26.2 C
Jakarta
25 Okt, 2021.

Mengapa pandemi COVID-19 masih mengancam proyek-proyek Infrastruktur Indonesia?

Produksi agregat telah pulih dengan kuat di Indonesia paska pandemi COVID-19, tetapi ancaman gelombang baru wabah yang mematikan itu tetap membayangi program infrastruktur ambisius negara ini.

Para customer excavator Volvo CE di Indonesia bisa mendapatkan insentif dengan menurunkan pemakaian bahan bakar. Foto: VCE

Produksi agregat di Indonesia meningkat pesat pada tahun 2021 setelah mengalami perlambatan akibat krisis COVID-19. Permintaan bahan-bahan bangunan digerakkan oleh program Presiden Joko Widodo untuk meningkatkan infrastruktur dasar seperti jalan raya, bandara, dan pelabuhan.

APBN 2021 Indonesia mengalokasikan Rp414 triliun untuk pembangunan infrastruktur, meningkat 47% dari anggaran 2020.

Sejumlah proyek besar saat ini mendorong peningkatan permintaan agregat dan peralatan untuk quarry di dalam negeri, menurut Gerrit Lambert dari Volvo Construction Equipment. Proyek-proyek yang dimaksud meliputi kereta cepat Jakarta-Bandung dan Jakarta-Surabaya (perkiraan biaya sekitar US$5,5 miliar); jalan tol Trans-Jawa (perkiraan biaya: IR51,6 triliun) untuk 619 km; jalan tol Trans-Sumatera (perkiraan biaya: IR351 triliun); MRT Jakarta (perkiraan biaya: bervariasi dari IR15,5 triliun hingga IR23 triliun); LRT Jakarta dan LRT Jabodetabek (estimasi biaya: IR23,8 triliun).

Permintaan bahan-bahan pendukung proyek internasional besar lainnya adalah Jalan Raya Pan-Borneo yang sudah mulai dibangun pada tahun 2017 dan menghubungkan negara bagian Sabah dan Sarawak di Malaysia dengan Brunei dan Kalimantan di Indonesia. Lebih dari 3.000 km jalan raya itu berada di bagian Indonesia dan sekitar 170 km di bagian Brunei.

Jalan Raya Pan-Borneo adalah bagian dari Jaringan Jalan Raya Asia, juga dikenal sebagai Jalan Raya Asia Besar, sebuah proyek kerjasama antara beberapa negara di Asia dan Eropa dengan Komisi Ekonomi dan Sosial PBB untuk Asia dan Pasifik (ESCAP) untuk meningkatkan sistem jalan raya di Asia.

Namun, kemunculan pandemi COVID-19 di Indonesia sejak awal tahun lalu merupakan perkembangan yang mengancam bagi sektor-sektor agregat dan bahan bangunan. Analis keuangan S&P Global telah menurunkan perkiraan pertumbuhan PDB pada tahun fiskal 2021 menjadi 3,4% dari 4,4% untuk 2021 menyusul eskalasi gelombang kasus COVID-19.

“Sektor-sektor yang terkait dengan mobilitas, sensitif terhadap kepercayaan, dan padat modal kerja (misalnya, ritel, konsumen, real estat, transportasi, pariwisata, penginapan dan hiburan, konstruksi, dan manufaktur ringan) paling terpukul oleh ebijakan penguncian (PPKM) yang terus diperpanjang,” kata S&P Global.

Salah satu korban pertama dari gelombang awal pandemi COVID-19 tahun lalu adalah rencana pemerintah untuk memulai pekerjaan infrastruktur terkait proyek relokasi ibu kota senilai US$33 miliar pada tahun 2021. Pada September 2020, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS) mengumumkan bahwa proyek tersebut telah secara resmi ditunda karena dampak ekonomi dari pandemi. Meskipun konstruksi telah ditangguhkan, pemerintah akan terus melanjutkan perencanaannya, dengan pekerjaan infrastruktur sekarang diharapkan akan dimulai pada tahun 2022 atau 2023.

