27 C
Jakarta
Apr 5, 2020.
Industry Mining Top News

Seperti Apa Prospek Harga Batubara Tahun 2020?

Liebherr Dozer PR776 dan Liebherr Excavator R9800 beroperasi di tambang batubara (Dok. Liebherr)

Tahun 2019 bukan tahun yang menyenangkan bagi pelaku industri batubara. Harga emas hitam itu anjok signifikan. Sebagai gambaran, simak saja harga batubara acuan (HBA) yang ditetapkan tiap bulan oleh pemerintah Indonesia. Pada November 2019, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan HBA sebesar US$ 66,27 per ton. Padahal pada periode November tahun 2018 lalu, HBA sebesar US$ 97,9. Artinya, secara year on year (yoy), HBA Indonesia turun 47,73%.

Di tengah harga batubara yang lesu ini, sebenarnya produksi batubara di Indonesia masih terus meningkat setiap tahun. Artinya aktivitas di sektor pertambangan masih meningkat. Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, Bambang Gatot Ariyono, dalam sebuah diskusi pertengahan November lalu bahkan mengaku kesulitan untuk mengendalikan produksi batubara di Indonesia. Mengapa demikian? Kewenangan di sektor batuabara tidak hanya berada di tangan pemerintah pusat, tetapi juga pemerintah daerah.  

“Di era otonomi daerah dikeluarkan IUP (izin usaha pertambangan) yang sangat besar jumlahnya, hampir 12.000. Bahkan sekarang kita sudah simplifikasi dengan Clean and Clear tinggal 3.000. Tetapi yang level tahapan operasi produksi jumlahnya ada 1.150 IUP di luar PKP2B,” kata Bambang.

Pada tahun 2019, dari sekitar 490 juta ton produksi batubara yang ditetapkan pemerintah, realisasinya diperkirakna akan mencapai 600 juta ton. Kondisi yang sama sudah terjadi pada 2018 lalu dimana produksi mencapai 530 juta ton, padahal yang ditetapkan pemerintah hanya 487 juta ton. Bambang memperkirakan tahun 2020 nanti produksinya makin tinggi yaitu 700 juta ton. “Saya tidak bisa menyatakan stop dulu karena produksi sudah over. Saya tidak bisa begitu,” ujarnya.

Produksi yang melimpah ini, menurutnya, turut membuat harga batubara menjadi turun. Karena itu, Bambang mengajak para pelaku industri batubara di Indonesia bisa menjaga keseimbangan antara supply (produksi) dan demand. “Ini yang tentunya menjadi perhatian kita semua, bagaimana menyeimbangkan antara supply and demand,” ujarnya.

Senada, Direktur Eksekutif Asosiasi Pengusaha Batubara Indonesia (APBI), Hendra Sinadia mengatakan pasokan batubara di pasar saat ini memang terlalu banyak. Dan diakuinya, Indonesia merupakan salah satu pemasok batubara terbesar ke pasar global. Sekitar 70-80% batubara yang dikeduk dari Indonesia diekspor.  

“Harga yang declining itu lebih disebabkan oleh kondisi pasar yang over suplay. Dan Indonesia adalah negara eksportir batubara terbesar dunia, kurang lebih 400 juta ton ekposr kita ke dunia,” ungkapnya.

Salah satu negara importir terbesar batubara Indonesia adalah China. Menurut Hendra, negeri tirai bambu itu mengimpor sekitar 45% batubara dari Indonesia dengan nilai sekitar US$ 7,5 miliar. Kabar baiknya, permintaan batubara Indonesia dari sejumlah negara termasuk China masih tinggi. “Bahkan 9 November lalu, saya kembali dari Shanghai, sign MoU dengan Asosiasi Importir Batubara di China di depan para duta besar dari bebrapa negara. Demand terhadap batubara Indonesia masih tinggi,” ujarnya.

Lantas, bagaimana prospek harga batubara tahun 2020. “Mungkin masih tertekan, tetapi kita harapkan di atas US$ 70 (per ton),” kata Hendra. Direktur Riset Centre of Reform on Economics (CORE) Pieter Abdulla juga melihat pada 2020 harga batubara akan lebih baik dibandingkan tahun 2019. Salah satu faktor pengungkitnya adalah karena permintaan batubara dari China dan juga India diperkirakan akan meningkat.

“China yang selama ini mengurangi batubara karena mengarah ke green economy, akibat perang dagang (dengan AS) kemudian sedikit meninggalkan konsep green economy-nya, dia balik lagi ke batubara,” ungkapnya saat ditemui Equipment Indonesia dalam sebuah diskusi di Jakarta, pertengahan November lalu. EI

102 total views, 3 views today

Related posts