Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example 728x250
Feature

Hilirisasi Industri Kelapa Sawit dan Mandatory Biodiesel

594
×

Hilirisasi Industri Kelapa Sawit dan Mandatory Biodiesel

Share this article
Example 468x60

Hilirisasi Industri Kelapa Sawit dan Mandatory Biodiesel

 

ALTRAK

“Huluisasi dan hilirisasi industri persawitan harus dilakukan secara sekaligus agar Indonesia tidak hanya menjadi “raja” CPO global, tetapi juga menjadi juara untuk produk-produk turunannya”.

 

 

Perkembangan industri persawitan di Indonesia pada beberapa tahun belakangan menunjukkan hal positif. Sejak tahun 2006, industri persawitan nasional telah berhasil menjadikan Indonesia sebagai penghasil CPO terbesar sejak 2006. Pada saat yang sama, minyak sawit juga berhasil menggeser dominasi minyak kedelai dalam pasar minyak nabati global. Ini membuat Indonesia bukan saja menjadi produsen CPO terbesar saat ini, tetapi juga sekaligus sebagai produsen minyak nabati terbesar di dunia.

Hal itu diungkapkan Wakil Menteri Perindustrian RI, Prof. Dr. Ir. Alex SW Retraubun, M.Sc, pada peluncuran berdirinya Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PAPSPI), Rabu (12/3/2014) di Kampus IPB Baranangsiang, Bogor.  “Meski ekspor relatif besar, Indonesia tidak boleh puas dan berhenti hanya sebagai produsen CPO terbesar di dunia. Indonesia harus menjadi produsen produk-produk hilir CPO,” tandasnya.

Menurut Alex, untuk mempercepat industri hilir, pemerintah melalui Kementerian Perindustrian beserta kementerian terkait lainnya telah mengeluarkan kebijakan dan program hilirisasi, termasuk hilirisasi CPO. Tujuannya adalah supaya nilai tambah kegiatan ekonomi di hilir dapat dinikmati masyarakat di dalam negeri, memperkuat struktur industri nasional dan memperbaiki ekspor dari dominasi ekspor barang mentah menjadi barang setengah jadi dan barang jadi.

Untuk diketahui, hingga saat ini, industri persawitan Indonesia telah berperan penting dalam perekonomian nasional maupun dunia. Dalam perekonomian Indonesia, industri ini  telah menyumbang ekspor sebesar US$ 21 miliar pada tahun 2012 dan menyumbang penerimaan pemerintah dari bea keluar secara akumulatif senilai Rp 80 triliun. Industri persawitan nasional melibatkan 3,7 juta petani sawit, menyerap tenaga kerja sekitar 20 juta lebih, mengurangi kemiskinan, menggerakkan roda ekonomi di kawasan pedesaan, serta menciptakan jutaan keluarga ekonomi kelas menengah di kawasan pedesaan.

Baca Juga :  Biarawati Operasikan Loader Bobcat 773 untuk Bangun Biara Baru

Sementara secara internasional, industri persawitan merupakan bagian penting dari ketahanan pangan, ketahanan energi, dan pelestarian ekosistem global. Dengan pangsa pasar 40% minyak sawit dalam total minyak nabati global, kehadiran minyak sawit di pasar global telah ikut mengendalikan harga-harga bahan baku minyak nabati global maupun harga fuel fosil global, dan mencegah kebangkrutan industri oleokimia negara-negara maju. Sedangkan peran industri sawit di bidang pelestarian ekosistem global adalah kemampuannya dalam menyerap karbondioksida dari atmosfir bumi yang lebih besar dari jenis tanaman nabati lain.

Alex menerangkan, dalam kebijakan hilirisasi CPO di Indonesia, selain mendorong berbagai indistri hilir CPO, pemerintah memberi perhatian khusus pada pengembangan industri biodiesel berbahan baku CPO. “Pengembangan industri biodiesel ini dikaitkan dengan upaya mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor BBM solar yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Kebijakan ini kita kenal sebagai kebijakan mandatory biodiesel,” Alex memaparkan.

Kebijakan pengembangan biodiesel disertai dengan keharusan subsitusi (blending) solar secara bertahap dinilai Alex sangat penting dihasilkan. Hal tersebut lantaran Indonesia mengimpor sekitar 35 juta kilo liter solar per tahun, menguras devisa sebesar US$ 35 miliar dan telah menimbulkan goncangan neraca transaksi berjalan Indonesia. “Kebijakan mandatory biodiesel perlu dilakukan percepatan dari B5 ke B10, dari B10 ke B15 dan seterusya. Semakin cepat mandatory biodiesel dihasilkan, semakin sehat perekonomian dan lingkungan kita serta semakin sejahtera rakyat kita,” terang Alex.

PASPI dibentuk oleh beberapa ahli pertanian di Institut Pertanian Bogor (IPB) dengan dukungan kuat dari para pelaku industri sawit dan juga pemerintah. Lembaga ini dirancang sebagai think-tank industri persawitan dengan fokus pada kebijakan-kebijakan strategis. Lembaga ini menyiapkan pokok pikiran yang bersifat akademis dan independen, sebagai dasar pengambilan keputusan  pada level organisasi petani sawit, perusahaan dan  pemerintah. Selain itu, PASPI juga menyiapkan dasar-dasar ilmiah untuk kampanye internasional tentang persawitan.  eq

Baca Juga :  Jokowi: Pembangunan Infrastruktur Harus Pacu Industrialisasi

 

Iklan Berca