Menurut materi presentasi tahunan terbaru dari Semen Indonesia Group (SIG), yang merupakan produsen semen terbesar di tanah air, permintaan semen nasional turun -10,4% pada tahun 2020, dengan penurunan terbesar berasal dari permintaan (semen) curah, yang turun -22,1%. Permintaan (semen) curah berasal dari industri atau proyek-proyek infrastruktur besar untuk beton dan konstruksi jalan.

Gerrit mengatakan bahwa dalam hal produksi agregat “semua sektor sekarang kembali ke situasi yang lebih baik, kadang-kadang bahkan lebih tinggi daripada sebelum krisis. Ini untuk menebus waktu yang hilang selama pandemi. Sebagian besar pelanggan kami sekarang kembali ke tingkat produksi yang tinggi dan membutuhkan perhatian penuh kami untuk mendukung mereka dengan mesin-mesin, layanan-layanan, waktu kerja, dan suku cadang.”

Terkait dengan dampak COVID-19, dia mengatakan: “Beberapa proyek pemerintah telah ditangguhkan karena realokasi anggaran tetapi yang lain masih berjalan. Secara keseluruhan, Indonesia akan terus tumbuh dan pasar quarry dan agregat akan menjadi bagian dari evolusi ini.

“Anggaran pembangunan infrastruktur pada tahun 2021 meningkat menjadi Rp 414 triliun dari Rp 281 triliun pada tahun 2020. Ini tentu berarti peningkatan pasokan agregat,” ujarnya.

Pada periode Januari-Mei 2021, konsumsi semen curah Indonesia oleh kegiatan infrastruktur turun 58% YoY menjadi 5 juta ton, menurut angka dari Asosiasi Semen Indonesia (ASI). Asosiasi itu mengatakan hal ini disebabkan perusahaan-perusahaan manufaktur dalam negeri masih mempersiapkan konstruksi.

Website berita semen Cemnet mengutip angka ASI yang menunjukkan bahwa pertumbuhan sektor itu sangat kuat di pasar Sulawesi, di mana permintaan naik 64%YoY pada bulan Mei menjadi 457.000 ton, menunjukkan pemulihan bertahap dari penurunan 11,8% pada tahun 2020. Maluku dan wilayah Papua melaporkan kenaikan 29,1% menjadi 142.500 ton pada  bulan Mei. Konsumsi semen di Jawa naik 282.000 ton menjadi 1,85 juta ton pada Mei, sedangkan dari Januari-Mei 2021 meningkat 4,89% menjadi 12,45 juta ton.

Konsumsi semen di Pulau Jawa bertambah 282.000 ton YoY menjadi 1,85 juta ton pada Mei 2021. Untuk periode Januari-Mei 2021 tumbuh 4,88% menjadi 12,45 juta ton. Konsumsi semen di Kalimantan tumbuh 2,3% menjadi 1,49 juta ton pada periode Januari-Mei, dan meningkat 16,1% menjadi 245.000 ton pada Mei 2021. Konsumsi semen di Bali dan Nusa Tenggara turun 5,6% menjadi 203.000 ton pada Mei 2021, dan turun 6,8% secara YoY  menjadi 1,18 juta ton pada periode Januari-Mei 2021.

Pertumbuhan ekspor semen Indonesia melemah pada Mei 2021. Ekspor mencapai 1 juta ton, lebih rendah dari 1,2 juta ton pada Maret dan April 2021. Namun untuk periode Januari-Mei 2021 meningkat 119% YoY menjadi 5,69 juta ton. Tahun ini, ASI memprediksi ekspor semen nasional tumbuh 29% menjadi 10 juta ton.

Indocement – produsen semen terbesar kedua di Indonesia setelah Semen Indonesia – mengatakan kapasitas produksi semen nasional meningkat sebesar 1% pada tahun 2020 dari 114 juta ton (2019) menjadi 115 juta ton per tahun.

