30.4 C
Jakarta
Oct 18, 2019.
Image default

IPW Gelar One Day Used Equipment Sale

PT Intracopenta Wahana mengadakan “One Day Used Equipment Sale” untuk mengoptimalkan penjualan  alat berat  bekas dan membantu para pengguna peralatan rental memiliki alat berat sendiri yang berkualitas.

PT. Intracopenta Wahana atau yang lebih dikenal dengan IPW kembali menggelar acara One Day Used Equipment Sale yang diselenggarakan di kantor pusatnya di kawasan Cakung – Cilincing, Jakarta Utara, Selasa (27/8/2019). Disebut  sebagai lelang terbatas, acara ini dimaksudkan untuk mengoptimalkan penjualan alat-alat bekas dan membantu para kontraktor dan pelaku bisnis untuk memiliki alat sendiri, sebagaimana diungkapkan Riky Agustridi, GM Rental & Used Equipment PT. Intraco Penta Wahana, kepada Equipment Indonesia saat ditemui di sela-sela lelang tersebut.

Dijelaskan Riky, One Day Used Equipment Sale adalah lelang setengah terbuka karena siapa pun boleh ikut menjadi peserta tanpa harus membayar deposit dan tanpa minimum price, tetapi pengumuman hasilnya dilakukan secara tertutup. “Para peserta akan mengisi formulir-formulir yang menyebutkan barang-barang yang mereka minati plus harganya sesuai penilaian mereka sendiri.  Formulir-formulir itu akan dikumpulkan untuk dievaluasi oleh tim khusus IPW. Pengumuman hasil pemenangnya akan diumumkan beberapa hari kemudian,” dia menjelaskan cara kerja sistem lelang ini.

IPW mendesain acara One Day Used Equipment Sale ini tidak seperti kegiatan lelang pada umumnya, dimana para calon pembeli harus mendaftar terlebih dahulu. Kegiatan ini terbuka untuk umum, terutama orang-orang yang memerlukan alat bekas. “Kami merancang acara ini seperti sebuah gathering dimana para peminat datang, duduk-duduk santai sambil minum kopi dan menikmati banyak acara hiburan lainnya. Yang datang pun tidak harus membeli,” ujar Riky.

Lelang model IPW ini dilakukan secara simultan di dua tempat yang terpaut cukup jauh, yakni Jakarta dan Balikpapan di Kalimantan Timur. Itu berarti tidak semua alat yang ditawarkan berada di lokasi lelang. Untuk kali ini, sebagian besar dari unit-unit bekas itu berada di Balikpapan. Yang ada di Jakarta kebanyakan terdiri dari alat-alat konstruksi, sementara yang di Balikpapan didominasi oleh mesin-mesin tambang.

Para peminat biasanya sudah melakukan survei terlebih dahulu terhadap unit-unit yang ditawarkan. Bahkan seminggu sebelum lelang digelar, IPW mempersilahkan para peminat untuk melakukan survei terhadap unit-unit bekas yang dijual, baik di Jakarta maupun Balikpapan. Berdasarkan survei itu, mereka memasukkan harga perkiraan. Mereka mengecek kondisinya dan melakukan penilaian untuk menentukan harganya.

Riky mengatakan bahwa IPW sendiri sudah punya harga, atau lebih tepat disebut harga yang diharapkan.   Namun, harga yang keluar sebagai pemenang bisa saja di bawah harga perkiraan. “Harga yang dicantumkan dalam brosur lelang bukan harga batas bawah tetapi lebih tepat disebut harga ekspektasi (expected price) yang diminta.”

Untuk membantu para calon pembeli melihat kondisi alat, terutama yang belum sempat melakukan survei, di lokasi lelang tersedia layar LCD yang menayangkan semua produk yang dilelang.

Ditanya mengenai kondisi alat-alat yang dilelang, Riky membagi dalam dua kategori. Pertama, alat-alat yang dilelang dalam kondisi apa adanya (as is) tetapi siap bekerja (running condition) , terutama untuk pekerjaanm-pekerjaan jangka pendek. Untuk pekerjaan-pekerjaan yang long term, Riky sarankan untuk lebih dipersiapkan lagi. Yang membeli alat-alat seperti ini biasanya para end user, karena mereka butuh alat yang bisa langsung digunakan. Jenis kedua adalah as is tetapi tidak running condition. Ini biasanya para trader, baik perusahaan maupun perorangan. Mereka akan melakukan rekondisi sendiri, entah untuk dipakai sendiri maupun untuk dijual lagi.

