Industri pertambangan di Indonesia mulai memasuki fase baru dalam transformasi teknologi operasional. Tekanan global terhadap pengurangan emisi karbon, peningkatan efisiensi energi, serta tuntutan keberlanjutan mendorong pelaku industri untuk mulai menguji penggunaan alat berat berbasis listrik dan hidrogen di berbagai site tambang.
Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah perusahaan tambang dan kontraktor pertambangan mulai melakukan uji coba kendaraan tambang listrik (electric vehicle / EV) sebagai bagian dari strategi efisiensi operasional sekaligus upaya menekan emisi karbon. Meskipun teknologi ini masih dalam tahap awal implementasi, berbagai pilot project mulai muncul di sejumlah wilayah operasi pertambangan di Indonesia.
Implementasi tersebut terlihat di berbagai site tambang yang mulai menguji truk listrik dalam aktivitas hauling maupun operasi tambang lainnya. Beberapa proyek percontohan bahkan sudah mulai menunjukkan potensi efisiensi biaya operasional yang cukup signifikan dibandingkan armada berbahan bakar diesel konvensional.
Namun, di sisi lain, transisi menuju alat berat listrik tidak berjalan tanpa tantangan. Kapasitas baterai, ketersediaan infrastruktur kelistrikan, serta kondisi medan operasi tambang yang berat masih menjadi faktor yang harus dipertimbangkan sebelum teknologi ini dapat diimplementasikan secara luas.
Elektrifikasi Armada di Kalimantan Selatan
Salah satu langkah paling progresif dalam implementasi alat berat listrik di sektor pertambangan Indonesia terlihat di PT Borneo Indobara (BIB), salah satu perusahaan tambang batu bara besar di Kalimantan Selatan. Perusahaan ini mulai mendorong program elektrifikasi alat tambang secara bertahap melalui kerja sama dengan sejumlah mitra industri, termasuk distributor alat berat XCMG dan kontraktor tambang PT Putra Perkasa Abadi (PPA) yang menggunakan unit hybrid SANY.
Dalam program tersebut, BIB menerima sekitar 156 unit alat berat listrik XCMG yang terdiri dari dump truck listrik, wheel loader, serta excavator. Armada-armada tersebut dirancang untuk mendukung aktivitas loading dan hauling dalam operasional tambang tanpa menggunakan bahan bakar solar.
Elektrifikasi menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam menerapkan konsep green mining serta mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil yang selama ini mendominasi operasional pertambangan.
Selain penggunaan armada listrik dari XCMG, kontraktor tambang PPA juga memperkenalkan truk hybrid SANY, SRT100S, di area operasional BIB. Truk ini menggunakan sistem diesel-listrik hybrid yang dilengkapi teknologi regenerative braking untuk meningkatkan efisiensi energi selama operasi hauling.
Unit tersebut memiliki kapasitas angkut sekitar 95 ton dengan volume bak mencapai sekitar 70 meter kubik. Teknologi hybrid pada unit ini diklaim mampu menurunkan konsumsi bahan bakar hingga sekitar 30 persen dibandingkan truk konvensional. Implementasi teknologi hybrid tersebut dipandang sebagai tahap transisi menuju penggunaan kendaraan tambang listrik sepenuhnya di masa depan.
“Transformasi ini bukan sekadar langkah teknis, melainkan strategi korporasi untuk memastikan keberlanjutan usaha di tengah tuntutan global terhadap industri rendah karbon,” tegas Chief Operating Officer (COO) BIB, Raden Utoro.
Bukti Irit di Kalimantan Timur

Selain di Kalimantan Selatan, uji coba truk listrik juga dilakukan di tambang PT Multi Harapan Utama (MHU) di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Perusahaan ini melakukan pengujian dump truck listrik SANY, 445 EV yang digunakan langsung dalam aktivitas hauling di area tambang. Pengujian ini difokuskan pada beberapa aspek utama, termasuk performa pengangkutan, ketahanan unit terhadap medan tambang, serta efisiensi operasional dibandingkan truk diesel konvensional.
Hasil kajian awal menunjukkan bahwa penggunaan truk listrik berpotensi memberikan efisiensi biaya operasional yang cukup signifikan. Dengan asumsi umur pakai sekitar empat tahun atau sekitar 16.000 jam kerja, total biaya siklus dump truck diesel konvensional mencapai sekitar Rp11,1 miliar. Sementara itu, truk listrik mencatat total biaya siklus sekitar Rp6,7 hingga Rp7,1 miliar.
Perbandingan tersebut menunjukkan potensi efisiensi biaya operasional hingga sekitar 40 persen dibandingkan armada diesel. Selain efisiensi biaya, penggunaan truk listrik juga dinilai mampu menurunkan emisi karbon secara signifikan serta mengurangi ketergantungan pada konsumsi bahan bakar solar yang selama ini menjadi komponen biaya terbesar dalam operasi tambang.
Hauling Panjang Sumatera Selatan
Eksperimen penggunaan truk listrik juga dilakukan oleh Grup Titan Infra Energy yang mengoperasikan jalur hauling batu bara di Sumatera Selatan. Perusahaan ini mulai melakukan uji coba truk listrik single trailer dengan kapasitas angkut sekitar 75 ton sebagai bagian dari upaya menekan emisi serta meningkatkan efisiensi biaya logistik tambang.
Namun, implementasi kendaraan listrik dalam operasi hauling jarak jauh menghadapi sejumlah tantangan teknis yang cukup kompleks. Jarak jalur angkutan tambang milik Titan mencapai sekitar 118 kilometer yang menghubungkan area tambang di Lahat dan Muara Enim. Untuk dapat beroperasi secara ekonomis, truk listrik harus mampu menyelesaikan lebih dari satu perjalanan dalam satu kali pengisian daya.