Perusahaan itu menambahkan bahwa prospek pasar semen positif untuk tahun 2021. Pertumbuhan diperkirakan sebesar +4% hingga +5% dari tahun lalu karena kami memperkirakan volume penjualan massal yang lebih tinggi, terutama pada paruh kedua tahun ini.

Menurut perusahaan itu, pembentukan Dana Kekayaan Negara Indonesia pada tahun 2020 harus menarik lebih banyak investasi untuk proyek-proyek infrastruktur. Dana pemerintah telah dibuat untuk mengelola investasi nasional dan berkontribusi pada pembangunan ekonomi Indonesia.

Untuk memenuhi permintaan yang diharapkan dari proyek-proyek infrastruktur, Indocement membuka tambang batu baru pada Oktober 2020 di Pamoyanan di Jawa Barat. Target produksinya sebanyak 100.000 ton/bulan produk agregat untuk tahun pertama, dan kapasitas produksi tahunan 2,5 juta ton/tahun.

Quarry tersebut, menurut Indocement, siap memasok proyek-proyek strategis di kawasan kota metropolitan Jakarta (Jabodetabek) seperti kereta api cepat, Tol Jakarta-Cikampek II Selatan, Tol Pelabuhan, dan light rapid transit (LRT).

Berbeda dengan sektor semen, industri quarry di Indonesia belum membentuk asosiasi nasional dan – juga berbeda dengan semen – sebagian besar perusahaan quarry adalah perusahaan-perusahaan keluarga yang relatif kecil.

Sebuah kajian mengenai bahan baku konstruksi di Indonesia yang diterbitkan oleh BGR yang berbasis di Jerman pada Mei 2021 menyebutkan bahwa Jawa Timur merupakan provinsi dengan jumlah perusahaan quarry terbesar dengan total 13.465, di mana 13.387 adalah bisnis rumahan dan 78 adalah badan hukum. Hitungan ini meliputi pasir, batu dan andesit, kerikil, batu gamping, kuarsa, marmer, tanah liat, tanah, granit, kaolin, dan sejumlah bahan yang kurang penting.

Studi tersebut menambahkan bahwa pentingnya Jawa Timur untuk sektor quarry bahkan lebih terasa ketika melihat jumlah pekerja di sektor bisnis rumahan, yang merupakan tertinggi dari provinsi mana pun di Indonesia.

“Meskipun bisnis rumahan cenderung mempekerjakan lebih sedikit pekerja per entitas – rata-rata 3 pekerja per bisnis rumahan dibandingkan dengan 35 pekerja untuk badan hukum – mereka tetap menjadi pemberi kerja yang lebih penting, yang terdiri dari 93% dari total tenaga kerja quarry di provinsi ini,” sebut laporan BGR itu.

Peralatan apa yang sedang dicari oleh para pelaku industri quarry dan agregat dalam kondisi sekarang, Gerrit mengatakan hal itu tergantung pada pelanggan. Dia menyebut dua jenis pelanggan di quarry dan agregat. “Salah satunya adalah perusahaan-perusahaan besar seperti Pioner Beton (Heidelberg Group) dan Holcim (Semen Indonesia Group). Perusahaan-perusahaan ini mengharapkan mesin-mesin berkualitas tinggi dan dukungan produk yang bagus. “Kami menawarkan banyak layanan seperti telematika CareTrack, Volvo ActiveCare (pemantauan proaktif dan pemeliharaan prediktif), Volvo Co-Pilot, dan Volvo Certified Rebuilt untuk membantu para pelanggan menggunakan alat berat mereka sebaik mungkin dan mencapai waktu kerja dan profitabilitas yang optimal,” kata Gerrit.

“Pasti beberapa dari pelanggan-pelanggan besar ini ada yang tertarik pada solusi-solusi elektromobilitas, seperti konsep Volvo Electric Site tetapi pasarnya belum ada. Kami berharap mereka terus mencermati solusi-solusi yang kami kembangkan di bidang ini selama beberapa tahun ke depan.

