
Keterbatasan ruang, faktor keselamatan di site dan kondisi tanah berpengaruh besar terhadap operasi crane yang melakukan heavy lift.


Kecelakaan kerja saat mengoperasikan crane, baik tower crane, crawler crane dan tipe-tipe crane lainnya sudah kerap terjadi di sekitar kita. Tiga orang pekerja, Januari 2013, menjadi korban tower crane yang ambruk pada sebuah proyek apartemen di Tangerang Selatan. Kecelakaan serupa terjadi lagi jelang akhir 2014 pada proyek apartemen di kawasan Casablanca, Jakarta Selatan yang menyebabkan korbannya luka parah dan akhirnya meninggal dunia. Ada pula crawler crane yang terjungkal ke laut ketika sedang mengangkat beban dan sebagainya.
Crane menjadi pembawa malapetaka sangat mungkin terjadi, apalagi yang jenis besar untuk operasi angkat berat (heavy lifting). Makin besar ukuran sebuah crane, tingkat risikonya pun makin tinggi. Mengoperasikan crane-crane untuk angkat berat harus memperhitungkan berbagai faktor untuk mencegah terjadinya insiden fatal.
Angkat berat adalah pekerjaan paling lazim di sektor industri di mana lingkungan kerja bisa membahayakan atau penuh resiko, khususnya di lokasi-lokasi seperti petrokimia dan energi. Pekerjaan pengangkatan di industri-industri seperti ini memerlukan banyak persiapan dan diperhitungkan dengan cermat supaya pekerjaan heavy lift dapat dilakukan dengan cara yang aman dan efektif.
Repotnya, hampir semua kawasan industri penuh dengan bangunan-bangunan. Kondisi ini menyulitkan maneuver sebuah crane, karena ruang geraknya dibatasi. Crane-crane itu harus bekerja dalam ruang yang makin sempit ketika melakukan pekerjaan heavy lift. Dalam kasus-kasus tertentu, akses ke site juga sulit, terutama di area yang padat penduduk atau daerah-daerah remote yang sulit dijangkau.
Problem seperti ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di belahan dunia lainnya. Perusahaan rental crane yang berkedudukan di AS, All Erection & Crane Rental Corp, misalnya, mengakui bahwa operator-operator crane kini dituntut untuk bekerja dalam ruang yang semakin sempit, sehingga diperlukan peralatan yang jangkauannya makin panjang.
Ruang operasi yang semakin menyempit di jobsite juga akan mempengaruhi pengangkutan crane, juga proses bongkar pasangnya. Di Jepang, contohnya, banyak lokasi konstruksi dan jalan yang menyempit. Kontrol terhadap bobot muatan, tinggi dan lebar dari barang-barang yang diangkut juga makin ketat, jurubicara dari perusahaan rental crane, Uchimiya, menambahkan. Untuk mengatasi problem-problem yang bakal timbul terkait dengan operasi crane, perusahaan-perusahaan crane kini lebih banyak melakukan pekerjaan pre-planning daripada sebelumnya.
“Perencanaan dini merupakan sesuatu yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan ini,” kata jurubicara All Erection. “Ini bisa meliputi apa saja mulai dari hak atas udara hingga tekanan beban atas tanah, prosedur-prosedur keselamatan. Setiap bagian dirangkai untuk menyesuaikan dengan proyek customer.”
Logistik melakukan heavy lift juga bisa rumit, sebagaimana dijelaskan Guillaume Gagnon, vice president Guay Cranes, “Hal pertama adalah mengevaluasi bahwa Anda memiliki akses truk dan trailer ke landasan crane dan ruang yang cukup untuk memasang crane. Setelah itu, setiap gerakan harus direncanakan secara baik, terutama jika Anda memiliki (beban) superlift pada crane itu. Di samping itu, crane bantuan harus mampu mengontrol pengimbang beban (counterweight) pada setiap lift. Landasan crane harus memiliki pemadatan yang baik untuk menghindari adanya kejutan selama pengangkatan.”

















