30.2 C
Jakarta
Okt 23, 2020.
Business Top News

Vale Indonesia Setelah Holding BUMN Mengepit 20%

Pengangkutan material tambang Vale (Dok. Vale)

PT Vale Indonesia Tbk sedang melakukan proses divestasi 20% sahamnya kepada investor dalam negeri. Adalah perusahaan holding pertambangan milik pemerintah, yaitu MIND ID, yang mengekeskusi pembelian 20% saham tersebut. Pada 19 Juni lalu, MIND ID bersama dua pemegang saham lawas Vale Indonesia, yaitu Vale Canada Limited (VCL) dan Sumitomo Metal Mining Co., Ltd. (SMM), telah menandatangani Perjanjian Jual Beli Saham (Shares Purchase Agreement) 20% saham divestasi tersebut.

Dalam penjualan 20% saham divestasi ini, VCL akan melepas sahamnya sebesar 14,9% dan SMM sebesar 5.1% seharga Rp 2.780 per lembar saham atau senilai total Rp 5,52 triliun. Transaksi penjualan ini ditargetkan akan selesai pada akhir tahun 2020.

Direktur Keuangan Vale Indonesia Bernardus Irmanto mengatakan divestasi saham ini tentu akan memberikan nuansa lain bagi jalannya PT Vale Indonesia Tbk. Namun, tidak berarti adanya divestasi ini rencana-rencana strategis yang sudah dicanangkan sebelumnya kemudian akan berubah.

“Nantinya setelah MIND ID masuk menjadi salah satu pemegang saham kami, tentu saja mereka akan mempunyai perwakilan di dewan komisaris dan dewan direksi. Dan perwakilan mereka tersebut akan memberiakan masukan, memberikan usulan tentang kebijakan perusahaan di masa yang akan datang. Tetapi sampai saat ini, juga dari proses due diligence yang dilakukan mereka masih sejalan. Mereka berpandangan yang sama  bahwa rencana-rencana yang akan dilakukan Perseroan dalam waktu 1-5 tahun mendatang masih selaras dengan pemahaman dan kebijakan mereka,” urai Bernadus saat konferensi pers virtual pada Rabu (26/8) lalu.

Setelah divestasi selesai,  PT Vale Indonesia, jelasnya, akan tetap fokus mengekekusi rencana-rencana strategis yang sudah dibuat seperti rencana pembangunan smelter di Pomalaa dan Bahodopi. Vale Indonesia saat ini sedang dalam proses menyelesaikan final investment decision (FID) dari dua proyek tersebut.

Untuk proyek smelter di Pomalaa, Bernadus mengatakan manajemen sedang menyelesaikan semua kegiatan yang memang diperlukan untuk mencapai FID. Dalam proyek ini, Vale Indonesia sudah mendapatkan mitra yaitu Sumitomo. “Tentu saja sebagai dua perusahaan yang terpisah kami mempunyai persyaratan yang berbeda untuk mengambil keputusan. Dan kami sedang menyepakati persyaratan-persyaratan apa saja yang harus dipenuhi, salah satunya yang paling penting, misalkan tentang perizinan,” ujarnya.

Hingga saat ini, Vale Indonesia sudah mengantongi izin Amdal. Sedagkan Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan (IIPKH) saat ini sedang dalam proses. “Aplikasi sudah kami submit. Semua persyaratan administrasi dan teknis terkait IIPKH juga sudah kami lengkapi. Dan mudah-mudahan dalam waktu dekat IIPKH untuk Pomalaa sudah kami dapatkan,” ujarnya.

Selain terkait perizinan, pembicaraan dengan pihak lenders (kreditur) untuk pembiayaan proyek tersebut juga terus dilakukan oleh Vale Indonesia. “Kami harapkan semua persyaratan bisa selesai mungkin semester pertama tahun depan. Dan kemudian PT Vale Indonesia dan Sumitomo akan sama-sama membahas semua persyaratan dan kemudian mengambil keputusan investasi final. Dan setelah itu, baru kemudian kegiatan konstruksi atau pengembangan bisa dimulai,” ujarnya.