Jika kapasitas baterai hanya mampu bertahan untuk satu perjalanan atau bahkan kurang dari satu trip, maka biaya operasional kendaraan listrik menjadi tidak efisien. Saat ini, perusahaan masih menguji berbagai konfigurasi kapasitas baterai mulai dari 300 kWh hingga 500 kWh. Namun untuk mencapai tingkat efisiensi optimal, kapasitas baterai diperkirakan perlu mencapai sekitar 700 hingga 800 kWh.
“Hitung-hitungannya dia baru satu trip atau bahkan satu trip belum, harus charge lagi, itu tidak efisien. Kita masih harus menunggu sampai generasi baterai berikutnya, yang baterainya bisa sekitar 700 kWh hingga 800 kWh. Saat ini yang kita trial antara 300 kWh, 400 kWh, dan 500 kWh,” tegas Direktur Operasional PT Titan Infra Energy, Suryo Suwignjo.
Selain itu, kondisi jalan hauling yang tidak selalu rata juga menjadi tantangan tambahan. Permukaan jalan yang rusak atau berlubang dapat meningkatkan konsumsi energi kendaraan listrik secara signifikan. Meskipun demikian, perusahaan tetap melihat potensi besar kendaraan listrik dalam menekan biaya operasional karena hampir setengah biaya penambangan berasal dari konsumsi bahan bakar.
Uji Hidrogen Di Kalimantan Tengah
Selain kendaraan listrik berbasis baterai, pengembangan teknologi kendaraan tambang berbahan bakar hidrogen juga mulai dilirik oleh pelaku industri. PT Pamapersada Nusantara (PAMA), salah satu kontraktor tambang terbesar di Indonesia, mulai mengembangkan proyek dump truck berbahan bakar hidrogen bersama anak usahanya, PT Energia Prima Nusantara (EPN).
Proyek ini direncanakan akan diuji coba pada tahun ini di area Mining Cluster Improvement Program (MCIP) milik PAMA di Kalimantan Tengah. Teknologi hidrogen yang digunakan memanfaatkan proses elektrolisis air untuk menghasilkan hidrogen yang kemudian digunakan dalam sistem fuel cell. Energi dari fuel cell tersebut digunakan untuk menggerakkan kendaraan tambang.
Pendekatan ini dianggap sebagai salah satu alternatif teknologi kendaraan tambang rendah emisi selain kendaraan listrik berbasis baterai. Saat ini, teknologi dump truck hidrogen masih tergolong baru di industri pertambangan global. Salah satu contoh implementasi teknologi ini sebelumnya dilakukan oleh perusahaan tambang Anglo American. Namun biaya teknologi hidrogen masih relatif tinggi sehingga penerapannya belum dilakukan secara luas.
Selain proyek hidrogen, PAMA juga mulai menguji penggunaan dump truck listrik dengan sistem pengisian daya konvensional maupun teknologi penukaran baterai (battery swapping). Teknologi ini memungkinkan kendaraan tambang mengganti baterai secara cepat tanpa harus menunggu proses pengisian daya yang lama.
Tantangan Implementasi

Meskipun teknologi kendaraan tambang listrik menunjukkan potensi besar, implementasinya masih menghadapi berbagai tantangan. Salah satu tantangan utama adalah kebutuhan infrastruktur kelistrikan dalam skala besar untuk mendukung pengisian daya armada listrik. Operasi tambang dengan puluhan hingga ratusan unit truk listrik membutuhkan pasokan listrik yang sangat besar dan stabil.
Selain itu, kapasitas baterai juga menjadi faktor penting. Aktivitas hauling di tambang umumnya berlangsung dalam siklus kerja panjang dengan beban muatan yang sangat besar. Hal ini membutuhkan baterai dengan kapasitas tinggi agar kendaraan dapat beroperasi secara optimal.
Kondisi medan tambang yang berat juga menjadi tantangan tersendiri. Jalan tambang yang curam, berlumpur, atau berbatu dapat meningkatkan konsumsi energi kendaraan listrik secara signifikan. Selain faktor teknis, biaya investasi awal untuk kendaraan listrik juga masih relatif tinggi dibandingkan unit diesel konvensional. Namun dengan perkembangan teknologi baterai dan meningkatnya skala produksi kendaraan listrik, biaya tersebut diperkirakan akan semakin kompetitif dalam beberapa tahun ke depan.
Transformasi menuju alat berat rendah emisi diperkirakan akan menjadi tren utama dalam industri pertambangan global dalam satu hingga dua dekade ke depan. Perusahaan tambang mulai menyadari bahwa efisiensi energi, pengurangan emisi karbon, serta stabilitas biaya operasional menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan bisnis.
Penggunaan kendaraan listrik, hybrid, maupun hidrogen dapat menjadi bagian dari strategi jangka panjang industri pertambangan untuk menghadapi perubahan kebijakan energi global serta tuntutan pasar terhadap produk yang lebih berkelanjutan. Berbagai proyek uji coba yang saat ini dilakukan di Indonesia menunjukkan bahwa industri alat berat tambang mulai memasuki fase awal transformasi teknologi.
Meskipun masih menghadapi berbagai tantangan, perkembangan ini membuka peluang bagi inovasi teknologi baru yang dapat mengubah cara operasi pertambangan di masa depan. Jika tren ini terus berkembang, elektrifikasi alat berat tambang berpotensi menjadi salah satu perubahan terbesar dalam sejarah industri pertambangan modern. EI



















