Kalau diminta untuk memilih antara crane-crane buatan Jepang atau China, Fajar Rani lebih memilih alat angkat asal Tiongkok. Mengapa?
Permintaan alat angkat jenis heavy duty yang makin meningkat di daerah Kalimantan Timur menggairahkan pertumbuhan bisnis UD Nusantara. Ketika kolega-koleganya ramai-ramai menyewakan peralatan berat untuk eksploitasi tambang batubara yang dikenal sebagai komoditas unggulan di wilayah Kalimantan Timur, perusahaan ini justru fokus menggarap bisnis rental crane. Tak heran populasi crane-nya saat ini sekitar 80 unit, dari kapasitas angkat 2 ton hingga ratusan ton.
“Kami menyediakan beragam ukuran crane untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dari banyak perusahaan tambang batubara dan mineral, juga konstruksi, pelabuhan dan perkapalan,” kata Fajar Rani, pemilik UD Nusantara kepada Equipment Indonesia beberapa waktu lalu saat menghadiri acara ‘XCMG International Customer Festival’ jelang pertengahan 2019 di Xuzhou, Cina.
Pria yang akrab disapa Fajar ini menyebut perusahaannya sebagai spesialis rental crane, meski dia juga memiliki bisnis transportasi heavy duty. Selain itu, UD Nusantara hanya berkonsentrasi pada bisnis rental karena tidak mengerjakan perkerjaan lifting. “Kami melayani kebutuhan orang-orang yang memerlukan crane. Kami bukan kontraktor yang mengerjakan pekerjaan lifting, tetapi hanya menyewakan crane. Kami siap memberikan support kepada perusahaan-perusahaan yang memerlukan crane,” ia menjelaskan. Perusahaan ini memiliki beragam pilihan crane yang siap untuk disewakan.
Koleksi crane UD Nusantara berasal dari beragam merek seperti Tadano, Kato dan XCMG. Tadano dan Kato merupakan brand asal Jepang, sementara XCMG adalah brand alat berat asal Tiongkok. Dari ketiga brand tersebut, yang populasinya paling banyak adalah XCMG, mencapai 40 unit. Saking banyaknya, Fajar mengklaim dirinya sebagai pemilik crane XCMG paling banyak di Indonesia hingga kini. “Saya pemilik crane XCMG yang paling banyak di Indonesia saat ini,” ujarnya sembari menebar senyum.
Fajar kepincut dengan produk crane XCMG semenjak tahun 2008. Menceritakan alasan ketertarikannya pada crane-crane XCMG, ia mengatakan, “Harganya sangat kompetitif tetapi kualitasnya bagus.” Ia menambahkan, XCMG adalah perusahaan alat berat terbesar milik Pemerintah China. Sebagai perusahaan negara, mereka pasti sangat menjaga nama baiknya. Produk-produknya pasti berkualitas.
Hal lain yang membanggakan, Fajar melanjutkan, XCMG sangat mendukung kegiatan bisnisnya. Sebagai pengguna pertama crane-crane XCMG di Indonesia, hingga kini XCMG sangat bagus dalam hal layanan purna jual. Ini tentu saja tidak lepas dari kerja sama yang apik antara XCMG dan dealernya di Indonesia, PT Gaya Makmur Tractors (GMT). “Bila saya memerlukan suku cadang, XCMG melalui dealernya, PT Gaya Makmur Tractors, bisa langsung mengirimkan spareparts,” ia mencontohkan respon cepat dari XCMG dan dealernya itu.
Kehebatan lain alat-alat angkat XCMG ini adalah kapasitas angkatnya yang besar. Fajar membandingkan kapasitas angkat unit-unit crane yang dimilikinya. Menurutnya, rata-rata kemampuan angkat alat-alat Jepang sekitar 40-an ton, sementara XCMG 50 ton. Selain itu, pada crane-crane Jepang, bobot beban yang diangkat harus sesuai spesifikasi, tidak boleh kelebihan kapasitas. “Kalau XCMG, kapasitas angkatnya bisa lebih dari 50 ton, bisa sampai 55 ton, melampaui kapasitasnya. Itu berarti standar safety XCMG lebih tinggi dari produk-produk Jepang,” ujarnya meyakinkan.
Meski demikian, Fajar harus menyediakan beragam merek crane untuk disewakan karena kebutuhan pelanggan-pelanggannya tidak sama. “Ada beberapa pelanggan yang ingin menyewakan crane dari merek-merek tertentu saja, seperti di sektor minyak dan gas, meski tidak semuanya begitu. Tergantung logistiknya.”
Ia menambahkan, industri minyak dan gas cenderung menyewakan crane-crane yang standar safety-nya tinggi. Itu sebabnya UD Nusantara harus membeli alat-alat angkat dari merek-merek terkemuka. Namun, kalau mempertimbangkan kapasitas angkat, ia cenderung menyewakan crane Tiongkok XCMG.
Menurutnya, produk-produk XCMG banyak disewakan pada proyek-proyek konstruksi dan tambang batubara. Sayangnya, dalam kondisi industri batubara yang terus bergejolak hingga saat ini, ia mengakui kontrak sewa alat-alat ini cenderung jangka pendek. “Dalam kondisi ekonomi seperti sekarang ini, jarang ada kontrak pemakaian crane yang jangka panjang. Kalau pun ada, biasanya nilai kontraknya tidak sebesar seperti sebelumnya,” ucapnya sembari mengungkapkan rencananya untuk melakukan investasi crane baru. @























