Komatsu mengintegrasikan solusi pengambilan data dari udara dengan menggunakan pesawat tanpa awak ke dalam bisnis Smart Construction-nya yang baru.
Teknologi Komatsu Smart Construction
Komatsu meluncurkan sebuah servis berbasis awan melalui jaringan rentalnya di Jepang yang dirancang untuk meningkatkan keselamatan, produktivitas dan efisiensi operasional di lokasi kerja. Smart Construction, demikian Komatsu menamakannya, dirancang untuk mengumpulkan semua informasi yang terkait dengan sebuah proyek, menghubungkan orang dan mesin-mesin, serta menyediakan informasi yang up-to-date.
Komatsu menyebutkan bahwa ada enam fase untuk proses Smart Construction ini. Pertama adalah survei lokasi dengan presisi tinggi, menggunakan drone (pesawat udara tanpa awak), scanner laser 3-D dan kamera-kamera yang dipasang pada mesin-mesin konstruksi.
Data-data tersebut kemudian digabungkan oleh customer untuk membuat sebuah model komputer 3-D tentang site itu. Komatsu mengatakan, model ini akan membantu menyediakan gambar yang akurat mengenai area, bentuk dan volume tanah yang dipindahkan. Tahap ketiga dalam proses itu adalah memasukkan data mengenai faktor-faktor seperti kondisi tanah dan obyek-obyek yang tersembunyi.
Ini disusul dengan pengembangan rencana konstruksi dan meng-upload-nya ke platform komputasi awan Kom Connect Komatsu. Ini memasukkan suatu simulasi pekerjaan konstruksi, dan memungkinkan para customer untuk bereksperimen dengan proses ‘virtual’ yang berbeda. Begitu pekerjaan mulai, progress-nya secara real-time dapat dicek pada simulasi itu.
Dalam fase konstruksi sendiri, data dari model konstruksi itu dikirim dari Kom Connect ke peralatan kontrol mesin pintar Komatsu pada site. Sistem kontrol mesin pintar itu mengontrol secara otomatis posisi blade atau bucket, yang berarti operator-operator yang kurang berpengalaman makin mampu melakukan pekerjaan denganpresisi tinggi, dan kemajuan dari proyek yang sedang dikerjakan dapat dimonitor dan dimasukkan ke dalam sistem Kom Connect.
Sebagai tahap akhir dalam proses ini, data yang tersimpan dapat digunakan untuk memberikan informasi sebagaimana adanya kepada klien dan menjadi sumber informasi penting untuk maintenance infrastruktur ke depan.
Komatsu dalam waktu dekat akan membuka sebuah support center Smart Construction, yang digawangi oleh pakar-pakar dalam bidangnya. Untuk tahap awal, Komatsu menggulirkan servis ini pada 123 cabang Komatsu Rental di Jepang per awal Februari ini.
Komatsu Smart Construction menggunakan drone-drone buatan Skycatch, pabrikan yang berkedudukan di San Francisco. Alat-alat ini yang akan mensurvei lokasi-lokasi kerja sebelum mengirimkan data ke mesin-mesin yang dilengkapi dengan teknologi iMC (Intelligent Machine Control) dari Komatsu.
Mengaplikasi sistem pintar Komatsu ini, para pekerja konstruksi hanya akan memprogram drone-drone itu, menekan sebuah tombol yang melepas unit-unit itu ke rute-rute yang sudah diprogram, dan memonitor perkembangannya. Pabrikan ini beralasan, pengenalan teknologi ini untuk mengantisipasi keterbatasan ketersediaan pekerja konstruksi di Jepang.
Akinori Onodera, presiden Komatsu yang mengawasi proyek Smart Construction ini, seperti dilansir dari WSJ, mengatakan bahwa pengguaan alat-alat tanpa awak ini untuk mengantisipasi makin ramainya proyek-proyek konstruksi di Jepang, terutama jelang penyelenggaraan Olimpiade Musim Panas 2020 di Tokyo. Terdapat ribuan proyek konstruksi yang akan dikerjakan, sementara ketersediaan tenaga kerja di Jepang semakin berkurang. “Kami harus meningkatkan produktivitas,” kata Onodera.
Dia menambahkan bahwa perusahaan yang bermarkas di Tokyo ini telah coba menggunakan scanner-scanner yang diletakkan di tanah, tetapi menggunakan drone-drone ternyata lebih efisien.
“Jika kami ingin mengukur suatu tempat konstruksi yang luas, mengukur dari udara, jauh, jauh lebih mudah,” uja Onodera. “Cara kerja lama memerlukan dua orang selama satu minggu. Sementara drone-drone ini dapat melakukannya dalam satu atau dua jam untuk ukuran site yang sama.
Drone-drone buatan Skycatch ini diprogram untuk terbang sendiri di atas satu area yang sudah ditetapkan dan menggunakan sensor-sensor untuk mengumpulkan data pada daerah di bawahnya. Bahkan drone-drone itu kembali ke stasiun di daratan dan mengganti bateri ketika power-nya melemah.
Komatsu berencana untuk menyewakan dan mengoperasikan 200 perlengkapan buatan Skycatch untuk para pelanggannya selama beberapa tahun yang akan datang, suatu perubahan dari bisnis intinya menjual alat berat dan konstruksi.
“Kami percaya ada potensi yang besar sekali dalam bidang otomatisasi,” kata Onodera. “Kami pikir ini adalah kondisi jobsite yang sesungguhnya pada masa yang akan datang.”
Beberapa perusahaan sebetulnya sudah mulai menggunakan truk-truk dan peralatan-peralatan berat lain yang sudah diprogram untuk bekerja sendiri tanpa awak di beberapa lokasi tambang dalam beberapa tahun terakhir. Namun, teknologi yang dikembangkan Komatsu ini tampaknya menjadi salah satu program yang paling ambisius untuk mengotomatiskan pekerjaan. @





















