Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example 728x250
BusinessMiningTop News

Seminar Nasional PERTAABI: Mencari Solusi Operasi Tambang yang Ramah Lingkungan

165
×

Seminar Nasional PERTAABI: Mencari Solusi Operasi Tambang yang Ramah Lingkungan

Share this article
Example 468x60

Perkumpulan Tenaga Ahli Alat Berat Indonesia (PERTAABI) menyelenggarakan seminar nasional yang mengusung tema “Technology, Safety & Green Energy” di Hotel Novotel Balikpapan, Kalimantan Timur, Senin (30/10/2023). Seminar yang diprakarsai oleh PERTAABI Kalimantan Timur ini dibuka oleh Kepala Dinas Penanaman Modal Perizinan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP), Hasbullah Helmi, mewakili Wali Kota Balikpapan H Rahmad Mas’ud.

Hasbullah Helmi menyatakan sangat mendukung penyelenggaraan seminar nasional PERTAABI ini, dan diharapkan memberikan konstribusi positif terhadap perkembangan industri alat berat di Kalimantan Timur. “Atas nama Pemkot Balikpapan, kami menyambut baik diselenggarakannya seminar ini, yang diharapkan menghasilkan gagasan konstruktif bagi perkembangan industri peralatan tambang dan isu kelestarian lingkungan hidup,” ungkapnya.

ALTRAK

Helmi menambahkan, pembangunan yang berkelanjutan sudah menjadi keharusan dewasa ini untuk mencegah kerusakan lingkungan hidup yang lebih parah karena perubahan iklim. Dia berharap para pelaku industri alat berat dapat mengembangkan teknologi yang mampu menghasilkan metode yang dapat meminimalisir kerusakan lingkungan yang sudah mengkhawatirkan ini.

Adapun pengurus-pengurus PERTAABI yang hadir dalam seminar ini adalah Direktur PERTAABI Rochman Alamsjah, Wakil Direktur PERTAABI Tri Hariyatno, Sekretaris Jenderal PERTAABI Tommy Nugrahanto Wisudawan, Ketua Dewan Pembina PERTAABI Suharyanto, Ketua Regional PERTAABI Kaltim Totok Haryanto serta anggota-anggota PERTAABI lainnya baik dari wilayah Kaltim maupun dari luar wilayah Kaltim.

Seminar nasional PERTAABI kali ini menyoroti dampak bisnis batubara terhadap pelestarian lingkungan, dan berbagai upaya pengembangan sumber energi baru. Ahmad Kharis, Direktur HPU, yang tampil sebagai salah seorang narasumber mempertanyakan kesiapan Indonesia untuk melakukan transisi energi. “Kita punya semua resources untuk alternative energy, tetapi faktaya, belum banyak kemajuan. Belum banyak yang pakai. Pergerakan menuju green energy sangat lambat di Indonesia,” kata Kharis sembari menambahkan bahwa diperlukan dukungan dan infrastruktur yang terjangkau untuk percepat pertumbuhan green energy.

Mencermati jalan panjang menuju transisi energi, Kharis menilai batubara tetap menjadi pilihan sehingga permintaannya masih akan tetap tinggi pada tahun-tahun mendatang. “Peak permintaan batubara di Indonesia terjadi pada tahun lalu. Diharapkan pada tahun ini permintaan coal masih tetap tinggi, dan diperkirakan kondisi itu terjadi hingga tahun 2030. Gak usaha ragu-ragu. Targetnya pada 2060 Indonesia sudah menerapkan Net Zero Emission,” ungkapnya.

Baca Juga :  Apakah Anda Sedang Mencari Milling Machine?

Sahala Sigalingging, Head of Electric Vehicle PT Petrosea Tbk berbicara mengenai peluang elektrifikasi alat tambang. Ia mengatakan, di atas 95% peralatan tambang yang ada saat ini menggunakan tenaga diesel, dan hanya sedikit yang menggunakan EV. “Di sini ada challenge untuk menggunakan EV. Tetapi tidak semua alat tambang bisa menggunakan EV, terutama yang besar-besar seperti truk 100 ton,” ujarnya.

Berdasarkan data, lanjut dia, beberapa BEV telah memasuki aplikasi alat berat di Indonesia, misalnya mesin penggali (Digger) hingga hingga 20t, Dump Truck 40-50t dan Wheel Loader 3,5m3. Meskipun potensinya sangat besar, namun adopsinya tidak mudah karena infrastruktur yang belum memadai, waktu pengisian daya atau kemampuan melakukan pertukaran baterai (battery swap) yang lama, sementara waktu  produksi sangat penting di tambang.

Namun, terlepas dari berbagai tantangan yang ada saat ini, operasi tambang yang yang berbasis teknologi yang lebih ramah lingkungan sudah menjadi kebutuhan demi menciptakan lingkungan kerja yang lebih berkelanjutan.

Iklan Berca