Proses yang sama juga sedang dilakukan untuk proyek smelter di Bahodopi. Bernadus mengatakan pihaknya saat ini juga sedang menyelesaikan semua persyaratan teknis yang dibutuhkan untuk FID. Untuk mitra proyek smelter Bahodopi ini, Bernadus mengatakan juga sudah ada, meskipun ia tak menyebut namanya.

“Kalau partner-nya sudah didapatkan dan sekarang ini semua negosiasi key term sheet yang dibutuhkan untuk asepk komersialnya juga sedang berlangsung untuk Bahodopi. Finansial prosesnya memang belum berjalan, kami sedang memulai. Dan untuk studi teknis baik untuk smelter dan mining-nya juga sedang berjalan,” jelasnya.

Selain tetap fokus menyelesaikan proyek-proyek strategis ini, manajemen Vale Indonesia juga fokus meningkatkan kapasitas produksi nikel di Sorowako sesuai dengan komitmen amandemen kontrak karya tahun 2014. “Dengan masuknya MIND ID diharapakan ada sinergi-sinergi yang kami lakukan  baik dengan BUMN lain seperti Antam, atau juga ada sinergi lain yang harus kita explore untuk mendukung rencana-rencana strategis perusahaan,” ujarnya.

Masuknya MIND ID, tambahnya, tentu saja akan semakin memperkuat perusahaan dalam hal hubungan dengan stakeholder, terutama dengan pemerintah. “Kami selalu berpedoman dan berpandangan, kami selalu menjadi partner yang terpercaya buat pemerintah. Dengan masuknya MIND ID kami mengharapkan objective tersebut bisa kami wujudkan dan semakin baik hubungan kami dengan pihak pemerintah,” ujarnya.

Tahun 2020 ini produksi nikel Vale Indonesia diprediksinya mencapai 73.000 ton atau lebih tinggi dari perkiraan awal yang sebesar 71.000 ton. Kenaikan proyeksi ini terjadi karena Perseroan menunda pelaksanan tanur (furnace) listrik 4.

“Tentu saja karena produksi lebih tinggi maka konsumsi energi juga lebih tinggi. Kalau pertanyaannya adalah konsumsi batu bara akan menjadi berapa? Sebagai gambaran saja, konsumsi batu bara per ton nikel yang diproduksi itu berkisar antara 5,5 sampai 5,8 ton batu bara per ton nikel yang dihasilkan,” jelasnya.

Proyek tanur listrik 4 ini semula sebagiannya direncanakan mulai di kuartal keempat tahun ini. Sementara sebagiannya lagi awal tahun depan. Tetapi sekarang sudah diputuskan tanur 4 ini dikerjakan mulai Mei hingga November tahun 2021.

“Selama 5 bulan itu kami hanya akan beroperasi dengan 3 furnace (tanur) dari 4 furnace yang ada. Tentu saja produksi nikel akan lebih rendah. Saat ini kami sedang malakukan atau menyelesikan proses budgeting, karena  nilai produksi itu bukan hanya ditentukan dari ketersediaan furnace, banyak faktor lain yang akan menentukan tingkat produksi, salah satunya adalah kadar nikel dari mining misalnya. Jadi ini sedang kami diskusikan, nanti setelah angkanya sudah bisa dikonfirmasi kami akan menyampaikan kepada publik,” ujarnya.

Sepanjang tahun 2020 ini, Vale Indonesia sudah mengggunakan belanja modal sekitar US$44 juta. Diperkirakan hingga akhir tahun nanti, belanja modal yang akan dihabiskan mencapai US$110 juta hingga US$120 juta. Sebagian besar anggaran belanja modal ini digunakan untuk peremajaan alat-alat di mining dan juga beberapa kegiatan awal di tanur 4 yang dilakukan di tahun 2020 ini.

Nico Kanter, Presiden Direktur Vale Indonesia mengatakan MIND ID menambahakan masuknya MIND ID ke Vale Indonesia tak lantas membuat rencana-rencana bisnis Perseroan akan berubah signifikan. “Dengan mereka akan duduk di dewan direksi dan dewan komisaris, ini semua akan selaraskan untuk kebaikan, bukan hanya Vale tetapi juga MIND ID dan pemerintah Republik Indonesia,” pungkasnya. EI

80 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Related posts