31.7 C
Jakarta
Mei 28, 2020.
Business Construction Construction EQ Equipment Forestry Industry Top News

Produksi Dalam Negeri Lesu, Impor Alat Bekas Makin Marak

Impor peralatan berat bekas jangan mengganggu pasar alat-alat berat yang diproduksi di dalam negeri. Sebab itu, pemerintah harus mengatur kembali impor mesin-mesin bekas.

Excavator Hitachi yang diproduksi oleh PT Hitachi Construction Machinery Indonesia (Dok. EI)

Pabrikan-pabrikan alat berat nasional makin resah. Saat volume produksi mereka sedang turun signifikan karena permintaan yang terus merosot, impor alat-alat bekas justru semakin tidak terkendali. Daya serap alat-alat berat yang diproduksi dalam negeri belakangan ini kembali terpuruk karena gejolak berkepanjangan di industri tambang batubara plus larangan ekspor biji nikel per Januari tahun ini. Sementara proyek-proyek strategis yang skala besar di sektor konstruksi juga cenderung berkurang, yang diperburuk oleh serangan wabah virus corona (Covid-19) yang sedang melanda Indonesia dan banyak negara lain di berbagai belahan dunia. Banjir alat-alat impor tersebut justru membuat pasar barang-barang modal itu di dalam negeri makin runyam karena menyebabkan kelebihan pasokan.

Asosiasi yang mewadahi produsen-produsen alat berat/konstruksi nasional, Hinabi (Himpunan Industri Alat Berat Indonesia), sudah berkali-kali meminta pemerintah untuk menghentikan impor alat-alat berat bekas, terutama yang sudah bisa diproduksi di dalam negeri. “Dalam kondisi seperti ini, tolong ditahanlah. Jangan jor-joran (impor alat bekas, Red),” kata Jamaludin, Ketua Umum Hinabi, kepada Equipment Indonesia beberapa waktu lalu. 

Kapasitas produksi industri alat berat di Indonesia mencapai 12.00 unit. Tetapi karena kondisi industri yang lesu, permintaan alat berat makin sedikit. Pada tahun 2019, menurut Jamaludin, produksi alat berat di Indonesia hanya bisa mencapai 6.060 unit. Namun, dalam kondisi kapasitas produksi yang turun signifikan karena berkurangnya permintaan, serbuan alat-alat impor justru tidak terkontrol sehingga terjadi kelebihan pasokan. “Kalau sudah diproduksi di Indonesia, janganlah. Kecuali kalau demand-nya di atas kapasitas produksi,” ujarnya.

Keran impor alat berat bekas dibuka melalui Peraturan Menteri Perdagangan No 127 tahun 2015 tentang Ketentuan Barang Modal Dalam Keadaan Tidak Baru. Peraturan yang terbit 29 Desember 2015 kemudian diperkuat oleh Peraturan Menteri Perindustrian No. 14 tahun 2016 tentang Kriteria Teknis Impor Barang Modal Dalam Keadaan Tidak Baru yang terbit pada 23 Februari 2016.

Sejak awal diterbitkannya peraturan ini, Hinabi sebenarnya sudah meminta pemerintah untuk membatasi impor alat berat bekas yang belum diproduksi di dalam negeri.

Bahkan permintaan untuk membatasi impor alat berat bekas ini, menurut Jamuludin, sudah disampaikan ke Sekretariat Negara sekitar September tahun lalu. Namun, hingga kini belum ada respons dari pemerintah.

Presiden Joko Widodo, saat membuka acara pameran konstruksi di JIEXPO pada 6 November 2019, memang sudah sempat menyinggung soal pentingnya menggunakan produk buatan dalam negeri dalam rantai pasok industri konstruksi.

“Saya minta agar produksi dalam negeri betul-betul menjadi perhatian yang serius agar pembangunan infrastrutur besar bisa mendongkrak industrialisasi dalam negeri. Jadi, efeknya ke pembangunan industrilisasi dalam negeri. Kita sediakan alat berat produksi  dalam negeri. Kita sediakan kebutuhan baja produk dalam negeri dan berbagai kebutuhan material bahan baku lainnya dari dalam negeri, sehingga sektor konstruksi bisa berkontribusi dalam menurunkan defisit neraca transaksi berjalan kita dan defisit neraca perdagangan kita,” ujar Jokowi saat itu.

