Lesunya permintaan alat berat diproyeksi akan terus berlanjut hingga akhir 2023, yang dipicu oleh ketidakpastian geopolitik global dan gejolak politik dalam negeri jelang Pemilu 2024.

Biasanya, menjelang Pemilu, proyek-proyek infrastruktur akan melambat, sehingga permintaan alat berat dari sektor konstruksi berkurang. Harga komoditas juga cenderung menurun yang menyebabkan merosotnya permintaan peralatan dari sektor perkebunan dan pertambangan.
Namun, penurunan permintaan di sektor konstruksi, perkebunan dan pertambangan pada tahun ini tidak hanya berdampak pada pasar alat berat secara umum, tapi juga terhadap prospek penjualan yang mengalami perlambatan.
Saat ini, PT United Tractors Tbk (UNTR) masih mempertahankan target penjualan Komatsu di rentang 5.800 unit sampai 6.000 unit. Ini berarti, per September 2023 UNTR telah memenuhi 72,75% sampai 75,26% dari target yang dipasang.
Lebih jauh, tengok laporan keuangan empat emiten alat berat selama periode Januari-September 2023, yakni UNTR, PT Kobexindo Tractors Tbk (KOBX), PT Intraco Penta Tbk (INTA) dan PT Hexindo Adiperkasa Tbk (HEXA). Berikut penelusuran Equipment Indonesia.
UNTR, emiten tambang Grup Astra misalnya, mencatatkan peningkatan pendapatan, tetapi dengan laba bersih yang turun selama periode Januari-September 2023. UNTR membukukan laba bersih Rp15,34 triliun hingga kuartal III 2023.
Dalam laporan keuangan, dikutip Selasa (07/11/2023), UNTR mencetak pendapatan bersih sebesar Rp97,59 triliun. Pendapatan bersih ini naik 6,63% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp91,53 triliun.
Masing-masing unit usaha, yaitu mesin konstruksi, kontraktor penambangan, pertambangan batu bara, pertambangan emas, industri konstruksi, dan energi secara berturut-turut memberikan kontribusi sebesar 29%, 40%, 25%, 4%, 2%, dan kurang dari 1% terhadap total pendapatan bersih konsolidasian.
Sementara itu, laba bruto UNTR tumbuh sebesar 2%, dari Rp25,3 triliun menjadi Rp25,7 triliun. Sedangkan laba yang diatribusikan ke pemilik entitas induk atau laba bersih UNTR turun sebesar 3% menjadi Rp15,3 triliun, dari Rp15,9 triliun akibat kenaikan biaya keuangan dan kerugian nilai tukar mata uang asing.
Di segmen alat berat, UNTR menjelaskan sampai September 2023, volume penjualan alat berat Komatsu tercatat sebanyak 4.365 unit atau turun 4% jika dibandingkan dengan triwulan ketiga tahun 2022 sebanyak 4.534 unit. Penurunan penjualan alat berat dikarenakan penurunan permintaan dari sektor konstruksi dan perkebunan.
Kemudian di bisnis kontraktor penambangan yang dijalankan oleh PT Pamapersada Nusantara (PAMA) membukukan pendapatan bersih sebesar Rp39,1 triliun, atau naik 18% secara tahunan. PAMA mencatat peningkatan volume produksi batu bara sebesar 16% dari 83 juta ton menjadi 96 juta ton dan volume pekerjaan pemindahan tanah (overburden removal) sebesar 23% dari 692 juta bcm menjadi 853 juta bcm, dengan rata-rata strip ratio sebesar 8,9 kali, meningkat dari 8,3 kali.
Di unit usaha pertambangan batu bara yang dijalankan oleh PT Tuah Turangga Agung, total penjualan batu bara sampai triwulan ketiga tahun 2023 mencapai 8,5 juta ton termasuk 1,8 juta ton batu bara metalurgi, atau naik sebesar 10% dari periode yang sama tahun 2022 sebesar 7,8 juta ton. Pendapatan unit usaha pertambangan batu bara turun sebesar 2% menjadi Rp24 triliun dari Rp24,4 triliun pada periode yang sama di tahun 2022, dikarenakan penurunan rata-rata harga jual batu bara.

