PT Trakindo Utama membagi kisah suksesnya dalam melakukan transformasi digital baik untuk kepentingan internal maupun eksternal perusahaan.

Transformasi digital di berbagai sektor, termasuk di industri tambang dan konstruksi, sudah menjadi suatu keharusan saat ini. Perusahaan-perusahaan yang terkait dengan kedua industri tersebut pun, seperti distributor alat berat/konstruksi, harus melakukan transformasi digital, baik untuk kepentingan internal maupun eksternal.
PT Trakindo Utama sebagai agen tunggal brand Caterpillar, contohnya, merupakan salah satu pelopor transformasi digital di Indonesia. Solusi-solusi digital yang ditawarkan perusahaan ini menjadikannya sebagai salah satu yang terdepan di industri ini.
Demikian benang merah acara Trakindo Bincang Perspektif 2024 bertajuk “Transformasi Digital Untuk Performa Bisnis Optimal” di bilangan Jakarta Selatan, Rabu (31/1/2024).
Para pembicara dalam diskusi itu adalah CEO & Co-founder CIAS M. Taufik Mardian, Ketua Umum Perhimpunan Agen Tunggal Alat Berat Indonesia (PAABI) Etot Listyono, Manager Digital & Informasi Teknologi Trakindo Ari Widayanti, dan Head Human Resources Trakindo Ferry M Butarbutar. Sementara Chief Administration Officer Trakindo Yulia Yasmina tampil sebagai pembicara kunci.
Taufik Mardian mengungkapkan, perusahaan-perusahaan yang tidak melakukan transformasi digital saat ini justru akan “disinis” dan dicap kolot karena tidak mengikuti perkembangan zaman.
Transformasi digital di sektor industri mulai muncul sejak era tahun 2000-an dengan segala pengalaman jatuh bangunnya. Dalam perjalanan panjang selama lebih dari dua decade, ternyata tidak semua sukses melakukan transformasi digital. Banyak juga yang gagal. Bahkan, angkanya bisa mencapai 70%.
Menurut Taufik, penyebab utama kegagalan itu adalah karena faktor sumber daya manusia (SDM) yang belum siap. Karena itu, hal pertama dan utama yang dilakukan agar transformasi digital sukses adalah membenahi sisi SDM terlebih dahulu. Bila sektor SDM sudah siap, dia yakin transformasi digital akan berjalan dengan mulus.
“Karena itu, kalau sebuah program transformasi digital gagal, jangan cepat-cepat menghukum SDM-nya. Perlakukan mereka secara baik, antara lain dengan meningkatkan kapasitas dan kemampuan mereka,” kata dia.
Dengan kemajuan teknologi yang semakin canggih dewasa ini, Taufik mendorong Trakindo untuk bisa memanfaatkan teknologi Artificial Intelligence (AI) untuk semakin mengoptimalisasi kinerja perusahaan sekaligus menciptakan efisiensi dan melipatgandakan keuntungan.
Sementara itu, Etot Listyono mengaku sudah melakukan survei di kalangan anggota PAABI terkait transformasi digital. Hasilnya, semua perusahaan anggota PAABI sepakat bahwa transformasi digital sangat perlu untuk meningkatkan performa perusahaan.
Etot mengatakan, sebanyak 77 persen anggota PAABI telah menerapkan transformasi digital untuk kebutuhan internal dan eksternal. Sekitar 65 persen dari mereka menerapkan transformasi digital dalam kurun waktu lebih dari dua tahun terakhir. Namun, baru 54 persen yang berhasil, sedangkan 46 persen lainnya mengaku penerapan transformasi digital belum berjalan optimal.
Senada dengan Taufik, Etot menyebutkan, penyebabnya adalah faktor SDM, dan jaringan internet yang belum stabil. Dan di daerah-daerah terpencil yang tidak ada sinyal internet, transformasi digital tidak bisa berjalan sama sekali.
Terkait ini, Etot memuji Trakindo yang sudah menjadi pelopor dalam melakukan transformasi digital di industri alat berat, pertambangan, dan konstruksi di Indonesia. Trakindo melakukan transformasi digital untuk kepentingan internal dan eksternal.
Ari Widayanti dan Ferry M Butarbutar menjelaskan bahwa Trakindo melakukan transformasi digital secara internal dan eksternal. Mereka mengakui proses transformasi digital yang dilakukan internal Trakindo tidak semudah membalik telapak tangan. Banyak pengalaman jatuh bangunnya. Termasuk pernah gagal. Namun mereka terus belajar dari kegagalan-kegagalan tersebut. Dalam proses itu, karyawan Trakindo menjadi pasar pertama sekaligus untuk menguji dan memperbaiki kualitas produk-produk digital mereka. Bila sebuah produk digital sudah diterima dengan baik di internal dengan kualitas terjamin, baru dilempar ke pasar umum.
Di internal Trakindo, Ferry menjelaskan, sekarang ini, semua proses pengurusan pengobatan, cuti karyawan, atau pemesanan tiket untuk tugas keluar kota dan berbagai keperluan lainnya sudah dilakukan secara online. “Jadi, tidak perlu lagi memusingkan kepala SDM di kantor. Proses pengurusan semuanya itu dapat dilakukan dari jauh dan sangat cepat,” ujar Ferry.
Sementara secara eksternal, Ari Widayanti menjelaskan, Trakindo memiliki beberapa aplikasi yang bisa dimanfaatkan oleh para pelanggan. Ia, antara lain menyebutkan Trakindo memiliki E-Commerce Parts.cat.com. Aplikasi ini dapat dimanfaatkan customer untuk membeli suku cadang secara online.
Trakindo juga menghadirkan solusi VisionLink untuk membantu pelanggan dalam mengelola unit alat berat atau fleet sehingga jam operasionalnya maksimal dan pada saat yang sama menekan biaya. Sementara aplikasi CAT Inspect digunakan untuk mengunduh dan menyelesaikan inspeksi yang dilengkapi dengan opsi foto, video, dan komentar.
Solusi-solusi digital itu dibuat Trakindo untuk memberikan kemudahan kepada para customer, menciptakan efisiensi, dan tentu saja, harapan terakhir adalah mendapatkan keuntungan yang berlipat ganda.



















