Alat Berat
Business Top News

Aktivitas Tambang Terus Meningkat di Paruh II 2022, Akankah Penjualan Alat Berat Terus Menjulang?

Alat berat merupakan motor utama yang menggerakkan pertumbuhan industri tambang, infrastruktur, forestry dan masih banyak lagi yang lainnya. Tidak heran pertumbuhan pasar barang-barang modal itu mengikuti kondisi industri-industri tersebut. Saat aktivitas tambang atau pembangunan infrastruktur sedang ramai, kebutuhan peralatan makin tinggi. Sebaliknya, ketika kegiatan tambang lesu, atau saat pembangunan infrastruktur melambat, pasar alat berat pun ikut terpuruk.

Mesin “Big Digger” merek Hitachi, EX2000 dengan kapasitas bucket 200 meter kubik, Foto: HAP

Dalam setahun terakhir, industri pertambangan, khususnya batu bara, mengalami peningkatan signifikan. Harga emas hitam ini di pasaran melonjak dan terus mencetak rekor demi rekor. Hebatnya, kenaikan harga batu bara terjadi saat dunia, termasuk Indonesia, sedang dilanda pandemi Covid-19. Harga Batubara Acuan (HBA) yang sebelumnya sebesar US$ 115,35 per ton pada Juli 2021, sekarang sudah mencapai sebesar US$ 319,22 per ton pada September 2022. Artinya, harganya sudah meningkat sebesar 176,74 persen selama setahun lebih. September 2022 merupakan bulan keempat berturut-turut di mana harga batu bara berada di atas level US$ 300 per ton. HBA bahkan mencapai rekor tertingginya, yaitu US$ 323,91 per ton pada Juni 2022.

Menurut Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), kenaikan harga batubara disebabkan oleh ketidakpastian pasokan gas ke Eropa. Hal ini membuat beberapa negara Eropa kembali mengaktifkan pembangkit listrik batu bara untuk mengantisipasi krisis listrik di wilayahnya.

          Tak dapat disangkal, tingginya harga batubara membuat pundi-pundi dari para pemain alat berat, seperti penjual dan penyewa, makin tebal selama semester I 2022. Rejeki berlimpah ini diharapkan terus berlanjut hingga paruh kedua tahun ini.

Kinerja emiten-emiten sektor komoditas batu bara diprediksi mengalami kenaikan signifikan pada paruh II 2022. Hal tersebut seiring dengan semakin ramainya aktivitas-aktivitas perekonomian dan kegiatan masyarakat dibanding semester I 2022.

Prediksi tersebut sejalan dengan optimisme emiten yang tetap yakin kinerja tahun ini bergerak positif. Sekretaris Perusahaan PT United Tractors Tbk (UNTR), Sara K. Loebis mengatakan, sejauh ini pihaknya optimis dengan target akhir tahun lantaran target tahun ini cukup konservatif dan sudah mempertimbangkan risiko dinamika mikro dan makro. Tahun ini, UNTR meningkatkan target penjualan alat beratnya. Hingga akhir tahun, UNTR membidik penjualan sebanyak 4.800 unit alat berat dari sebelumnya 3.700 unit.

Melansir laporan bulanan yang diterbitkan di laman UNTR, anak usaha PT Astra International Tbk (ASII) itu menjual 526 unit Komatsu pada Juli 2022. Penjualan ini melesat sebesar 159,11 persen, jika dibandingkan dengan penjualan pada Juli 2021 sebanyak 203 unit alat berat.

Dalam keterangan resmi, dikutip Senin (05/9/2022), Sara mengemukakan, dalam tujuh bulan (Januari hingga Juli 2022), penjualan alat berat Komatsu mencapai 3.399 unit, meningkat sebanyak 1.835 unit atau melesat sebesar 117,33 persen year on year (yoy) dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu sebanyak 1.564 unit. Secara year to date (ytd), pangsa pasar alat berat Komatsu selama Januari-Juli 2022 tercatat sebesar 28 persen.

Dari total 3.399 unit alat berat yang dijual United Tractors itu, sebanyak 62 persen di antaranya ditujukan untuk sektor pertambangan, 18 persen untuk sektor konstruksi, 11 persen untuk sektor agrobisnis, dan 9 persen untuk sektor kehutanan.

Penjualan alat berat Komatsu sebanyak 3.399 unit hingga akhir bulan Juli 2022 itu  menujukkan UNTR telah merealisasikan 70,81 persen dari target penjualan hingga akhir tahun 2022 sebanyak 4.800 unit alat berat.

“Walau begitu, potensi resesi ekonomi, inflasi dan kenaikan suku bunga masih menjadi perhatian. Perubahan yang bisa terjadi pada semester II 2022 akan terus dipantau karena umumnya akan berpengaruh pada proyeksi 2023,” katanya.

Senada, Direktur Utama PT Intraco Penta Tbk (INTA) Petrus Halim, mengemukakan, untuk tahun 2022, INTA menargetkan penjualan alat berat naik 5 persen hingga 15 persen, atau menjual lebih dari 400 unit. Pada 2021, INTA berhasil meraup total penjualan Rp262 miliar dari 376 unit alat berat.

“Untuk target, kami sedang evaluasi dan monitor kalau memungkinkan akan kami revisi lebih baik,” kata Petrus dalam konferensi pers, dikutip Senin (05/9/2022).

Dengan adanya kenaikan harga komoditas, menurut Petrus, justru menguntungkan bagi INTA karena permintaan alat berat akan meningkat. Dengan adanya perang Rusia Ukraina dan ketegangan di kawasan Indopasifik akan membuat situasi global semakin tidak menentu. Akibatnya, permintaan komoditas semakin tinggi.