Sementara itu, unit usaha UNTR di bidang pertambangan emas dijalankan oleh PT Agincourt Resources (PTAR) mencatatkan penjualan emas mencapai 147.000 ons, turun 32% dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2022 sebesar 216.000 ons. Pendapatan bersih segmen usaha pertambangan emas turun 26% dari Rp5,8 triliun menjadi Rp4,3 triliun.
Adapun PT Acset Indonusa Tbk (ACST) atau ACSET yang merupakan anak usaha UNTR membukukan pendapatan bersih sebesar Rp1,5 triliun per September 2023, naik dibandingkan pendapatan sebesar Rp729 miliar pada periode yang sama tahun 2022. Meski begitu, ACSET membukukan rugi bersih sebesar Rp151 miliar per September 2023, turun dibandingkan rugi bersih sebesar Rp227 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Berikut, pendapatan bersih emiten alat berat PT Kobexindo Tractors Tbk (KOBX) mencapai Rp1,05 triliun selama periode Januari-September 2023. Pencapaian ini turun 10,26%, jika dibandingkan pendapatan bersih sebesar Rp1,17 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Pendapatan bersih KOBX ini berasal dari penjualan unit alat berat Rp770,82 miliar, turun 16,29% dari Rp920,85 miliar. Penjualan suku cadang Rp148,56 miliar, naik 8,84% dari Rp136,50 miliar. Pendapatan jasa perbaikan dan kontraktor pertambangan sebesar Rp79,65 miliar, naik 20,63% dari Rp66,03 miliar. Pendapatan sewa alat berat mencapai Rp48,91 miliar, naik 19,23% dari Rp41,02 miliar, dan sewa bangunan naik 8,43% dari Rp4,39 miliar menjadi Rp4,76 miliar.
Beban pokok KOBX dapat ditekan turun sebesar 5,40%, dari Rp940,71 miliar menjadi Rp889,94 miliar per September 2023. Meski begitu, laba kotor KOBX tetap turun 28,20% dari Rp228,09 miliar per September 2022 menjadi Rp163,77 miliar per September 2023.
Perseroan mencatat laba usaha Rp75,27 miliar per September 2023, turun 9,42% dari Rp83,10 miliar per September 2022. Ini disebabkan antara lain oleh kenaikan beban penjualan sebesar 15,78% dari Rp51,64 miliar menjadi Rp59,79 miliar, dan beban umum dan administrasi yang meningkat sebesar 25%, dari Rp84,17 miliar menjadi Rp105,28 miliar per September 2023.
Alhasil, laba bersih KOBX yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp52,04 miliar (Rp22,90 per saham) per September 2023. Angka ini turun 28,20% dibandingkan laba bersih KOBX yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp72,48 miliar (Rp31,90 per saham) per September 2022.
Total aset KOBX per 30 September 2023 menjadi Rp3,37 triliun, naik 18,66%, dari Rp2,84 triliun per 31 Desember 2022. Adapun total ekuitas KOBX meningkat sebesar 5%, dari Rp520,07 miliar per 31 Desember 2022 menjadi Rp546,59 miliar per 30 September 2023.
Bagaimana dengan kinerja keuangan INTA dan HEXA? Pendapatan usaha emiten alat berat INTA mencapai Rp702,88 miliar selama periode Januari-September 2023. Angka ini meningkat 41,38% jika dibandingkan pendapatan usaha sebesar Rp497,16 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Pendapatan usaha INTA ini berasal dari penjualan alat-alat berat Rp423,25 miliar, naik sebesar 68,32% dari Rp251,45 miliar. Penjualan suku cadang Rp208,78 miliar, naik 33,25% dari Rp156,67 miliar. Sementara pendapatan jasa perbaikan sebesar Rp6,20 miliar, turun 20,51% dari Rp7,80 miliar. Jasa persewaan sebesar Rp61,75 miliar, turun 7,24% dari Rp66,57 miliar. Pendpata manufaktur sebesar Rp2,91 miliar, meningkat 265,12% dari Rp797 juta per September 2022.