Tipe pelanggan lainnya adalah yang ukurannya kecil, yaitu operator-operator quarry lokal. Biasanya yang menjadi prioritas mereka adalah peralatan berbiaya rendah yang dapat mereka andalkan untuk menyelesaikan pekerjaan. “Di sinilah nilai merek SDLG kami masuk. Kami dapat menawarkan kepada pelanggan-pelanggan ini mesin SDLG yang andal, bertenaga, dan efisien,” ujarnya.

SDLG meluncurkan wheel loader LG953 untuk pasar Indonesia pada akhir tahun 2020. Dengan kemampuannya untuk menangani kondisi-kondisi kerja yang berat dan konstruksinya yang kuat, wheel loader dengan jarak sumbu roda sedang hingga panjang ini dirancang untuk digunakan di lokasi-lokasi konstruksi, pabrik, pelabuhan, quarry hingga tambang.

Gerrit menambahkan bahwa excavator Volvo 20 ton yang dilengkapi dengan breaker ideal untuk usaha quarry dan mesin ini merupakan salah satu alat berat dengan penjualan tertinggi di Asia. Sementara crawler excavator Volvo EC480D sempurna untuk aplikasi-aplikasi pertambangan. Volvo juga merekomendasikan wheel loader SDLG 5 ton untuk batching plant.”Semua mesin ini mendapatkan daya tarik di pasar,” klaimnya.

Seorang pelanggan Volvo CE yang mengoperasikan tambang pasir di Jawa Tengah telah menggunakan excavator Volvo EC210D di lokasinya di Borobudur, Magelang sejak tahun 2017 untuk memuat pasir dari sungai ke unit penghancur. Pelanggan yang yang bernama Happy New Year ini mengatakan bahwa dia senang dengan keandalan dan efisiensi bahan bakar alat ini.

Excavator EC210D digunakan secara terus-menerus selama 8-10 jam shift setiap hari. “Saya memilih Volvo EC210D daripada excavator dari brand lain karena kinerja, keandalan, dan kualitas unit yang baik selama siklus hidup yang panjang,” kata Happy New Year.

EC210D dibuat dengan komponen-komponen yang tahan lama untuk kinerja yang kuat di semua aplikasi, mengamankan nilai alat berat yang tahan lama dan pengembalian investasi yang sangat baik. Happy New Year bermaksud untuk terus menggunakan EC210D selama lima sampai delapan tahun, selama waktu itu ia berharap dapat menghasilkan penghematan biaya yang cukup besar. “Volvo EC210D sangat efisien dalam konsumsi bahan bakar,” tambahnya.

Di luar alat berat, Gerrit dan Volvo CE percaya bahwa konektivitas, waktu kerja, produktivitas dan layanan akan terus mengubah industri ini dengan meningkatkan kinerja. “Dengan menyediakan alat berat dan layanan premium dengan kinerja yang telah terbukti dan total biaya kepemilikan yang rendah, Volvo CE siap menemani Indonesia ke langkah selanjutnya,” ujarnya meyakinkan.

Analis pasar GlobalData mengatakan industri konstruksi Indonesia diperkirakan akan pulih pada tahun 2021, dengan pertumbuhan 7,2%, dengan asumsi pekerjaan di lokasi-lokasi konstruksi kembali ke level-level normal.

Setelah mengalami rebound pada tahun 2021, GlobalData memperkirakan industri konstruksi Indonesia akan stabil, dan tumbuh pada tingkat rata-rata tahunan sebesar 5,4% antara tahun 2022 dan 2025, didukung oleh investasi pada pembangunan infrastruktur.

Berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN 2020-2024), pemerintah berencana untuk menginvestasikan Rp6 kuadriliun (US$412 miliar) untuk pengembangan proyek-proyek infrastruktur transportasi, industri, energi dan perumahan pada tahun 2024. Rencana infrastruktur yang ambisius itu mencakup investasi di 25 bandara baru dan sejumlah besar pembangkit listrik energi terbarukan serta angkutan massal.

