
Pandemi Covid-19 masih belum selesai. Perjalanan roda ekonomi tahun 2023 dibayangi resesi global. Lantas bagaimana kondisi dunia usaha khususnya sektor alat berat? Secara umum, bagaimana para pelaku usaha menyikapi gambaran suram ekonomi nasional tahun depan?

Jujur saja, sebetulnya ada kegamangan di kalangan pengusaha industri alat barat. Apakah tahun depan bisnis batubara masih bagus? Apakah harga komoditas masih tinggi? Bukankah puncak penjualan alat berat, sudah terjadi di tahun 2022 ini, begitu menurut Perhimpunan Agen Tunggal Alat Berat Indonesia (PAABI)? Tahun depan hanya realisasi order saja. Apa yang akan terjadi setelah itu?

Menurut Roadmap Infrastruktur Indonesia, permintaan alat berat akan meningkat dalam beberapa tahun ke depan menyusul rekor tertinggi yang dicapai pada 2021. Rekor permintaan alat berat diperkirakan masih akan terjadi pada 2022 dan 2023.
Menguatnya harga komoditas masih berlangsung hingga sekarang. Kondisi ini telah mendorong meningkatnya permintaan alat berat dan berbagai pendukung logistik di sektor tersebut. Permintaan yang terus menguat itu diperkirakan berlanjut hingga 2023.
Prospek tersebut memberikan dampak terhadap pertumbuhan bisnis alat berat yang, menurut perkiraan Himpunan Industri Alat Berat Indonesia (HINABI), tahun 2022 ini sekitar 30% hingga 40%.
Menjawab kegalauan apakah bisnis batubara tahun depan masih tinggi, Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) memperkirakan harga batubara pada akhir tahun 2022 masih tinggi. Sejalan dengan itu, pelaku usaha melihat prospek bisnis pada 2023 masih cukup menjanjikan.
Permintaan terhadap batubara diperkirakan masih cukup bagus tahun depan. Adapun pembeli strategis batubara masih dari negara-negara seperti Tiongkok, India, dan negara-negara lainnya. Prospek permintaan dari Eropa masih tetap ada karena mereka membutuhkan banyak batubara tahun depan.
Pemulihan ekonomi yang berlanjut hingga 2023 membawa peluang usaha bagi perusahaan penjual dan penyewa di industri alat berat, meski diramalkan tidak selaju kencang seperti pada 2022. Itu karena permintaan batubara tahun depan diperkirakan tertekan karena dipengaruhi oleh kondisi ekonomi dunia yang di ambang resesi.
Diversifikasi bisnis UNTR

Pemulihan ekonomi dan prospek pertumbuhan bisnis batubara menjadi latar belakang PT United Tractors Tbk (UNTR) untuk terus menggenjot penjualan alat berat dan melakukan diversifikasi bisnis. Bisnis tambang yang tumbuh moncer hingga akhir tahun 2022 membuat UNTR kebanjiran permintaan alat berat.
UNTR mengestimasikan, penjualan alat berat mencapai 5.500 unit tahun 2022. Jumlah ini sekitar 56% lebih banyak dari penjualan sebanyak 3.088 unit pada 2021. Peningkatan penjualan alat berat UNTR tahun ini didorong oleh permintaan dari sektor pertambangan dengan porsi lebih dari 60%. Selebihnya dari sektor konstruksi, kehutanan, dan agro.
Target bisnis UNTR tahun depan naik seiring masih solidnya harga batubara. Karena itu, UNTR mengejar target tinggi pada 2023. Penjualan alat berat Komatsu, misalnya, ditargetkan 5.750 unit, naik 4,55%, dari proyeksi penjualan tahun ini sebanyak 5.500 unit.
Adapun produksi batubara ditargetkan naik 5% menjadi 123 juta ton pada 2023, dari proyeksi tahun ini sebanyak 117 juta ton. Sementara volume penjualan batubara pada 2023 diperkirakan tumbuh 5% dari proyeksi tahun ini sebanyak 9 juta ton.
