29.5 C
Jakarta
Dec 7, 2019.
Image default

Temukan Solusi Alat Berat di Mining Indonesia 2019

Harga batu bara boleh saja terus tertekan, namun nyali industri alat berat jangan sampai ikut menciut. Pesan seperti seperti itulah yang dapat kita baca dari keramaian pameran Mining & Construction Indonesia 2019 yang berlangsung di Jakarta International Expo, Kemayoran, Jakarta, 18 – 21 September 2019. Memang agak mencengangkan, distributior-distirbutor alat berat nasional, dengan dukungan para produsen, ramai-ramai menurunkan mesin-mesin tambang pada pameran tersebut di tengah kondisi industri tambang, khususnya batu baru, yang semakin mengkhawatirkan. 

Harga batu bara yang cenderung menurun,  jika berlarut-larut, situasinya akan berubah menjadi sebuah krisis yang mempunyai efek bola salju seperti pengalaman sebelumnya. Dan salah satu industri yang merasakan dampak langsung dari krisis itu adalah bisnis alat-alat tambang. Sebaliknya, jika komoditas tambang meningkat, industri alat berat pun cepat sekali merespon.

Dibandingkan pembangunan infrastruktur dan lainnya, industri tambang menjadi penggerak utama pasar alat berat di Indonesia. Hal itu bukan tanpa alasan. Rata-rata alat-alat tambang berukuran besar. Dari segi kebutuhan, siklus penggantian alat-alat tambang jauh lebih cepat dibandingkan dengan mesin konstruksi. Masa pakai alat-alat tambang sekitar 3 hingga 5 tahun. Jarang ada yang lebih dari itu karena jenis pekerjaannya yang sangat menantang (heavy duty) dan waktu kerjanya yang panjang. Sebab itu, alat-alat tambang harus benar-benar tangguh, baik engine maupun strukturnya, agar bisa tahan bekerja keras sepanjang hari. Unit-unit ini dituntut untuk memiliki produktivitas tinggi dengan tingkat downtime yang serendah mungkin.

Hampir semua emiten yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI)  sudah merasakan buruk dampak dari kelesuan industri tambang itu. (Berdasarkan laporan Majalah Equipment Indonesia pada edisi September 2019: “Penjualan Alat Masih Lesu, Segmen Jasa Jadi Penopang”). Laporan keuangan mereka hingga paruh pertama tahun ini kurang begitu menggembirakan. Pendapatan tetap tumbuh tetapi kurang signifikan.

Kejatuhan harga batu bara dipicu oleh berkurangnya permintaan di pasar ekspor, terutama China dan India. Kedua negara itu mulai menghentikan impor batubara untuk menjaga kelestarian lingkungan, terutama mencegah polusi udara. Sebetulnya Pemerintah sudah berusaha mengurangi ketergantungan pada pasar ekspor dengan terus mendorong pemakaian batubara dalam negeri, terutama pada mesin-mesin pembangkit.

Pemerintah sudah mencanangkan proyek listrik 35 GW yang memasok batubara sekitar 30 persen dari bauran energi nasional pada tahun 2025. Kalau permintaan batubara domestik terus meningkat untuk memasok kebutuhan bahan bakar bagi mesin-mesin pembangkit yang menjadi bagian dari program kelistrikan nasional itu, maka hal ini akan memunculkan peluang-peluang baru bagi produsen-produsen dan/atau dealer-dealer mesin-mesin tambang di Indonesia. Namun, kelihatannya upaya-upaya itu belum membuahkan hasil seperti yang diharapkan. Mudah-mudahan badai itu cepat berlalu sehingga industri alat-alat tambang terus bergairah. @

 

Related posts