28.9 C
Jakarta
16 Jan, 2021.

Mengapa Kinerja Keuangan BUMN Konstruksi Masih Merah?

Proyek jalan layang Becakayu sempat terhenti karena kebijakan PSBB di tengah pandemic Covid-19 (Foto: EI)

Potret kondisi sektor konstruksi tanah air yang mengalami kontraksi terlihat jelas dari kinerja keuangan perusahaan-perusahaan BUMN konstruksi. Baik pendapatan maupun laba bersih yang dibukukan oleh perusahaan-perusahaan milik negara ini mengalami penurunan tajam, karena lesunya segmen bisnis jasa konstruksi yang menjadi bisnis inti mereka.

Dari empat BUMN konstruksi, hingga akhir Oktober tiga di antaranya sudah melaporkan kinerja keuangan untuk peride Januari-September 2020. Tiga BUMN konstruksi tersebut adalah PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, PT Adhi Karya (Persero) Tbk dan PT PP (Persero) Tbk. Sedangkan PT Waskita Karya (Persero) Tbk belum menyampaikan laporan keuangannya.

PT Wijaya Karya (Persero) Tbk atau Wika membukukan pendapatan sebesar Rp10,38 triliun pada Januari-September 2020, turun tajam 43,25% dari Rp18,3 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Penurunan pendapatan ini juga diikuti penurunan perolehan laba bersih yang turun 96,29% menjadi Rp50,19 miliar dari Rp1,35 triliun pada Januari-September 2019.

Pendapatan Wika dari segmen bisnis infrastruktur dan gedung yang merupakan lini bisnis terkait jasa konstruksi turun 47,3% menjadi Rp6,55 triliun dari Rp12,42 triliun pada Januari-September 2019 lalu. Segmen bisnis yang lainnya juga turun tajam. Pendapatan dari segmen  energi dan industrial plant sebesar Rp1,61 triliun (-37,5%); industri  sebesar Rp1,9 triliun (-23,46%) dan properti sebesar Rp325,89 miliar (-0,01%).

Direktur Utama Wika Agung Budi Waskito mengatakan pandemi Covid-19 ini menyebabkan banyak Project Owner yang menunda pembukaan tender baru dan menurunkan Capital Expenditure (Capex)-nya. Dus, perolehan kontrak baru  WIKA pun menurun dan hal ini menyebabkan terjadinya penurunan penjualan yang berujung pada penurunan laba bersih.

“Saat ini yang kami fokuskan adalah mengupayakan capaian revisi target laba bersih di tahun 2020 dan berharap tender-tender proyek dapat segera dibuka untuk sisa tahun berjalan sehingga WIKA dapat melakukan recovery di tahun 2021,” ujarnya beberapa waktu lalu.

Semula Wika menargetkan kontrak baru pada tahu ini mencapai Rp65 triliun. Kemudian direvisi menjadi hanya Rp21,37 triliun. Hingga akhir Juni lalu, kontrak baru yang sudah diperoleh Wika baru mencapai Rp3,41 triliun yang terdiri atas industri Rp1,89 triliun dari target Rp4,45 triliun; infrastruktur dan gedung sebesar Rp1,19 triliun dari target Rp13,07 triliun; energi dan industrial plant sebesar Rp17,7 miliar dari target Rp3,31 triliun dan properti sebesar Rp311,4 miliar dari target Rp525,4 miliar.

Penurunan pendapatan yang signifikan juga dialami oleh PT PP (Persero) Tbk. Sepanjang Januari-September 2020, emiten dengan kode saham PTPP ini membukukan pendapatan sebesar Rp10,02 triliun, turun 37% dibanding Rp15,91 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Laba bersih PT PP juga mengalami penurunan yang tajam sebesar 94,92% menjadi hanya Rp26,37 miliar dari sebelumnya pada periode yang sama tahun lalu sebesar Rp519,24 miliar.

Kecuali linis bisnis pracetak, semua lini bisnis PT PP lainnya mengalami penurunan. Lini bisnis jasa konstruksi yang merupakan bisnis utamanya mengalami penurunan sebesar 38,47% menjadi Rp7,82 triliun dari Rp12,71 triliun. Pendapatan dari segmen bisnis lainnya adalah EPC Rp659,44 miliar (-53,13%); properti dan realiti sebesar Rp1,28 triliun (-7,94%); persewaaan peralatan sebesar Rp103,26 miliar (-44,96%); pracetak sebesar Rp99,85 miliar (+6,65%) dan energi sebesar Rp58,41 miliar (-51,39%).

