
Tahun 2022 diprediksi menjadi masa keemasan bisnis alat berat di Indonesia. Pasalnya, hingga akhir tahun ini pertumbuhan alat berat diperkirakan akan mencapai titik tertinggi sepanjang masa, yaitu lebih dari 21.000 unit. Tanda-tanda itu sudah terlihat hingga pertengahan tahun.
Tahun 2022 diprediksi menjadi masa keemasan bisnis alat berat di Indonesia. Pasalnya, hingga akhir tahun ini pertumbuhan alat berat diperkirakan akan mencapai titik tertinggi sepanjang masa, yaitu lebih dari 21.000 unit. Tanda-tanda itu sudah terlihat hingga pertengahan tahun.

Pada semester satu 2022 saja, secara Year-on-Year (YoY), jumlah alat berat yang sudah beredar di Indonesia sudah mencapai 12.000 unit. Angka ini hampir dua kali lipat dari periode yang sama pada 2021, yang hanya berjumlah 7.374 unit. Artinya ada kenaikan 63%. Bahkan, data ini belum termasuk alat berat excavator.
Ketua Umum Perhimpunan Agen Tunggal Alat Berat Indonesia (PAABI), Etot Listiono, mengungkapkan hal itu dalam diskusi bertajuk “Geliat Alat Berat Tiongkok di Indonesia” yang diselenggarakan oleh Pamerindo Indonesia bekerja sama dengan Majalah Tambang di sela-sela acara Mining Indonesia 2022, Jumat (16/9), di Jakarta.
“Kalau kita bisa prediksi, sampai akhir tahun ini, bisa tembus di atas 20.000. Perkiraan kami bisa 21.000 lebih. Mungkin tahun ini adalah ‘the highest‘. Ini permintaannya tinggi sekali. Ini tertinggi sepanjang sejarah industri alat berat di Indonesia,” kata Etot Listiono.
Lebih lanjut Etot menyebut sektor-sektor yang berkontribusi pada tingginya permintaan alat berat di Indonesia. Menurut dia, ada dua sektor yang berkontribusi paling besar. Pertama, sektor pertambangan dengan kontribusi sebesar 42 persen. Kedua, sektor konstruksi dengan kontribusi sekitar 39% untuk pertumbuhan alat berat di Indonesia. Di luar itu, masih ada sektor forestry yang menyumbang 12% dan perkebunan atau agriculture yang berkontribusi 10%.
Komposisi ini sedikit berubah dari tahun sebelumnya. Pada 2021, penyumbang utama pertumbuhan alat berat adalah sektor konstruksi sebesar 40%, sedangkan ‘mining’ atau pertambangan menyumbang 34%, forestry menyumbang 18%, dan agriculture menyumbang 9%.
“Sumbangan 42% dari sektor pertambangan itu all mining. Batu bara, nikel. Ini terjadi karena harga-harga komoditas naik. Ini sangat membantu dan menjadi peluang yang sangat besar untuk investasi,” papar Etot lagi.
Pertumbuhan alat berat yang begitu pesat pada 2022 ini melebihi pertumbuhan pada 2021. Bahkan pertumbuhan tahun lalu, ketika pandemi Covid-19 belum selandai sekarang ini, pertumbuhan alat berat mencapai 14.567 unit. Ini pun melampaui penjualan alat berat pada 2011 yang disebut-sebut sebagai pertumbuhan tertinggi sepanjang masa.
Dalam data yang dipaparkannya, Etot menjelaskan bahwa bisnis alat berat mengalami penurunan sejak 2018. Penurunan makin dalam ketika dunia, termasuk Indonesia, dilanda pandemi Covid-19 pada awal 2020. Disebutkan, pada 2018 pertumbuhan alat berat berjumlah 13.727 unit. Angka ini turun drastis menjadi 10.459 unit pada 2019, dan turun semakin dalam lagi pada 2020 menjadi hanya 7.238 unit.
Namun ketika badai Covid-19 mulai melandai pada 2021, kata Etot Listiono, semua sektor bertumbuh, tidak hanya sektor pertambangan, tetapi semua sektor industri. “Industri di negara kita tumbuh signifikan sejak 2021, termasuk industri alat berat. Termasuk pada pameran ini, semua senang dan sumringah karena industri alat berat bergeliat,” ujar Etot.
Pertumbuhan sejak tahun lalu itu berlanjut dan semakin pesat pada 2022, ketika pandemi Covid-19 berhasil dikendalikan oleh pemerintah. Pertumbuhan itu, ia melanjutkan, terlihat jelas dalam pameran Mining Indonesia 2022 ini. “Itu terjadi karena konstruksi ikut tumbuh, pembangunan jalan mulai berjalan. Di pameran ini, semua alat juga dipajang,” imbuhnya.
Dominasi produk China

