Penjualan alat berat lesu, PT Kobexindo Tractors Tbk tertolong oleh segmen bisnis rental yang justru tetap tumbuh positif selama pandemi Covid-19, meski kontribusinya pada keseluruhan pendapatan perusahaan tak begitu besar.

Kinerja keuangan PT Kobexindo Tractors Tbk mengalami tekanan berat selama Januari-September 2020 (9M2020) sebagai imbas dari lesunya ekonomi akibat pandemi Covid-19. Namun, bisnis sewa alat berat masih tumbuh positif, meski porsinya terhadap total pendapatan perushaan kecil.
Emiten alat berat dengan kode saham KOBX ini membukukan pendapatan bersih sebesar US$35,2 juta pada 9M2020. Dibandingkan periode yang sama tahun lalu, pendapatan tersebut mengalami penurunan sebesar 35,87% dari US$54,89 juta pada 9M2019.
Pendapatan dari kegiatan utama perusahaan yaitu penjualan alat berat, suku cadang dan jasa perbaikan mengalami penurunan yang tajam terutama penjualan alat berat. Nilai penjualan alat berat pada 9M2020 sebesar US$19,59 juta, turun 46,5% dari US$36,62 juta pada periode 9M2019. Sedangkan penjualan suku cadang tercatat sebesar US$8,72 juta pada 9M2020, turun 20,05% dari US$10,9 juta pada periode yang sama tahun lalu. Jasa perbaikan juga mengalami penurunan sebesar 16,7% menjadi US$3,22 juta, dari US$3,87 juta pada 9M2019.
Segmen bisnis penyewaan yang justru tetap tumbuh positif selama pandemi ini, meskipun kontribusinya pada keseluruhan pendapatan perusahaan tak begitu besar. Dari penyewaan alat berat, Kobexindo membukukan pendapatan sebesar US$3,08 juta, naik 5,1% dibanding US$2,93 juta pada periode yang sama tahun lalu.
Secara geografis, mayoritas bisnis Kobexindo berada di Jawa. Kontribusi pendapatan dari Pulau Jawa untuk semua segmen baik penjualan alat berat, suku cadang, jasa perbaikan dan penyewaan sebesar US$21,09 juta atau 59,91% terhadap total pendapatan. Pada periode yang sama tahun lalu, total pendapatan dari wilayah Jawa mencapai US$28,55 juta atau berkontribusi 52,02% terhadap total pendapatan. Jadi, selama 9M2020 ini, kontribusi pendapatan di Jawa, meskipun secara jumlah turun sebesar 26,13%, tetapi kontribusinya meningkat.
Sedangkan kontribusi pendapatan di luar Jawa mengalami penurunan yang dalam yaitu 46,42% dari US$26,34 juta menjadi US$14,11 juta pada 9M2020 ini. Ada pun kontribusinya masing-masing sebesar 40,09% pada 9M2020 dan 47,98% pada 9M2019.
Anjloknya pendapatan selama 9 bulan pertama 2020 juga berdampak langsung pada laba perusahaan. Laba kotor tercatat sebesar US$6,58 juta, turun 34,78% dari US$10,09 juta pada 9M2019 lalu. Setelah dikurangi beban penjualan, beban umum dan administrasi dan beban operasi lainnya, Kobexindo mengalami rugi usaha sebesar US$2,46 juta pada 9M2020 ini. Pada periode yang sama tahun lalu, Kobexindo masih membukukan laba usaha sebesar US$3,05 juta.
Selama sembilan bulan pertama 2020, beban keuangan Kobexindo juga meningkat tajam sebesar 234,49% menjadi US$2,82 juta dari sebelumnya pada periode yang sama tahun lalu sebesar US$0,84 juta. Sehingga Kobexindo pun membukukan rugi bersih setelah pajak sebesar US$5,44 juta. Pada periode yang sama tahun lalu, Kobexindo masih membukukan laba bersih sebesar US$1,34 juta.
Saat paparan publik pada Agustus lalu, manajemen menyampaikan bahwa selama pandemi Covid-19 ini tetap fokus melakukan penjualan khususnya terhadap customer yang loyal dan masih mempunyai kemampuan untuk membayar. Selama pandemi, Perusahaan juga melakukan efisiensi dan tidak melakukan ekspansi.
Pada awal tahun ini, Kobexindo meluncurkan articulated dump truck Doosan DA45. Perusahaan menyatakan produk baru ini sudah terbukti performanya. “Sudah ada customer yang akan membelinya,” tulis manajemen dalam laporan hasil public expose di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Seiring dengan lesunya kinerja perusahaan akibat pandemi, harga saham Kobexindo di Bursa Efek Indoensia juga mengalami tekanan selama tahun 2020 ini. Harga saham Kobexindo pada Jumat (4/12) ditutup pada level Rp107 per saham, menguat 1,9% dibandingkan perdagangan sehari sebelumnya. Bila dihitung dari awal tahun, harga saham emiten dengan kode saham KOBX ini masih turun sebesar 10,08% dari Rp119 per saham pada 2 Januari 2020.
Harga saham KOBX sempat menyentuh level terendah di Rp64 per saham pada 31 Maret lalu. Artinya, dari posisi terendahnya itu, saham KOBX sudah mengalami recovery sebesar 67,19% hingga Jumat (4/12).
Degan harga saham terakhir di level Rp107 per saham pada Jumat (4/12), sebetulnya valuasi saham KOBX masih terbilang murah. Dengan jumlah saham yang beredar mencapai 2,27 miliar saham dan jumlah ekuitas per 30 September 2020 sebesar US$26,13 juta, nilai buku per saham (Book Value per Share) KOBX adalah US$0,01 atau Rp163,1 dengan kurs Rp14.182. Artinya, harga wajar per saham BOBX bila mengacu pada ekuitasya adalah sekitar Rp163 per saham. Dengan harga terakhir di Rp107 per saham, Price Book Value (PBV) KOBX masih berada di bawah satu kali nilai buku per saham yaitu sebesar 0,66 kali. Artinya, harga sahamnya masih murah dan terbuka peluang untuk naik ke depan, apalagi bila bisnis KOBX kembali pulih seiring dengan pemulihan ekonomi tahun depan. #

















