak usaha perseroan menguasai 25% saham.

Related posts

346356
Users Today : 715
This Year : 58816
Total Users : 345656
Views Today : 8925
Total views : 8971385
Who's Online : 22
Your IP Address : 3.236.222.124
Server Time : 2021-05-14