26.2 C
Jakarta
24 Jan, 2021.

2021: Tahun Penuh Tantangan & Juga Peluang

Dozer Cat® D6GC yang cocok digunakan untuk konstruksi jalan, perkebunan dan kehutanan (Foto: Trakindo)

Kita sudah memasuki tahun 2021 dengan membawa serta banyak persoalan yang belum tuntas pada tahun 2020. Untuk sebagian besar pemain alat berat/konstruksi, 2020 merupakan tahun penuh tantangan. Apapun bisnis Anda – apakah di industri manufaktur, dealership, rental, kontraktor hingga pembiayaan – benar-benar diuji hampir sepanjang tahun ini. Kita melewatinya dengan berat, mungkin sampai terseok-seok, bahkan hingga tidak berdaya.

Kelesuan industri peralatan berat/konstruksi Indonesia saat ini khususnya dan perekonomian Indonesia bahkan dunia pada umumnya dipicu oleh pandemi Covid-19. Wabah virus corona itu pecah jelang akhir tahun 2019 lalu di Wuhan, China dan menjalar ke Indonesia sekitar Maret 2020. Sejak pertengahan 2020 pandemi itu sudah menjelma menjadi krisis kesehatan global hingga kini. Di Indonesia, dan juga banyak negara lainnya di dunia, eskalasi penularan Covid-19 masih tinggi.

Banyak negara, termasuk Indonesia, masih menerapkan protokol kesehatan ketat, mengikuti grafik penularan Covid-19. Ketika terjadi zona merah karena jumlah kasus signifikan, pemerintah setempat memberlakukan “penguncian” untuk membatasi mobilitas warga. Untuk mencegah meningkatnya kasus penularan, pemerintah melarang semua kegiatan yang memungkinkan orang-orang berkumpul.

Banyak perubahan terjadi dalam industri alat berat pasca serangan wabah Covid-19 itu. Produksi alat berat turun drastis karena permintaan berkurang dari berbagai sektor yang memerlukan barang-barang modal itu seperti konstruksi, pertambangan dan agrikultur. Sejak pandemi itu meradang, banyak proyek infrastruktur berhenti atau ditangguhkan pengerjaannya. Bisnis tambang, terutama batu bara, juga ikut bergejolak. Padahal, industri ini yang paling kuat menggerakkan pasar alat berat di Indonesia selama ini. Dari sisi keagenan, beberapa perusahaan terpaksa melepas brand-brand yang mereka pegang selama ini dan beralih ke brand-brand baru.

Namun, sebagaimana krisis yang kerap terjadi selama ini, selain menimbulkan banyak tantangan, pandemi Covid-19 juga menawarkan banyak peluang. Di segmen dealership, contohnya, para pemain berusaha merilis produk-produk yang lebih sesuai dengan kebutuhan pasar. PT Indotruck Utama, misalnya, memperkenalkan wheel loader SDLG LG953 – loader kelas 5 ton dengan kapasitas bucket 2,8 m3. Mesin pemuat ini mengisi pasar ceruk yang ada antara kapasitas bucket 2,5 m3 dan 3 m3, dan diklaim memiliki bucket cycle time tercepat di kelasnya.

Volvo Construction Equipment (Volvo CE) merilis single drum soil compactor kelas 11 ton, SD110, dengan desain baru dan beberapa fitur yang disempurnakan. Selama bertahun-tahun mesin ini dikenal sebagai alat pemadat tanah unggulan, dan kini Volvo CE menyegarkan tampilannya agar lebih tajir lagi.

Ada juga pemain baru yang mencoba peruntungan di bidang kagenan mesin. Adalah PT Arkadiya Fourhaka Indonesia (Arkadiya) memperkenalkan traktor pertanian merek LOVOL. Arkadiya merupakan anak usaha dari United Arkato Group – salah satu pebisnis rental terkemuka di tanah air – yang dibentuk khusus untuk mengageni produk-produk dan teknologi-teknologi pertanian.

Tak pelak lagi, nasib bisnis alat berat pada tahun 2021 ini akan sangat ditentukan oleh kemampuan bangsa Indonesia, pemerintah bersama segenap rakyat negeri ini, mengatasi pandemi Covid-19. Hingga kini eskalasi penularan Covid-19 masih tinggi. Beruntung jelang akhir tahun sudah ada khabar gembira dengan kedatangan vaksin. Namun, apakah kedatangan obat penangkal itu bisa menjadi solusi untuk pandemi tersebut?

Faktor lain yang menentukan pasar alat berat pada tahun 2021 ini adalah kebijakan-kebijakan pemerintah di sektor-sektor yang mengandalkan aplikasi barang-barang modal tersebut. Apakah kebijakan-kebijakan yang akan diambil oleh pemerintah Indonesia pada tahun ini di sektor-sektor konstruksi, pertambangan dan agrikultur dapat mendorong peningkatan permintaan alat berat?  

Kebijakan hilirisasi batu bara, misalnya, diyakini dapat menghidupkan lagi bisnis tambang yang masih melempem. Pemerintah membebaskan perusahaan-perusahaan batu bara yang melakukan hilirisasi dari kewajiban untuk membayarkan royalti. Kalau proses hilirisasi berjalan sesuai skenario, kebutuhan berbagai peralatan akan semakin meningkat, dan ini dapat menggairahkan kembali industri alat berat nasional. Diharapkan di sektor konstruksi pemerintah juga mengambil kebijakan-kebijakan yang memungkinkan pembangunan-pembangunan infrastruktur berlanjut dalam skala yang lebih besar agar makin banyak alat berat yang terserap. Mudah-mudahan!

Related posts