Seiring pendapatan, beban pokok INTA juga meningkat 33,50% dari Rp413,85 miliar menjadi Rp552,51 miliar. Meski begitu, laba kotor INTA berhasil naik sebesar 80,47% dari Rp83,32 miliar per September 2022 menjadi Rp150,37 miliar per September 2023.
Di tengah peningkatan pendapatan bersih tersebut, INTA mencatat rugi bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp44,17 miliar (Rp13 per saham) per September 2023. Angka ini turun 15,72%, dibandingkan rugi bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk per September 2022 yang mencapai Rp52,37 miliar (Rp16 per saham). Rugi ini disebabkan oleh peningkatan beban pajak INTA sebesar 1.609,73%, dari Rp3,70 miliar menjadi Rp63,26 miliar per September 2023.
Total aset INTA per 30 September 2023 mencapai Rp2,36 triliiun, naik 8,26%, dari Rp2,18 triliun per 31 Desember 2022.
Sebagai informasi, INTA memasang target optimistis hingga akhir tahun ini. INTA menargetkan pendapatan sebesar Rp1,2 triliun pada 2023. Target ini meningkat 81,54% jika dibandingkan pendapatan INTA sebesar Rp661,30 miliar pada 2022.
Untuk menggejot penjualan di sisa tahun ini, INTA akan melakukan penetrasi pasar secara intensif sekaligus menggandeng principal untuk memperoleh dukungan penuh guna meningkatkan penjualan alat berat dan memberikan kepuasan kepada para pelanggan.
Sementara itu, HEXA berhasil mengakhiri periode Januari-September 2023 dengan mencetak peningkatan kinerja. Laba tahun berjalan HEXA naik menjadi US$30,90 juta. Dalam laporan keuangan HEXA, dikutip Selasa (07/11/2023), laba tahun berjalan naik 36,55% dari US$22,63 juta dibandingkan periode yang sama tahun 2022.
Peningkatan laba bersih ini didorong oleh penghasilan HEXA yang sebesar US$316,80 juta. Penghasilan per September 2023 ini naik 20,63% dari US$262,62 juta secara tahunan atau year on year. Penghasilan HEXA ini didorong oleh penjualan alat berat ke pihak berelasi sebesar US$48,22 juta, dan penjualan alat berat ke pihak ketiga senilai US$158,86 juta.
Penghasilan HEXA pada tahun 2023 ditargetkan US$651,571 juta, naik 3,34% dari US$630,495 juta pada tahun lalu. Perseroan menargetkan laba bersih sebesar US$51,08 juta pada 2023. Pencapaian laba sebesar US$30,90 juta per September 2023, menunjukkan HEXA telah memenuhi 60,5% dari target laba tahun ini.
Kemudian penjualan suku cadang ke pihak ketiga sebesar US$64,24 juta, jasa pemeliharaan dan perbaikan ke pihak ketiga sebesar US$33,78 juta, dan jasa penyewaan alat berat ke pihak ketiga sebesar US$5,66 juta. Hingga akhir September 2023, HEXA membukukan beban pokok penghasilan yang meningkat 18,23% menjadi US$245,02 juta, dari US$207,24 juta secara year on year.
Pada akhir September 2023, HEXA mencatatkan total aset senilai US$447,14 juta, turun 3,49% dari 31 Maret 2023 sebesar US$463,33 juta. Total liabilitas HEXA juga tercatat turun 1,95%, dari US$297,57 juta di akhir Maret 2023 menjadi US$291,77 juta di akhir September 2023. Total ekuitas HEXA juga turun 6,27% menjadi US$155,37 juta di perode September 2023, dari US$165,76 juta per akhir Maret 2023. @


















