Dalam kondisi bisnis seperti apapun, customer akan tetap ada. Selalu ada celah untuk memasarkan produk ini kendati pasar sedang lesu. Keyakinan itu diungkapkan Istiqo Projo, Sales & Marketing Manager PT United Tractors Tbk (UT) ketika ditanya mengapa menawarkan Truk Scania saat situasi tambang sedang menurun.
Berbincang-bincang dengan Majalah Equipment di sela-sela sebuah pameran tambang di Jakarta beberapa waktu lalu, ia mengungkapkan populasi Truk Scania di tanah air saat ini mencapai 3700 unit. Rata-rata 150-an truk off-road berhasil dipasarkan sejak tahun 2004. Namun. Sejak akhir tahun lalu penjualan menurun karena bisnis tambang yang kian slowdown.
Ada beragam Truk Scania yang ditawarkan perusahaan ini di Indonesia mulai dari truk on-road P250 LA (6×2), P310 LA (6×4), P360 CA (6×4) hingga P410 CA (6×6). Perbedaan kode huruf seperti L dan C menunjukkan tipe dan fungsi yang berbeda. “L” menunjukkan kalau truk itu long hauling, sedangkan C menunjukkan truk ber-chassis ground clearance tinggi.
“Yang kami jual hanya tractor head. Soal mau digunakan untuk apa dan diberi attachment seperti dump body dan sebagainya, itu tergantung kebutuhan customer,” kata Istiqo.
Ia menambahkan, truk-truk Scania yang dipasarkan kali ini sepenuhnya dari Swedia. Sebelumnya diimpor dari Brasil. Semua parts, termasuk powertrain, bikinan Scania. Tidak ada yang diganti atau diperlengkapi dengan parts dari brand lain. Perlu diketahui, pabrik-pabrik Scania saat ini tersebar di Swedia, Belanda dan Prancis.
Jenis Truk Scania yang menjadi preferensi customer di Indonesia sangat beragam. Salah satu model favorit pelanggan, menurut Istiqo, adalah long hauling. Truk ini banyak dipakai untuk mengangkut besi baja dan semen.
Untuk memperkuat posisi pasarnya di tanah air dan sejalan dengan tuntutan pasar untuk mengoperasikan kendaraan yang ramah lingkungan, tahun depan Scania akan memperkenalkan truk yang menggunakan bahan bakar CNG (compressed natural gas), yakni G340 LA (6×2).
Selain memberikan support kepada para pelanggan dengan menyediakan suku cadang yang tersebar di berbagai belahan Indonesia, UT selaku distributor bekerja sama dengan principal Scania juga menawarkan program remanufacturing. Menurutnya, rata-rata anggaran yang disiapkan customer biasanya 40 persen.
“Dengan anggaran sebesar itu, customer mendapatkan mesin ‘baru’ ketika tiba masa overhaul,” tukasnya. Artinya, mesin lamanya akan di-remanufacture dengan penggantian suku cadang baru, sehingga kembali memiliki kapasitas seperti semula.
“Kalau dikenakan biaya di atas 40 persen, tentu customer lebih memilih untuk membeli unit kendaraan yang benar-benar baru,” ujarnya sembari tersenyum.
Dia mengingatkan, tata-rata masa pakai kendaraan off road adalah 5-7 tahun, sedangkan on road malahan bisa sampai 15 tahun. Truk Scania termasuk kendaraan tangguh yang masa pakainya lama dengan resale value yang menarik.
Menjawab pertanyaan Majalah Equipment mengenai alasan utama customer membeli Truk Scania, Istiqo menyebut tiga alasan. Pertama, Truk Scania memiliki performa yang bagus, tangguh dan kuat, terutama untuk heavy hauled dan kondisi medan yang sulit. Kedua, konsumsi bahan bakar 11-17 persen lebih irit. Ketiga, nama besar PT United Tractors Tbk sebagai distributor alat berat terkemuka di Indonesia dengan jaringan bisnis yang tersebar di seluruh negeri. Perusahaan ini memiliki komitmen yang tinggi dalam mendukung operasi unit-unit truk yang dimiliki para pelanggan dengan menyediakan parts dan service.
Selain memasarkan truk, UT juga menjual bus Scania, dan tahun ini berhasil melepa 51 unit bus penumpang untuk memperkuat armada busway Transjakarta. Jumlahnya akan terus bertambah pada tahun depan.@



