Sara K. Loebis, Sekretaris Perusahaan UNTR, mengatakan, penjualan alat berat dan batubara Perseroan melaju hingga Oktober 2022. UNTR mencatatkan penjualan 5.087 unit alat berat Komatsu sepanjang periode Januari hingga Oktober (10 bulan) 2022. Jika dibandingkan dengan periode yang sama 2021, penjualan Komatsu UNTR melesat 96,4% dari sebanyak 2.590 unit. Dengan demikian, hingga Oktober 2022, anak usaha PT Astra International Tbk (ASII) ini telah merealisasikan 92,49% dari target penjualan alat berat tahun ini.
Penjualan UNTR di periode ini masih didominasi oleh pelanggan dari sektor pertambangan sebesar 61%, disusul penjualan ke sektor konstruksi sebesar 18%, sektor kehutanan sebesar 11%, dan sektor agribisnis sebesar 10%. Pangsa pasar Komatsu per oktober 2022 sebesar 29%.
Pada periode Oktober 2022, UNTR menjual 553 unit alat berat, naik 1,46% dari penjualan pada September 2022 sebesar 545 unit. Penjualan masih didominasi oleh sektor pertambangan sebesar 60%, disusul sektor konstruksi sebesar 20%, sektor kehutanan 10%, dan sektor agribisnis 10%.
Selain alat berat, segmen bisnis batubara UNTR yang dijalankan oleh anak usahanya, yakni PT Tuah Turangga Agung (TTA) juga tumbuh moncer. Sepanjang 10 bulan 2022, UNTR membukukan volume penjualan 8,50 juta ton batubara, naik 4,30% dari realisasi penjualan di periode yang sama tahun 2021 sebanyak 8,15 juta ton. Penjualan batubara UNTR pada periode Oktober sebesar 733.000 ton, naik 53,99% dari realisasi penjualan pada bulan sebelumnya yang hanya 476.000 ton.
Terkait dengan diversifikasi bisnis, Sara mengemukakan, UNTR melalui anak usaha, yaitu PT Danusa Tambang Nusantara (DTN), mengakuisisi dua perusahaan sektor nikel, yakni PT Stargate Pasific Resources (SPR) dan PT Stargate Mineral Asia (SMA) senilai Rp 4,27 triliun (US$ 271,83 juta). SPR adalah perusahaan di bidang pertambangan mineral nikel, sedangkan SMA bergerak di bidang pengolahan (smelter) mineral nikel.
“Pada 3 Desember 2022, DTN menandatangani perjanjian jual beli saham bersyarat (conditional shares sale and purchase agreement/CSPA) dengan PT Anugerah Surya Pacific Resources (ASPR) dan PT Anugerah Surya Investama (ASI),” katanya dalam keterbukaan informasi yang disampaikan ke Bursa Efek Indonesia (BEI), dikutip Kamis (8/12).
CSPA tersebut untuk rencana pembelian saham setara dengan 89,99871% dari seluruh total saham disetor penuh dalam SPR milik ASPR. Selain itu, untuk rencana pembelian saham setara dengan 0,0009% dari seluruh total saham disetor penuh dalam SPR milik ASI.
Selanjutnya, CSPA dengan ASPR dan SPR untuk rencana pembelian saham setara dengan 89% dari total seluruh saham disetor dalam SMA milik dari ASPR, dan 1% dari total seluruh saham yang disetor dalam SMA milik SPR.
“Nilai keseluruhan transaksi mencapai US$ 271,83 juta atau setara dengan Rp 4,27 triliun. Nilai keseluruhan atas transaksi tersebut dapat berubah pada saat penutupan transaksi. Itu karena ada penyesuaian terkait dengan net debt dan debt-like items, jumlah penyesuaian modal kerja, dan penyesuaian kurs,” katanya.
