
Masalah rantai pasok masih mendera industri alat berat di Jerman selama pandemic Covid-19, yang menyebabkan terjadinya kesenjangan antara pesanan yang masuk dan omset. VDMA, Asosiasi Industri Teknik Mesin Jerman, dalam rilisnya pada Jumat (18/2), menyatakan masalah rantai pasok menghambat kelancaran produksi peralatan konstruksi di Jerman. Meski demikian, asosiasi itu mengatakan sektor mesin konstruksi dan pabrik bahan bangunan mencapai peningkatan 22% dalam omset sebesar €16,7 miliar pada tahun 2021, dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
VDMA menambahkan bahwa sektor peralatan konstruksi mencapai peningkatan nominal sebesar 18% menjadi €12,4 miliar dengan pesanan yang masuk naik sebesar 53%. Selain itu, omset ekspor sebesar €8,1 miliar, omset domestik €4,3 miliar dan mesin konstruksi jalan mencapai peningkatan omset tertinggi sebesar 22%.
Perkembangan ini membawa industri ini kembali ke level rekor 2018/19, kata VDMA. Namun demikian, ekspektasi akan terjadinya pertumbuhan yang menggairahkan pada tahun ini harus direspons dengan berhati-hati mengingat problem rantai pasok yang masih berlanjut.
“Kami mendorong gelombang pesanan-pesanan di depan kami yang mungkin harus kami lakukan hingga 2023 jika situasinya tetap seperti ini,” kata Joachim Strobel, ketua divisi peralatan konstruksi VDMA.
“Meskipun pesanan banyak, industri ini hanya dapat mengharapkan peningkatan omset maksimum 7% untuk tahun ini. Profit juga akan jauh dari harapan kami karena kami harus menghadapi biaya-biaya yang sangat meningkat.”
Amerika Serikat, Eropa, dan Cina tetap menjadi wilayah pasar terpenting dan bersama-sama menguasai 75% pasar global. Penjualan peralatan konstruksi pada tahun 2021 meningkat 30% di AS dan 28% di Eropa dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, sementara pasar Cina melemah dengan penurunan 7%.
Pasar AS yang menjanjikan untuk beberapa tahun ke depan meyakinkan VDMA dan ini berkat program stimulus ekonomi yang dilakukan secara ekstensif. Program-program stimulus ekonomi yang dicanangkan selama pandemi di Eropa akan memberikan efek pendukung dalam 2-3 tahun ke depan. Di Cina perkembangannya tidak menentu dengan risiko krisis real estate masih ada di sana.



