Sampai dengan Agustus 2020 lalu, PT PP memperoleh kontra baru sebesar Rp11,24 triliun. Beberapa proyek yang berhasil diraih PT PP  sampai dengan Agustus 2020,  antara lain RDMP JO sebesar Rp1,80 triliun, SPAM Pekanbaru sebesar Rp1,26 triliun, Bogor Apartement sebesar Rp1,17 triliun, Sirkuit Mandalika sebesar Rp817 miliar, Sport Centre Banten Rp794 miliar, SGAR Alumina Rp660 miliar, RDMP Reguler Rp576 miliar, Jalan Kendari-Toronipa Rp412 miliar, Muara Bakah Pipeline & Refinery Rp290 miliar, Dual Fuel Power Plant Freeport 80 MW Rp261 miliar dan PLBN Long Nawang Rp204 miliar.

“Manajemen optimistis target kontrak baru tahun ini akan tercapai. Hal tersebut terlihat dari bermunculannya proyek-proyek baru yang diraih oleh Perseroan di masa pandemic Covid-19 ini,” ujar Novel Arsyad, Direktur Utama PTPP beberapa waktu lalu.

Tahun ini, PT PP semula menargetkan kontarak baru sebesar Rp43 triliun dan kemudian direvisi menjadi Rp25 triliun.

Sampai dengan Agustus 2020, kontrak baru dari BUMN mendominasi perolehan kontrak baru PT PP dengan kontribusi sebesar 46%, disusul oleh Pemerintah sebesar 32% dan Swasta sebesar 22% dari total perolehan kontrak baru. Sedangkan, perolehan kontrak baru berdasarkan jenis atau tipe pekerjaan, yaitu: Gedung sebesar 32%, Oil & Gas sebesar 24%, Jalan & Jembatan sebesar 16%, Irigasi sebesar 15%, Power Plant sebesar 9%, Industri sebesar 3%, dan Lain-lain sebesar 2%.

 ADHI tertolong investasi infrastruktur

Jalan tol elevated di jalur Cikampek yang membentang mulai dari Jati Asih (Bekasi) hingga Karawang (Foto: EI)

Meski tak sedalam penurunan pendapatan Wika dan PT PP, PT Adhi Karya (Persero) Tbk juga mengalami penurunan pendapatan yaitu sebesar 5,41% pada periode Januari-September 2020. Perusahaan kode saham ADHI ini tertolong oleh pendapatan dari investasi infrastruktur yang naik sebesar 42,71% menjadi Rp635,61 miliar dari Rp445,38 miliar pada periode yang sama tahun lalu. ADHI juga masih mencatatkan kinerja positif pada segmen EPC dan properti yang masing-masing naik sebesar 6,06% dan 6,39%. Pendapatan dari EPC pada periode Januari-September 2020 sebesar Rp372,57 miliar. Sedangkan pendapatan dari segmen properti sebesar Rp1,1 triliun.

Tetapi kinerja positif pada beberapa segmen bisnis ADHI tersebut tak bisa menutupi penurunan yang terjadi pada bisnis inti, yaitu segmen jasa konstruksi yang mengalami penurunan sebesar 10,71% menjadi Rp6,35 triliun pada Januari-Sepember 2020. Pada periode yang sama tahun lalu, pendapatan dari segmen jasa konstruski ini mencapai Rp7,11 triliun.

Ada pun total pendapatan ADHI pada Januari-September 2020 ini adalah sebesar Rp8,46 triliun, turun 5,41% dari Rp8,94 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Meski pendapatnya relatif terjaga, tetapi laba bersih ADHI turun signifikan 77,23% menjadi Rp79,99 miliar dari Rp351,22 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Parwanto Noegroho, Sekretars Perusahaan ADHI, mengatakan hingga Agustus 2020, ADHI mencatat perolehan kontrak baru sebesar Rp4,7 triliun. Realisasi perolehan kontrak baru di bulan Agustus 2020 didominasi oleh Preservasi Jalan Lintas Timur Sumatera dengan nilai kontrak Rp439,6 miliar.

Kontribusi per lini bisnis pada perolehan kontrak baru Agustus 2020, meliputi lini bisnis Konstruksi & Energi sebesar 89%, Properti sebesar 10% dan sisanya merupakan lini bisnis lainnya. Sedangkan pada tipe pekerjaan, perolehan kontrak baru terdiri dari proyek Gedung sebesar 38%, MRT sebesar 33%, jalan dan jembatan sebesar 5%, serta proyek Infrastruktur lainnya seperti pembuatan bendungan, bandara, dan proyek-proyek EPC sebesar 24%. Berdasarkan segmentasi kepemilikan, realisasi kontrak baru dari Pemerintah sebesar 68%, BUMN sebesar 22%, sementara Swasta/Lainnya sebesar 10%. Tahun ini ADHI menargetkan memperoleh kontrak baru sebesar Rp25 triliun hingga Rp27 triliun. #

Related posts