
Setiap kali musim hujan tiba, bencana banjir selalu mengancam kenyamanan warga. Meski Pemprov DKI terus melakukan segala upaya untuk mencegah luapan air, namun belum ada jaminan banjir tidak akan terjadi. Hingga kini belum ada solusi-solusi ampuh untuk menekan bencana banjir itu.
Salah satu solusi yang ditempuh Pemerintah adalah membangun waduk. Tapi, problem dilematis yang muncul adalah apakah membangun waduk baru ataukah merevitalisasi waduh-waduk yang sudah ada. Sejak zaman penjajahan ada banyak waduk yang sengaja dibangun untuk menampung air hujan. Namun, sebagian besar dari fasilitas-fasilitas tersebut hilang tanpa bekas. Banyak yang mengering dan kemudian dialihfungsikan. Hanya sebagian kecil yang berfungsi, dan dari jumlah yang sedikit itu, banyak yang mengalami pendangkalan karena tidak pernah dirawat dengan baik. Banyak waduk yang mengalami pendangkalan karena proses endapan lumpur, termasuk sampah selama bertahun-tahun.
Akhir-akhir ini Pemprov DKI harus mengalokasikan anggaran yang besar untuk normalisasi sungai, waduk dan kanal. Pemerintah merencanakan untuk membangun 25 waduk baru. Sementara ada ratusan waduk lama yang hampir tak pernah direvitalisasi.
“Membangun waduk baru tidak hanya memerlukan biaya besar, tetapi juga memiliki dampak sosial yang tinggi karena harus merelokasi warga yang berada di sekitar lokasi. Normalisasi waduk-waduk lama juga tidak kalah merepotkan, meski ongkos konstruksi dan juga biaya sosialnya relatif lebih rendah. Namun, persoalan lama akan kembali terulang jika fasilitas-fasilitas itu tidak dirawat secara baik,” kata Daniel Gozali, Director PT Binacitra dalam perbincangan dengan Majalah Equipment Jakarta baru-baru ini.
Lantas, apa solusinya? Solusi yang paling feasible, menurut dia, adalah merawat waduk-waduk itu, termasuk daerah-daerah aliran sungai dan kanal-kanal, secara regular dengan menggunakan peralatan yang tepat, di samping membangun perilaku ramah lingkungan di warga sekitar.
“Solusi untuk persoalan ini sederhana saja, yaitu merawat semua sungai, waduk dan kanal yang ada secara rutin dengan menggunakan alat yang tepat guna. Dengan perawatan rutin, waduk-waduk lama direvitalisasi. Tidak ada dampak sosial. Biayanya pun lebih murah. Tinggal pemerintah sekarang mau pilih opsi yang mana?” kata Daniel sedikit menantang.



















