27.2 C
Jakarta
6 Mar, 2021.

Komatsu akan perkenalkan excavator yang lebih murah di Indonesia dan Thailand

Ilustrasi mesin-mesin hydraulic excavator Komatsu yang diproduksi oleh PT Komatsu Indonesia (Foto: EI)

Gencarnya serangan pemain-pemain alat berat asal China di pasar Asia Tenggara selama beberapa tahun terakhir semakin mengancam dominasi brand-brand premium dari Jepang, Eropa dan Amerika. Kehadiran mereka terus menggerogoti pangsa pasar para pemain dari negara-negara tersebut, terutama di segmen excavator kelas ukuran sedang. Terbukti, di banyak lokasi proyek konstruksi dan quarry di Indonesia, kehadiran mereka semakin mencolok.

Untuk mengantisipasi persaingan yang lebih sengit ke depan, produsen alat berat terkemuka asal Jepang, Komatsu, dikhabarkan akan meluncurkan mesin-mesin excavator dengan harga yang lebih terjangkau di pasar Asia Tenggara. Rencana itu mempertimbangkan permintaan alat untuk pembangunan perkotaan dan juga untuk menyiasati  persaingan ketat dari mesin-mesin konstruksi buatan China yang dijual dengan harga yang lebih murah.

Dilansir dari Nikkei Asia (1/12/2020), Komatsu sedang mengembangkan excavator-excavator ukuran sedang, kelas 20 ton yang disesuaikan dengan kebutuhan pembangunan lahan perumahan dan konstruksi jalan, yang akan dipasarkan di Indonesia dan Thailand mulai April 2021, di samping menyasar pasar-pasar lain di sekitar kedua negara tersebut. Mesin-mesin itu akan dibuat di Jepang atau Thailand.

Disebutkan dalam laporan itu bahwa mesin-mesin hydraulic excavator ukuran sedang adalah andalan utama Komatsu, yang secara konvensional merupakan peralatan serba guna yang mampu menangani berbagai pekerjaan bertenaga tinggi seperti penambangan, penggalian batu dan penebangan kayu (logging).

Model-model baru yang akan hadir memiliki tenaga engine yang lebih moderat dan harganya 10% hingga 15% lebih rendah. Komatsu berharap dapat menggoda pelanggan-pelanggan yang mungkin mempertimbangkan untuk membeli excavator-excavator dari pabrikan-pabrikan China. Sebagaimana diketahui hingga kini mesin-mesin konstruksi China dijual dengan harga yang lebih murah, sehingga melemahkan harga produk-produk serupa buatan Jepang, Amerika, dan Eropa hingga 20%.

Menurut perkiraan Komatsu, penjualan peralatan konstruksi, pertambangan dan utilitas di pasar Asia di luar Jepang dan China sebesar 129,8 miliar yen ($1,24 miliar) untuk tahun fiskal 2020, turun 37% pada tahun ini. Harga batu bara merosot karena melemahnya  permintaan di pasar-pasar ekspor utama Indonesia, sementara serangan pandemi virus corona (COVID-19) menghantam bisnis secara umum. Kondisi ekonomi yang sulit membuat perusahaan-perusahaan konstruksi sensitif terhadap masalah harga.

Penjualan peralatan konstruksi di China diproyeksikan mencapai 149,4 miliar yen, naik 18%, yang didorong oleh peningkatan investasi infrastruktur publik.

Komatsu merupakan pemain utama di pasar mesin konstruksi Indonesia. Tetapi kehadiran brand-brand China seperti Sany Heavy Industry dan XCMG Group semakin menantang dominasinya dalam beberapa tahun terakhir. Pemain-pemain China itu menawarkan insentif kepada para pelanggan seperti pembelian alat tanpa uang muka untuk pembiayaan dan keringanan bunga atas pinjaman selama tiga tahun. Dengan fasilitas-fasilitas ini, para pemain China menyasar perusahaan-perusahaan konstruksi yang telah menggunakan mesin-mesin excavator Jepang berukuran kecil dan sedang.

Persaingan ketat dengan pemain-pemain China tidak hanya terbatas pada masalah insentif dan harga, melainkan juga memanas karena pembajakan terhadap tenaga-tenaga penjualan berbakat dari dealer-dealer yang punya sejarah panjang bisnis dengan pabrikan-pabrikan Jepang. 

Mesin-mesin Komatsu dikenal mudah digunakan, memiliki daya tahan tinggi dan ditopang oleh berbagai layanan purna jual yang bagus. Ketika penjualan unit-unit baru menurun, bisnis perawatan juga akan ikut tergerus. Komatsu sedang menyesuaikan harga-harga dan produk-produknya untuk mempertahankan para pelanggan dengan tekad untuk “mengamankan pangsa pasar 20% di Asia Tenggara,” kata Kiyoshi Mizuhara, presiden divisi pemasaran peralatan konstruksi.

Pembangunan perkotaan di Asia Tenggara diperkirakan akan tetap kuat dalam jangka menengah hingga panjang. Oxford Economics melihat investasi konstruksi di sana tumbuh rata-rata 6% setahun hingga 2030 hingga mencapai $ 1 triliun per tahun.

Perusahaan Jepang lainnya juga mengambil langkah-langkah strategis untuk meertahankan pangsa pasarnya. Hitachi Construction Machinery menjual peralatan yang sebelumnya disewa dengan brand Premium Used  di pasar Asia Tenggara, yang menawarkan garansi dan riwayat perbaikan dengan premi 10% di atas harga jual kembali yang standar. Perusahaan itu berharap strategi ini akan mendorong para pembeli untuk kembali lagi di kemudian hari untuk mendapatkan suku cadang asli.

Permintaan excavator-excavator bekas sangat tinggi di Vietnam, yang berhasil dengan cepat mengendalikan laju penularan COVID-19. Penjualan mesin-mesin bekas di sana naik sekitar 10% pada tahun 2020.

Sementara Sumitomo Construction Machinery menghabiskan 3,5 miliar yen untuk menggandakan kapasitas produksi di Indonesia menjadi sekitar 2.500 unit excavator pada tahun 2021. Peralatan yang diproduksi di Indonesia akan dijual ke pasar lokal dan diekspor ke Thailand, Malaysia dan Myanmar. (Sumber: Nikkei Asia)

Related posts