
Memasuki usia 15 tahun, PT Daya Kobelco CMI ingin bekerja lebih smart dan makin efisien. Mengapa?

Jelang akhir 2015 ini, tanpa terasa, PT Daya Kobelco CMI sudah 15 tahun berkiprah di bisnis distribusi alat berat/konstruksi Indonesia. Sepak terjangnya memang belum seberapa dibandingkan dengan pesaing-pesaingnya yang sudah berpuluh-puluh tahun menggarap pasar Indonesia. Tetapi popularitas berbagai produk dan juga servis yang ditawarkannya tidak bisa dianggap remeh. Usia boleh muda tetapi kemampuan merebut pangsa pasar jangan dipandang dengan sebelah mata. Faktanya saat ini, Kobelco menjadi salah satu brand favorit pemain alat, dan produk-produknya menjadi market leader di beberapa segmen.

Tetapi, hari-hari ini bukan saat yang tepat untuk memegahkan diri. Sebab sudah sekitar empat tahun, bisnis barang-barang modal ini tiarap dan tahun ini mencapai titik terendah. “Kondisi pasar alat berat sejak empat tahun lalu terus mengalami penurunan, dan saat ini kondisinya sudah mencapai bottom (titik terendah),” kata Seiji Orimoto, President Director PT Daya Kobelco CMI dalam perbincangan dengan Majalah EQUIPMENT di Jakarta, Senin (2/11/2015).
Kondisi pasar saat ini, lanjut Orimoto, memang sangat menantang bagi Daya Kobelco. “Kami masih terus mencoba segala sesuatu untuk melihat pasar mana yang cocok untuk Kobelco. Dari segi produk, Kobelco tidak kalah, bahkan lebih bagus dari kompetitor, terutama di barisan produk-produk Jepang. Kobelco sangat kompetitif dalam hal kekuatan, ketangguham, kecepatan serta efisiensi bahan bakar.”
Tetapi, ia sudah mulai bernapas lega karena seiring dengan munculnya proyek-proyek infrastruktur pemerintah belakangan ini, pasar alat mulai bergairah kembali, baik mesin baru maupun used equipment, meski grafik kenaikannya masih sangat landai alias perlahan-lahan.
Budiono Wibowo, Product Support Director Daya Kobelco, mengakui bahwa gejolak pasar alat berat dalam beberapa tahun terakhir sangat berdampak terhadap performa perusahaan ini. Pemicu utamanya adalah kelesuan industri tambang batu bara dan juga mineral sebagai buntut dari kemerosotan harga beberapa komoditas, khususnya batu bara. “Pasarnya saat ini mungkin hanya tinggal 30 persen saja,” ujarnya.
Pasar utama Kobelco sebetulnya bukan industri tambang, terutama batu bara, meski perusahaan ini sudah mengeluarkan excavator khusus untuk aplikasi tambang batu bara. Yang menjadi fokus utamanya di pasar pertambangan adalah segmen mineral, seperti nikel, timah, bauksit dan juga quarry (tambang batu).
Produk-produk Kobelco juga termasuk pemain utama di segmen perkebunan dan HTI (Hutan Tanaman Industri). Namun, diakui oleh Yushi Sandidarma, Marketing Director PT Daya Kobelco, bahwa meski kedua sektor tersebut tetap menjadi pasar yang sangat prospektif bagi Kobelco, apalagi proyeknya masih banyak, namun sistem pembayarannya yang suka mundur, bahkan sampai enam bulan menyulitkan para pemain alat untuk melakukan investasi unit baru.
“Mereka harus berpikir dua kali kalau hendak investasi alat baru. Akibatnya, dalam kondisi seperti itu, hanya pemain-pemain besar yang tetap eksis. Pemain-pemain kecil sudah berguguran,” ia menjelaskan kondisi pasar di sektor perkebunan dan HTI.
Fokus perhatian Daya Kobelco saat ini adalah infrastruktur. Budiono mengatakan, dimulainya pengerjaan proyek-proyek infrastruktur di Jawa dan Sumatera sudah mulai berdampak positif terhadap penjualan produk-produk Kobelco baik untuk penjualan unit-unit baru maupun used equipment. “Di segmen civil work sudah mulai ada demand,” tukasnya.
Mulai dua bulan lalu sudah ada pergerakan permintaan di daratan Jawa. Salah satu indikasinya adalah meningkatnya permintaan mini excavator Kobelco. Saking banyaknya permintaan, semenjak beberapa bulan lalu Daya Kobelco kehabisan stok hingga saat ini.
