“Jadi, saya rasa saat ini kita juga akan ikut mengamati segala perubahan baik yang terjadi di Indonesia maupun global, permintaan luar biasa kencang saat ini,” ujar Petrus.

Di sisi lain, diakuinya, produksi alat berat masih ketinggalan dari permintaan. Permintaan alat berat tinggi tetapi pasokannya masih keteteran karena problem rantai pasok. Bahkan pasokan tetap tersendat meski kapasitas produksi ditambah. Hal ini membuat INTA cukup kesulitan memenuhi permintaan para konsumen. “Tapi kami diberkahi dengan permintaan banyak. Ini blessing in disguise, sangat baik untuk Indonesia dan INTA,” katanya.

Strategi yang INTA tetapkan tahun ini adalah mengoptimalkan usaha perdagangan alat berat dan mendorong penjualan suku cadang melalui jaringan-jaringan bisnis yang sudah tersebar di seluruh Indonesia.

Sepanjang semester I 2022, INTA membukukan pendapatan usaha sebesar Rp 334,35 miliar. Jumlah ini meningkat 18,30 persen year-on-year (yoy) dibandingkan pendapatan usaha INTA pada semester I 2021 sebesar Rp 282,62 miliar.

Asal tahu, mayoritas pendapatan usaha INTA pada paruh I 2022 disumbangkan oleh penjualan alat-alat berat sebesar Rp 168,14 miliar, kemudian diikuti oleh penjualan suku cadang sebesar Rp 102,59 miliar. Selain itu, INTA juga mencetak pendapatan jasa sebesar Rp 52,61 miliar.

Menurut Petrus, pada semester I 2022, pertumbuhan penjualan alat berat sangat signifikan bahkan bisa berlanjut hingga akhir 2022. Meski begitu, perubahan target perusahaan masih akan dievaluasi. Itu karena kondisi perubahan yang bisa saja terjadi dalam makro ekonomi.

“Kami berharap kondisi makro, global, yang selama ini cukup mengkhawatirkan dapat dijaga oleh pemerintah. Inflasi tetap dijaga rendah. Pertumbuhan ekonomi tetap pesat. Dengan begitu kita yakin kita bisa turut ikut menikmati pertumbuhan ekonomi tersebut,” kata Petrus.

Bagaimana dengan Hexindo Adiperkasa Tbk (HEXA) dan PT Kobexindo Tractors Tbk (KOBX)? Hexindo melihat bisnis alat berat pada paruh II 2022 masih memiliki prospek yang positif. Hal ini didukung oleh perkiraan harga komoditas, terutama batu bara yang masih stabil di harga tinggi sepanjang tahun ini.

Katalis positif kinerja HEXA pada 2022 datang dari prospek penjualan unit atau mesin sebagai sumber pendapatan utama perseroan yang berkontribusi lebih dari 50% terhadap total pendapatan. Hingga akhir tahun ini, HEXA tetap fokus pada penjualan alat berat ke empat sektor industri andalan, yaitu pertambangan, pertanian, kehutanan dan konstruksi. Selain itu, HEXA juga menilik peluang pengembangan bisnis rental dan used machine yang cukup menjanjikan.

HEXA mencatat penghasilan bersih US$ 114,11 juta pada semester I 2022. Penghasilan ini tumbuh 53,52% dibandingkan sebesar US$ 73,85 juta pada periode yang sama 2021. Dari penghasilan sebesar itu, HEXA berhasil membukukan laba tahun berjalan mencapai US$ 9,05 juta di semester I 2022. Pencapaian laba ini meningkat 17,68 persen dibandingkan sebesar US$ 7,69 juta pada semeseter I 2021.

Manajemen PT Kobexindo Tractors Tbk juga merevisi naik target pendapatan yang akan dicapai hingga akhir tahun 2022. Emiten penyedia alat berat terintegrasi itu tidak asal melakukan revisi, tetapi berdasarkan beberapa indikator, di antaranya kenaikan harga batu bara dan nikel.

Peningkatan harga komoditas tersebut, memberikan dampak positif terhadap emiten yang menjual dan menyewakan alat berat. Permintaan batu bara yang melonjak menjadi katalis utama pertumbuhan permintaan alat berat hingga akhir tahun ini.

Manajemen KOBX optimis kinerja positif akan berlanjut hingga akhir tahun 2022. KOBX akan terus memonitor kinerja dan permintaan alat berat sebelum memutuskan untuk merevisi naik target pendapatan. Hal tersebut dikarenakan volatilitas harga komoditas dan terbatasnya pasokan serta logistik alat berat yang terjadi secara global.

Direktur Utama KOBX, Andry B. Limawan, mengatakan, sepanjang semester I 2022, laba bersih perseroan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai US$ 4,5 juta. Pencapaian ini meningkat sebesar 61,5 persen dibandingkan laba bersih perseroan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$ 2,79 juta pada periode yang sama tahun 2021.

Menurut Andry, solidnya kinerja bottom line KOBX tidak lepas dari solidnya penjualan unit alat berat. Harga batubara dan nikel serta tingkat permintaan pada level saat ini mendorong pemilik tambang untuk meningkatkan produksinya sehingga berimbas secara positif terhadap permintaan unit alat berat.

Pada paruh I 2022, KOBX membukukan pendapatan sebesar US$ 81,09 juta. Angka tersebut setara pertumbuhan 43,77 persen jika dibandingkan periode yang sama 2021 sebesar US$ 56,40 juta. 

Adapun pendapatan KOBX secara konsolidasi tersebut bersumber dari keempat segmen usaha, yaitu penjualan unit alat berat, penjualan suku cadang, jasa perbaikan dan kontraktor pertambangan, dan jasa sewa (sewa alat berat dan sewa bangunan). Keempat segmen tersebut membukukan pertumbuhan solid double digit sepanjang paruh I 2022. 

Berita Terkait