Lebih jauh Etot Listiono mengelaborasi, pertumbuhan alat berat paling mencolok dan signifikan adalah alat-alat berat dari China. Bila melihat data hingga Juli 2022, jumlah alat berat yang sudah terjual di market Indonesia sebanyak 12.000 unit. Dari jumlah itu, 26% persen di antaranya dikuasai oleh produk-produk China. Angka ini diperkirakan masih akan bertumbuh pesat hingga akhir tahun nanti.
Angka ini tergolong mencengangkan bila menengok data penjualan pada 2018. Ketika itu, pasar alat berat asal China di Indonesia hanya 5%. Lalu angka ini naik hampir dua kali lipat pada 2019. Jumlah alat berat dari China yang ada di market Indonesia mencapai 9%. Total polulasinya mencapai 10.459.
Pertumbuhan alat berat China di pasar Indonesia makin pesat lagi pada 2020. Ketika itu mereka sudah menguasai 26% pasar nasional dengan total penjualan 7.238 unit. Lalu pada 2021, angka itu naik lagi menjadi 27 persen dengan total 14.567 unit.
Nah, khusus untuk semester pertama 2022, dari 26 persen pangsa pasar yang dikuasai alat-alat berat China, mereka paling banyak masuk ke infrastruktur, baik konstruksi di daerah pertambangan maupun jalan. “Kalau dilihat di sini, untuk sektor tambang sebetulnya stabil,” Etot menyimpulkan.
Terkait kecilnya porsi pasar alat berat asal China di Indonesia pada 2018, Etot mengatakan hal itu terjadi karena Sany, salah satu brand alat berat asal negeri Tirai Bambu itu, belum daftar resmi ke asosiasi. Padahal, Sany adalah brand alat berat China yang berhasil mendobrak pasar Indonesia.
Pesatnya pertumbuhan alat-alat berat China di Indonesia memang tidak terlepas dari upaya Sany sebagai produk pelopor. Brand ini sukses mendobrak pasar Indonesia yang masih didominasi alat-alat berat Jepang, Amerika Serikat, dan Eropa. Dan, pelan tapi pasti, Sany sukses mengubah kesan dan pandangan konsumen Indonesia terhadap produk-produk China.
Di mata konsumen Indonesia, alat-alat China terkenal dengan kualitasnya yang rendah. Namun Sany sudah membuktikan bahwa mereka sudah dan terus membenahi diri dari berbagai sisi, termasuk soal kualitas. Hasilnya, mereka tuai sekarang. Sany menjadi brand China yang sukses menguasai pasar alat berat di tanah air saat ini.
Terkait itu, Gatot Sunyoto Sumowidagdo yang mewakili PT Sany Perkasa mengungkapkan rahasianya. Menurut dia, kesuksesan Sany mendobrak pasar Indonesia karena mereka mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhan konsumen (consumer needs) Indonesia. “Konsep yang dibangun Sany sederhana. Sany memproduksi apa yang benar-benar dibutuhkan oleh pasar Indonesia baik kegunaan maupun terkait harga,” kata Gatot.
Selanjutnya, kesuksesan Sany mendobrak pasar Indonesia ditiru oleh produk-produk China lainnya yang datang kemudian, seperti SunWard. CEO Sicoma Indo Perkasa, salah satu dealer SunWard, Rendy Sesario, mengungkapkan, kesuksesan Sany dalam mendobrak pasar Indonesia ditiru perusahaannya secara utuh alias di-‘copy paste’. Alhasil, meski SunWard tergolong pendatang baru di Indonesia, yaitu sejak Maret 2021, produk yang berasal dari wilayah yang sama dengan Sany di China itu, langsung disambut pasar Indonesia dengan sangat baik.

Artinya kue alat berat asal China di pasar Indonesia juga dinikmati SunWard dalam satu setengah tahun kehadirannya di Indonesia. “Kebetulan juga kami hadir pada saat yang tepat. Ketika produk-produk lain tidak memiliki stok alat pada 2021, kami punya. Sehingga, alat-alat kami langsung diserap pasar,” ujarnya saat menjadi salah satu pembicara dalam seminar tersebut.
Serbuan alat-alat China di Indonesia memang terlihat jelas pada pameran Mining Indonesia 2022 yang digelar selama empat hari, 14-17 September silam. Produk-produk China tampil sangat dominan. Bahkan mengalahkan produk-produk Jepang, Korea, dan Eropa. Produk-produk China betul-betul ‘show off’ pada pameran ini. Dan, bisa jadi, ini menjadi gambaran bahwa beberapa tahun ke depan, produk-produk alat berat China akan menguasai pasar Indonesia. EI





