Zakiyudin, Direktur Industri Permesinan dan Alat Mesin Pertanian, Kementerian Perindustrian, mengatakan pada prinsipnya pemerintah menginginkan impor alat berat bekas ini tidak mengganggu industri dalam negeri.

“Makanya dalam peraturan itu (Peraturan No 14 tahun 2016) semuanya sudah mempertimbangkan mesin bekas itu boleh masuk, kriteria utamanya adalah belum dibuat di dalam negeri,” ujar Zakiyudin kepada Equipment Indonesia awal Februari lalu. 

Tiga kategori yang bisa impor

Hydraulic excavator Komatsu PC 130F yang diproduksi oleh PT Komatsu Indonesia (Dok. EI)

Zakiyudin menjelaskan tiga kategori kelompok yang bisa melakukan impor alat berat bekas. Pertama, pemakai langsung. Menurutnya, Kementerian Perindustrian memiliki daftar siapa saja yang boleh impor. Kriteria utamanya, alat yang diimpor itu memang belum dibuat di dalam negeri.

Kemudian, dia juga menyoroti faktor safety segala macam, juga memenuhi kriteria secara umur ekonomi masih panjang. Ini boleh untuk pemakaian langsung. “Kita menyebutnya positive list. Artinya, yang dibolehkan bekas itu memang sedikit. Sehingga dibikin list yang sedikit. Jadi, yang banyak justru yang tidak boleh, makanya tidak dibuat list-nya. Di luar itu malah engga boleh,” jelasnya.

Kedua, perusahaan rekondisi. Alat-alat berat bekas yang masih bagus diimpor untuk direkondisi di dalam negeri. buatan Jerman yang masih bagus.  “Kita mau tumbuhkan industri rekondisi ini. Jadi, boleh impor tetapi direkondisi di dalam negeri,” ujarnya.

Tetapi, rekondisi ini punya batasannya, yaitu mesin-mesin bekas yang memang tidak menganggu pasar dalam negeri. “Lagi-lagi kriterianya memang tidak bersinggungan dengan barang-barang yang sudah diproduksi di dalam negeri. Kalau sudah diproduksi di sini, tidak dibolehkan,” jelasnya.

Ketiga, untuk industri remanufaktur (reman) di dalam negeri. Impor alat bekas boleh dilakukan untuk industri remanufaktur, yaitu pabrikan alat berat. “Kalau reman, biasanya, core-nya. Kemudian di dalam negeri baru diperbaiki lagi. Spareparts baru semua. Kemudian, pemegang merek di dalam negeri memberi garansi. Alat hasil remanufaktur ini bisa diekspor lagi. Menurutnya Zakiyudin, konsep reman ini bagus.

Ia menambahkan, pemerintah sangat selektif dalam melakukan impor alat berat bekas, sehingga benar-benar tidak mengganggu industri alat berat di dalam negeri. Kalaupun masih ada impor, itu biasanya dilakukan saat permintaan sedang tinggi. Dia mencontohkan kondisi dua tiga tahun lalu. Kebijakan impor terpaksa ditempuh karena kita kewalahan mencukupi kebutuhan di dalam negeri.

Zakuyidin menilai secara umum pertumbuhan alat berat sebetulnya sudah lumayan bagus. Tahun 2012- 2015 turun. Setelah itu naik. Sekarang baru turun lagi karena industri tambang lesu dan proyek-proyek strategis nasional mulai berkurang lagi. Saat ini volume produksi sudah berkurang karena permintaan alat menurun. Tetapi kalau tiba-tiba harga batubara membaik, kemudian sektor tambang menggeliat, permintaan alat berat meningkat, industri alat berat dalam negeri belum tentu langsung siap untuk memenuhi permintaan. Kondisi seperti ini yang membuka pintu bagi masuknya alat-alat impor. EI

1,532 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Related posts