Fokus di tambang kelas menengah membuat PT Kobexindo Tractors Tbk tetap eksis sembari berekspansi ke segmen-segmen semen dan quarry.

Hampir semua perusahaan yang berhubungan dengan bisnis tambang saat ini terkena imbas gejolak harga batu bara yang menjalar selama sekitar empat tahun belakangan. Tidak hanya perusahaan-perusahaan tambang dan kontraktor-kontraktornya yang kelimpungan, tetapi juga suplier-suplier peralatan, mesin-mesin terkait dan industri-industri pendukung lainnya.
Selama bertahun-tahun, industri tambang batu bara mengalami booming, dan hal itu memikat banyak pebisnis ramai-ramai menggelutinya. Namun, situasi berubah cepat ketika harga batu bara bergejolak, dan sulit untuk beranjak naik seperti sekarang. Sebagian besar dari mereka pun berjatuhan.
“Semua perusahaan yang berkecimpung dengan industri tambang batu bara selama ini pasti merasakan dampak dari krisis ini sekarang. Ini ujian berat untuk mengetes ketahanan mereka. Seberapa kuat mereka menghadapi dan mengatasi masa sulit ini,” kata Al Muqri Sagitri, Director PT Kobexindo Tractors Tbk, dalam perbincangan dengan Majalah Equipment Indonesia beberapa waktu lalu di Jakarta.
Menurut pria yang akrab disapa Muqri ini, krisis pasar batu bara seperti sekarang ini merupakan siklus lima tahunan. “Krisis ini merupakan siklus lima tahunan. Sekarang ini tahun keempat. Mulai paruh kedua tahun 2016 orang-orang akan bersiap-siap menyambut recovery bisnis batu bara awal tahun depan,” ia memperkirakan.
PT Kobexindo Tractors Tbk merupakan salah satu pemasok beragam tipe peralatan berat untuk kebutuhan berbagai industri mulai dari pertambangan, konstruksi, agrikultur hingga industrial. Produk-produk yang diboyong perusahaan publik ini ke tanah air adalah Doosan Heavy Excavator (excavator, wheel loader, articulated dump truck dan hydraulic breaker), Doosan Forklift, NHL Rigid Dump Trucks, Tata Daewoo Heavy Duty Trucks, Jungheinrich, Belarus (traktor pertanian) dan Dressta (bulldozer).
Muqri tidak menampik kalau Kobexindo turut merasakan imbas dari krisis ini karena perusahaan ini memasok beberapa tipe alat untuk usaha tambang, seperti Doosan Excavator Solar 500 LCV, Solar DX 700 LC, NHL Rigid Dump Trucks, Tata Daewoo Heavy Duty Trucks dan Dressta. Excavator S500 merupakan jagoan pasar di tambang kelas menengah dengan pangsa pasar sekitar 40 persen.
Bulldozer Dressta merupakan barang dagangan baru Kobexindo yang membidik pasar tambang barubara maupun mineral. Muqri menjelaskan, alat gusur asal Polandia ini sangat handal dan bukan pendatang baru di Indonesia. Sebelum dipegang Kobexindo, produk-produk Dressta sudah beroperasi di berbagai lokasi tambang. Namun, karena masalah layanan purna jual yang kurang bagus dari agen terdahulu, para customernya kecewa sehingga popularitasnya turun. “Dressta ini produk bagus, tetapi karena lama terlantar, maka imejnya kurang bagus di Indonesia,” imbuhnya.
Fokus di tambang menengah

Seberapa hebat gejolak pasar batu bara ini berdampak terhadap performa bisnis PT Kobexindo Tractors Tbk? Muqri menegaskan bahwa dari dulu yang menjadi fokus bisnis Kobexindo adalah tambang skala menengah yang mengoperasikan alat-alat ukuran sedang. “Kami tidak memiliki alat-alat yang besar. Yang banyak bermasalah sekarang ini adalah pemain-pemain kecil dan besar. Sementara yang menengah masih ada satu dua pemain yang tetap eksis,” ujarnya. Itu sebabnya Kobexindo masih tetap bisa jualan meski jumlahnya tidak sebanyak seperti saat industri ini mengalami booming.
“Mengapa tambang kelas menengah ini masih bisa bergerak, karena target pasarnya tidak terlalu ambisius dan tidak aneh-aneh. Selain itu, mereka biasanya sudah punya buyer, meski bukan jangka panjang. Jadi, mereka tetap berproduksi karena target market-nya sudah ada. Sementara perusahaan-perusahaan tambang kecil, staminanya tidak kuat. Digojlok sedikit saja mereka langsung terjerembab.”
Sedangkan perusahaan-perusahaan tambang besar lebih karena masalah volume produksi. Dengan harga yang rendah sekarang ini, kalau produksi tetap tinggi dengan cost tetap, sementara harga jual di pasar jatuh, kondisi ini menggerogoti profit perusahaan secara keseluruhan. Dalam kondisi seperti ini, mereka akan menurunkan produksi untuk menekan kerugian.
Meski demikian, Muqri mengakui bahwa pasar alat untuk tambang kelas menengah ini tidak dalam posisi yang benar-benar aman karena ketahanan bisnis suatu perusahaan dalam kondisi krisis seperti saat ini sangat bergantung pada kepiawaiannya memelihara pasar agar permintaannya tetap tumbuh. Yang ia maksudkan adalah bahwa sembari terus berusaha mengamankan pasar yang ada di segmen tambang menengah, perusahaan pemain alat berat harus mencari alternatif-alternatif lain di mana alat-alat yang ada masih dapat diterima pasar.
Sembari memelihara pasar yang sudah ada di segmen tambang menengah, Kobexindo melakukan ekspansi ke industri semen dan tambang quarry. Bukan tanpa alasan mengapa Kobexindo mudah beralih ke kedua segmen tersebut. “Ukuran alat yang dibutuhkan di dua pasar tersebut kurang lebih sama dengan yang beroperasi di tambang batu bara kelas menengah,” ia menjelaskan. Doosan Excavator Solar 500 dan DX700 adalah dua jagoan Kobexindo yang handal beroperasi di tambang batu bara menengah maupun di industri semen dan quarry.
Namun, Muqri mengakui bahwa pasar-pasar baru itu belum mampu menggantikan sepenuhnya pasar batu bara yang selama ini menjadi primadona. “Kami harus terus merawat pasar batu bara yang masih ada sembari mencari alternatif-alternatif baru agar pasar produk-produk kami tidak terus merosot,” ucapnya berharap.
Untuk memperkuat positioning pasarnya, Kobexindo juga mulai merambah pasar agrikultur dengan memasarkan traktor pertanian merk Belarus. Produk yang terakhir ini dimaksudkan untuk men-support mekanisasi industri pertanian yang pertumbuhannya relatif stabil di tanah air saat ini. Ia mengakui persaingan di ceruk pasar ini kian ketat belakangan ini karena dikerubuti banyak pemain. “Kami harus pandai-pandai memasarkannya,” ia berkilah.
Ia meyakinkan bahwa eksistensi PT Kobexindo Tractors Tbk di tengah krisis yang berlarut-larut ini membuktikan bahwa meski terkena dampaknya, perusahaan ini tetap memperlihatkan komitmen yang tinggi untuk terus men-support bisnis para customer. “Dalam kondisi sesulit apapun, kami tetap komit mendukung pelanggan,” pungkasnya.


















