
Pada saat industri alat berat sedang ngos-ngosan karena lesunya harga batubara dan wabah virus Corona baru (Covid-19), PT Intracopenta Tbk harus menghadapi persoalan yang tak kalah peliknya. Kerja sama dengan Volvo Construction Equipment (Volvo CE) yang sudah terjalin sejak tahun 1982 berakhir bersamaan dengan datanganya pandemi Covid-19.
“Kondisi ekonomi yang penuh tantangan sejak tahun lalu yang dilanjutkan oleh dampak perkembangan penyebaran virus corona (Covid-19) terhadap perekonomian global dan lokal, mengakibatkan tidak tercapainya rencana bisnis Perseroan. Sebagai konsekuensi dari tidak tercapainya rencana tersebut, Volvo CE melakukan perubahan status distributor dengan Perseroan,” tulis manajemen PT Intracopenta Tbk dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 31 Maret lalu.
Ditanya soal informasi di BEI itu, Ferdinand Dion, Investor Relations Strategist Intraco Penta menjelaskan bahwa PT Intraco Penta Prima Services (IPPS), anak perusahaan Intarco Penta, tidak lagi menjadi distributor untuk produk alat berat milik Volvo CE di Indonesia.
Sebagaimana diketahui, terdapat dua brand Volvo CE yang selama ini diageni PT Intraco Penta Tbk melalui anak usahanya, PT Intraco Penta Prima Servis (IPPS), yaitu Volvo dan SDLG. “Jadi, kita tidak pegang langsung lagi. Penjualan alat berat memang lagi susah dalam dua tahun terakhir. Terutama Volvo kebanyakan ke tambang batubara,” ujar Ferdinand.
Selama ini, ada beberapa brand alat berat yang diageni oleh Intracopenta Group. Selain dua brand milik Volvo CE, brand lain yang dijual perusahaan ini adalah Bobcat (compact excavator dan skid steer loader), Doosan (tower light), Mahindra (traktor pertanian), Sinotruk, Sany Palfinger (truck crane) dan Dressta (dozer). Kecuali dozer Dressta, produk-produk tersebut berada di bawah kendali PT Intraco Penta Wahana (IPW). Tetapi diakui Ferdinand, kontribusi terbesar penjualan Intracopenta selama ini adalah dari penjualan produk-produk Volvo CE.
Berdasarkan laporan tahunan 2018 lalu, penjualan Intracopenta meningkat tajam dari 628 unit pada 2017 menjadi 925 unit pada 2018. Disebutkan bahwa peningatan yang signifikan itu terutama dari merek Volvo dan SDLG. Sektor pertambangan masih menjadi penyumbang utama penjualan Intraco, dengan kisaran 71% dari total penjualan. Dari kisaran 71% tersebut, tambang batubara menjadi kontributor utama. @



