Sara mengungkapkan, tujuan transaksi ini adalah untuk melakukan diversifikasi kegiatan usaha UNTR melalui perusahaan terkendalinya, yakni DTN, dengan mengembangkan usaha di sektor pertambangan, jasa, dan pengolahan mineral nikel.
Setelah penandatanganan seluruh CSPA ini, baik DTN maupun ASPR, ASI,
dan SPR akan melakukan pemenuhan persyaratan pendahuluan dengan tanggal akhir penyelesaian akan jatuh pada suatu tanggal yang merupakan empat bulan setelah tanda tangan CSPA atau pada waktu lain yang disepakati oleh DTN serta ASPR, ASI, dan SPR.
Sara menekankan, pada saat tercapainya kondisi penyelesaian (closing) dalam CSPA, saham-saham milik ASPR dan ASI pada SPR dan saham-saham milik ASPR dan SPR pada SMA akan beralih kepada DTN.
Samuel Sekuritas Indonesia menilai positif atas akuisisi perusahaan nikel tersebut. “Kami melihat positif langkah diversifikasi bisnis yang dilakukan UNTR. Akuisisi tersebut diperkirakan tidak akan berdampak signifikan terhadap balance sheet Perseroan,” tulis tim analis pasar modal Samuel Sekuritas.
Proyeksi penjualan yang lebih tinggi tahun 2023
PT Hexindo Adiperkasa Tbk (HEXA) juga mendulang untung. Pada periode enam bulan yang berakhir pada 30 September 2022, HEXA telah membukukan penghasilan neto sebesar US$ 262,62 juta, tumbuh 47% jika dibandingkan penghasilan neto HEXA pada periode yang sama tahun fiskal 2021 sebesar US$ 178,64 juta.
Mayoritas penghasilan neto tersebut berasal dari penjualan alat berat yang mencapai US$ 169,35 juta atau setara 64,48% dari total penghasilan neto HEXA per September 2022, atau tumbuh 66,19%, dari US$ 101,90 juta per September 2021. Sedang sisanya berasal dari lini usaha penjualan suku cadang, jasa pemeliharaan dan perbaikan, serta jasa penyewaan alat berat.
Emiten di bidang perdagangan alat-alat berat dan pelayanan purna jual dengan merek utama Hitachi ini menetapkan proyeksi penjualan sebesar US$ 531,9 juta untuk periode April 2022 – Maret 2023. Angka proyeksi ini lebih tinggi 14,8% dibandingkan realisasi di periode sama tahun fiskal 2021 sebesar US$ 463,3 juta.
KOBX perkuat penjualan di semua sektor

Bagaimana dengan PT Kobexindo Tractors Tbk (KOBX)? Emiten penyedia alat berat terintegrasi ini terus berinovasi dan menangkap peluang-peluang yang ada demi pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.
Seperti yang dilakukan KOBX di pengujung September 2022. Saat itu, KOBX menandatangani perjanjian kerjasama dengan pihak prinsipal NHL TEREX guna menjamin kesediaan pasokan alat berat secara tepat waktu pada tahun 2023. Manajemen KOBX optimistis, solidnya kinerja penjualan dan neraca keuangan KOBX per September 2022 akan terus berlanjut.
Selama periode Januari hingga September 2022, KOBX berhasil membukukan pertumbuhan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar 35,87% menjadi US$ 6,36 juta, dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar US$ 4,68 juta.
Pertumbuhan laba tersebut, tidak lepas dari pertumbuhan pendapatan konsolidasi KOBX. Per September 2022, pendapatan KOBX tumbuh 42,80% menjadi US$ 127,78 juta, dibandingkan sebesar US$ 89,48 juta per September 2021.
Pendapatan secara konsolidasi tersebut ditopang oleh keempat segmen yang dimiliki KOBX, yaitu penjualan unit alat berat, penjualan suku cadang, jasa perbaikan dan kontraktor pertambangan, dan pendapatan sewa (alat berat dan bangunan).
