26.1 C
Jakarta
Nov 21, 2019.
Image default

Siasat Satrindo Mitra Saat Sawit Lagi Lesu

Berbagai upaya yang dilakukan PT Satrindo Mitra Utama untuk menggairahkan pasar mesin-mesin pertanian di tengah kelesuan industri-industri pendukungnya.

Awan mendung masih menyelimuti industri sawit. Meski pemerintah sudah menggember kebijakan biodiesel, tetapi kinerja industri sawit Indonesia masih lesu darah. Salah satu peyebabnya adalah Uni Eropa yang menghapus penggunaan biodiesel berbasis sawit karena dianggap memiliki risiko tinggi terhadap deforestrasi. Padahal benua biru itu termasuk salah satu pasar potensial untuk ekspor Crude Palm Oil (CPO).

Sepanjang tahun 2019 ini, harga CPO masih bertahan di bawah US$ 750 per metric ton, sehingga pemerintah Indonesia pun menetapkan bea keluar 0% untuk setiap ekspor CPO. Untuk periode September 2019 ini, harga referensi produk CPO untuk penetapan bea keluar sebesar US$ 555,55 per ton.

Lesunya industri sawit ini tak hanya memukul perusahaan perkebunan sawit dan petani sawit Indonesia, tetapi juga produsen-produsen dan/atau dealer-dealer alat-alat pertanian. Z Rendra Nasution, Sales Division Head PT Satrindo Mitra Utama, mengatakan permintaan traktor dari industri sawit tidak sekencang pada 2017 dan 2018 lalu. “Tetapi tetap ada permintaan,” ujarnya  kepada Equipment Indonesia, saat ditemui di sela-sela pameran Inagritech di JIExpo Kemayoran, Kamis (29/8).

Di tengah kondisi industri yang lagi lesu, jelasnya, perusahaan-perusahaan perkebunan sawit mengerem pembelian traktor mereka. “Umpamanya dia selama ini butuh 10, dikurangi 5. Mungkin limanya cukup perbaikan,” ujarnya menggambarkan tren berkurangnya permintaan traktor dari perusahaan perkebunan sawit.

PT Satrindo Mitra Utama saat ini menjadi agen penjualan traktor brand Kioti dari Korea dan brand Same dari Italia. Selain itu, Satrindo juga menjual berbagai implement seperti backhoe loader, front loader, grabber, rotary dan lainnya.

Untuk brand Kioti, Satrindo memiliki  enam tipe mulai dari 28 Horse Power (HP)  hingga 100 HP. Sedangkan untuk Same, menurutnya, tipe yang ditawarkan di atas 100 HP, yaitu 110 HP, 125 HP, dan 170 HP.

Rendra mengatakan untuk brand Kioti umumnya aplikasinya untuk perkebunan sawit dan juga sawah. Sedangkan Same, selain untuk perkebunan sawit juga untuk perkebunan tebu. “Karena kebutuhan perkebunan tebu itu 100 HP ke atas,” ia menjelaskan alasannya.

Segmen industri sawit sendiri, menurut Rendra, berkontribusi sekitar 60% terhadap penjualan traktor Satrindo. Namun, dengan kondisi industri sawit yang lesu, perusahaan mau tidak mau harus peras otak untuk mencari peluang-peluang baru di luar industri sawit.

Beruntungnya, kata dia, perkebunan tebu relatif stabil. Demikian juga permintaan dari petani padi dan jagung, masih terbilang bagus. Karena itu, untuk mempermudah petani padi dan jagung melakukan pembelian, pihaknya bekerja sama dengan perusahaan pembiyaan. “Petani padi atau petani jagung kita harapkan bisa tetap ada pembelian, tetapi kan kemampuan finance mereka tidak banyak. (Karena itu) Kita kerja sama dengan leasing,” ujarnya.

Satrindo, dia melanjutkan, akan memaksimalkan segmen-segmen di luar perkebunan sawit. Seperti perkebunan tebu, meski sudah lama perusahaan bermain di segmen ini, tetapi dengan kelesuhan industri sawit, segmen ini akan dimaksimalkan lagi. “Ada beberapa segemen yang belum kita garap. Karena segmen di kelapa sawit ini terjadi penurunan, segmen lain yang bisa kita kembangkan,” ujarnya.

Penjualan sparepart juga menjadi andalan di kala industri sawit lagi lesu. “Terutama suku cadang untuk produk kita sendiri seperti Kioti dan juga untuk produk-produk implement seperti bajak, backhoe loader, kita sipakan spareparts,” ujarnya.

Rendra mengatakan sebagai bagian dari after sales services, Satrindo menyediakan berbagai suku cadang dari brand-brand yang mereka jual.  “Kalau sparepart macam-macam, ada yang kita impor dari luar negeri, dari Italia atau Brazil juga ada,” ujarnya.

Saat ini, Satrindo beroperasi di 12 cabang di Jawa, Sumatera dan Kalimantan. “Berikutnya mungkin kita upayakan di Papua, karena prospek di Papua cukup bagus. Ada beberapa perusahaan besar yang saat ini sudah berkembang di Papua,” tandasnya.

Perusahaan ini juga sedang mengkaji peluang untuk bermain di segmen penyewaan (rental) traktor. Namun, menurutnya, opsi itu masih dipertimbangkan plus minusnya. “Kita sedang mempelajari. Kita mau hitung dulu plus minusnya, profilnya bagaimana. Kalau beberapa teman yang lain sih sudah mulai,” ujarnya. Semoga sukses ya!!!

Related posts

FAW Keluarkan Truk Berbahan Bakar CNG & LNG

William Syukur

Mengenal lebih dekat produk-produk Generator JCB

ISUZU SERAHKAN SERTIFIKASI KEPADA 17 PERUSAHAAN KAROSERI