Untuk menjaga kepercayaan peserta lelang terhadap kondisi alat-alat ini, IPW melengkapi setiap unit dengan historical data, dari mulai dari tahun pembuatannya, digunakan untuk apa saja dan komponen-komponen apa saja yang sudah diganti dan bagaimana kondisi terakhir. Semua data itu diberikan kepada para calon pembeli yang serius. Menurut Riky, IPW tidak mau menjual kucing dalam karung, tetapi setiap mesin sudah punya data historis. Apalagi sebagian besar mesin-mesin ini adalah eks alat-alat sewa IPW sendiri. Dia menambahkan, untuk alat-alat yang sudah dibeli, para pelanggan dapat memilih untuk memperbaiki sendiri atau memiinta IPW untuk melakukan rekondisi.

Pergeseran tren pasar

Mencermati tren pembelian alat-alat bekas belakangan ini, Riky mengakui mulai terjadi pergeseran tren. Dalam acara-acara serupa pada tahun-tahun sebelumnya mesin-mesin tambang yang paling diburu para peserta lelang. Tetapi dalam acara kali ini justru alat-alat konstruksi yang paling banyak dicari. Mengikuti pola perubahan tren pasar tersebut, IPW mulai lebih banyak menyediakan alat-alat konstruksi.

“Kami tidak selamanya bergantung pada mesin-mesin tambang. Dengan kondisi saat ini dimana harga batubara cenderung menurun, justru alat-alat konstruksi yang pasarnya lagi naik. Kalau harus melelang alat-alat tambang, kami harus pilah-pilah, bukan  hanya  mesin-mesin untuk tambang batubara melainkan juga tambang mineral dan lain-lain,” ungkapnya. Kalau untuk alat-alat konstruksi, permintaannya relatif stabil karena pembangunan tidak pernah berhenti. “Industri konstruksi adalah industry  tertua dalam sejarah hidup manusia. Selama masih ada  kehidupan, pembangunan konstruksi dan infrastruktur tidak akan pernah berhenti.”

Tidak heran, area lelang di Jakarta kali ini dijejali alat-alat konstruksi, dari mulai lighting tower, compressor, mini excavator, compactor, motor grader, excavator 20 ton hingga dump truck. Kalau yang di Balikpapan kebanyakan terdiri dari mesin-mesin tambang kelas  medium up, seperti excavator besar, articulated dump trucks dan rigid hauler.

Selain alat-alat konstruksi dan mesin-mesin tambang, dalam lelang kali ini IPW melibatkan juga mesin-mesin pertanian. Namun, karena perusahaan ini masih relatif baru mengageni mesin-mesin pertanian, maka stok unit-unit bekasnya belum banyak. Itu sebabnya yang diikutkan dalam program ini adalah alat-alat pertanian baru. IPW merupakan distributor alat pertanian merek Mahindra dari India.

Selain terjadi pergeseran tren pasar, Riky melihat adanya perubahan jumlah dan jenis alat yang dilelang. Hal ini berdampak terhadap nilai total transaksi. “Tahun lalu kami berhasil meraih angka bersih Rp 10 milyar. Namun, tahun ini kami tidak berharap banyak karena jumlah alat yang dilelang tidak sebanyak tahun lalu dan kebanyakan yang dilelang adalah alat-alat konstruksi yang harganya tidak semahal mesin-mesin tambang. Target kami sekitar 75 hingga 80 persen dari tahun lalu,” ungkapnya berharap. 

Meski target penjualannya lebih rendah, Riky berharap acara lelang ini bermanfaat bagi para pemburu alat-alat bekas, terutama yang selama ini menggunakan alat-alat sewa. Dalam kondisi ekonomi seperti sekarang ini tidak semua kontraktor mampu membeli unit-unit baru. Mereka memerlukan alat-alat untuk mengerjakan suatu proyek, tetapi mungkin dananya belum cukup. Atau mereka punya dana cukup tetapi proyeknya belum tentu bertahan lama. Jika membeli lewat jasa leasing, prosesnya akan panjang dan cukup banyak menyita waktu .

“Mereka yang selama ini menggunakan alat-alat rental dari kami, mungkin sekarang mereka sudah bisa switch dari pengguna rental menjadi pemilik alat. Namun kami menyarankan mereka untuk membeli unit-unit yang low hours, yang jamnya masih jauh dari overhaul. Sekiranya dananya belum cukup dan mau fokus pada pekerjaan dan tidak pusing dengan urusan perawatan alat dan membayar mekanik, maka kami sarankan mereka untuk tetap menggunakan alat-alat sewa. Jadi, Kami mengedukasi mereka untuk memilih,” pungkasnya. @

Related posts

UT Kuasai Mayoritas Saham ACSET

Apa Kelebihan Probesco Kanamoto Rental?

William Syukur

Konstruksi Indonesia 2016: One Stop Shopping Bagi Para Pemain Sektor Konstruksi