“Kenaikan harga komoditas tambang menjadi katalis pertumbuhan kami pada triwulan III 2022. Untuk akhir tahun, berdasarkan pencapaian kinerja hingga triwulan III dan stabilnya permintaan alat berat untuk mendukung peningkatan produksi batubara menjelang musim dingin menjadi pertimbangan bagi Perseroan untuk merevisi naik target pendapatan 2022, dari tumbuh 20% menjadi 40%,” ungkap Andry B. Limawan, Direktur Utama KOBX dalam penjelasan laporan keuangan, dikutip Kamis (8/12).
Menurut Andry, optimisme ini sejalan dengan data pertumbuhan ekonomi nasional pada triwulan III 2022 yang tumbuh 5,72%, di mana berdasarkan lapangan usaha, sektor pertambangan memiliki tingkat distribusi sebesar 11,47% terhadap PDB dan mampu tumbuh (year on year/yoy) sebesar 3,22%.
Andry menjelaskan, segmen penjualan unit alat berat merupakan segmen utama KOBX. Per September 2022, sektor ini berhasil berkontribusi sebesar 78,44% terhadap pendapatan secara konsolidasian. Segmen penjualan unit alat berat berhasil meraih pendapatan sebesar US$ 100,23 juta, tumbuh 46,21% dibandingkan tahun lalu US$ 68,55 juta.
KOBX berupaya memperkuat penjualan di semua sektor, baik alat berat pertambangan maupun non-tambang. “Selain memperkenalkan produk-produk baru seperti Doosan Excavator DX1000LC dan Rigid Dump Truck NHL Terex TR100 di kelas 100 ton, kami juga memperkuat strategi diversifikasi dengan memperkenalkan produk Dynapac untuk segmen konstruksi yang baru saja diperkenalkan pada Mining Expo di Jakarta pada pertengahan September 2022,” katanya.
Segmen pendapatan KOBX di luar penjualan unit alat berat pun turut membukukan kinerja positif. Segmen penjualan suku cadang tumbuh 25,95%, dari US$ 11,55 juta di triwulan III 2021 menjadi US$ 14,55 juta di triwulan III 2022. Segmen jasa perbaikan dan kontraktor pertambangan tumbuh 33,16%, dari US$ 6,09 juta menjadi US$ 8,10 juta. Adapun segmen sewa tercatat tumbuh 48,87%, dari US$ 3,29 juta menjadi US$ 4,89 juta per September 2022.
Menurut Andry, KOBX berupaya memaksimalkan peluang untuk pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan. “Selain diversifikasi dalam jajaran lini produk, tahun lalu kami melakukan diversifikasi di bidang jasa, yaitu jasa kontraktor pertambangan,” katanya.
Keputusan tersebut guna memperkuat lini bisnis utama KOBX di bidang alat berat dan sebagai bagian dari konsep pelayanan terintegrasi yang ditawarkan, yakni penjualan unit, penyediaan sparepart dan jasa perbaikan alat berat. Dengan demikian, pelanggan KOBX dapat memilih opsi yang terbaik dan memaksimalkan keuntungannya.
Bagaimana dengan PT Intraco Penta Tbk (INTA)? Perusahaan juga mencatat pendapatan usaha sebesar Rp 497,16 miliar per September 2022, naik dari Rp 443,78 miliar di periode yang sama tahun 2021. Pendapatan INTA berasal dari penjualan alat-alat berat, penjualan suku cadang dan jasa penyewaan.
Meski pendapatan usaha tumbuh, hingga akhir September 2022, INTA masih menderita rugi bersih periode berjalan yang dapat diatribusikan ke pemilik entitas induk sebesar Rp 52,37 miliar. Namun, angka ini menyusut dibandingkan rugi bersih sebesar Rp 196,48 miliar per September 2021. @