Analis bisnis Mordor Intelligence mengatakan pertumbuhan di sektor konstruksi dan bahan bangunan diperkirakan akan didukung oleh fokus pemerintah pada pembangunan infrastruktur untuk menghidupkan kembali perekonomian negara.

Industri konstruksi Indonesia diperkirakan akan stabil dan mencatat pertumbuhan antara 2021-2024, didukung oleh investasi infrastruktur di bawah Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional.

Meskipun kegiatan konstruksi dalam beberapa tahun terakhir telah terkonsentrasi di Jakarta dan provinsi-provinsi sekitar sperti Banten dan Jawa Barat, pemerintahan Joko Widodo bertujuan untuk mendesentralisasikan kegiatan bisnis dari Jawa.

SDLG sudah meluncurkan wheel loader LG953 ke pasar Indonesian pada November 2020. Foto: EI

Pertumbuhan kaum milenial akan mendorong permintaan konstruksi dan bahan-bahan bangunan yang terkait, menurut Mordor Intelligence. Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan sekitar 50% dari total populasi pada 2019 berada pada usia kerja antara 20 dan 54 tahun, di mana 84 juta di antaranya adalah generasi milenial dengan daya beli yang signifikan.

“Perumahan tempat tinggal merupakan segmen pasar yang penting di Indonesia dan generasi milenial adalah sumber permintaan yang vital,” kata analis itu. “Para pengembang menargetkan segmen demografis ini dan menyesuaikan proses penjualan mereka, terutama setelah COVID-19.”

Lebih dari 4.800 rumah tapak diluncurkan untuk dijual di kawasan Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi) pada kuartal kedua tahun 2020, atau sekitar 26,3% lebih banyak dari peluncuran baru pada kuartal terakhir 2019.

Indonesia merupakan salah satu dari tiga negara – bersama dengan Malaysia dan Singapura – di mana Volvo CE telah meluncurkan program Fuel Challenge yang memberikan penghargaan kepada para pelanggan atas operasi unit-unit excavator yang hemat bahan bakar. Program insentif ini memberi imbalan kepada para customer excavator-excavator Volvo EC200D dan EC210D di tiga negara dengan kredit aftermarket karena mengkonsumsi kurang dari target konsumsi bahan bakar yang ditetapkan untuk negara masing-masing.

Volvo CE mengatakan skema ini menguntungkan para pelanggan karena mereka mengurangi biaya bahan bakar, mengurangi dampak lingkungan dan menghemat uang untuk pembelian suku cadang dan layanan.

Ditambahkan bahwa bahan bakar biasanya merupakan kontributor tunggal tertinggi untuk biaya operasi, seringkali menyumbang 30-40% dari total biaya operasi alat berat.

Pabrikan asal Swedia ini menyatakan bahwa menurunkan konsumsi bahan bakar di berbagai segmen dengan mengoptimalkan kinerja dan mendukung peningkatan efisiensi operator juga berkontribusi pada komitmen kelestarian  lingkungan hidup.

Saat membeli mesin baru, para pelanggan dapat memilih untuk mendaftarkan pada program tersebut. Tujuannya adalah untuk mendorong penggunaan mesin dalam mode kerja yang tepat dan agar para operator secara sadar menghindari penggunaan mode kerja yang tinggi. Volvo CE akan membantu mereka untuk bekerja secara lebih efisien dengan mengaktifkan kode sandi untuk mode yang lebih tinggi.

“Program Fuel Challenge adalah win-win untuk semua pemangku kepentingan, sekaligus memastikan bahwa kami menurunkan jejak karbon untuk masa depan yang lebih baik,” kata Joseph Low, manajer produk Volvo CE Region Asia.

Program Volvo Fuel Challenge terbuka untuk para pelanggan crawler excavator Volvo EC200D dan EC210D di Indonesia, Singapura, dan Malaysia. (Artikel ini disadur dari laporan Liam McLoughlin pada website Aggbusiness.com, 8 Oktober 2021)

 

Related posts