Alat Berat
Business Feature Press Release Sponsored Content Top News

Pasokan Terbatas, Harga Amonia Global Naik

PT Surya Esa Perkasa Tbk (ESSA), emiten yang bergerak di sektor energi dan kimia melalui kilang LPG (liquefied petroleum gas) dan produksi amonia, melihat peningkatan permintaan amonia akibat keterbatasan pasokan. ESSA juga melihat potensi kenaikan yang signifikan untuk mengembangkan amonia biru pada fasilitas produksi amonia ESSA sebagai alternatif energi rendah-karbon untuk masa depan.

Amonia banyak digunakan sebagai bahan baku pembuatan pupuk, plastik, dan bahan kimia di seluruh dunia. Namun, perkiraan permintaan Amonia saat ini belum mempertimbangkan peran amonia sebagai bahan bakar masa depan karena kandungan hidrogennya tinggi, nol emisi CO2 pada saat pembakaran, serta pengiriman logistik yang dapat diandalkan.

Presiden Direktur & Chief Executive Officer ESSA, Vinod Laroya, dikutip dari rilis yang diterima Equipment Indonesia, Senin (22/3), mengungkapkan, meskipun harga amonia mengalami penurunan secara signifikan karena dampak pandemi Covid-19 yang mengakibatkan pelambatan pada 2020, namun pasar Amonia relatif mampu bertahan terhadap pandemi. Hal ini ditunjukkan dengan adanya kenaikan kembali harga amonia secara tajam sejak Januari 2021 yang didorong oleh masalah hambatan pasokan serta karena memasuki masa awal pemulihan permintaan.

Anak usaha ESSA, PT. Panca Amara Utama (PAU), yang terletak di Luwuk, Banggai, Sulawesi Tengah merupakan pabrik amonia pertama di dunia yang menggunakan teknologi terbaru dan paling efisien pemakaian bahan bakarnya, yaitu KBR Reforming Exchanger System (KRES) dan Purifier Technology. “Perseroan berupaya memanfaatkan basis operasionalnya yang kokoh untuk membangun generasi produk berikutnya, khususnya amonia biru,” ujarya.

ESSA, pada 18 Maret lalu, melalui PAU telah menandatangani MoU tentang Pengumpulan, Pemanfaatan dan Penyimpanan Karbon (Carbon Capture, Utilization & Storage/CCUS) bersama dengan Japan Oil, Gas and Metals National Corporation (JOGMEC), Mitsubishi Corporation (MC), dan Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk mengembangkan produksi amonia rendah karbon atau dikenal sebagai amonia biru di Indonesia. “Hal ini menegaskan komitmen kami dalam menciptakan masa depan berkelanjutan sambil memperluas jangkauan pasar amonia saat ini,” tandas Vinod Laroya.

Berita Terkait