Penyebaran penyakit Covid-19 di Indonesia berdampak signifikan terhadap industri alat berat. Bagaimana divisi rental dan used equipment PT Intraco Penta Wahana menghadapi krisis kesehatan global ini?

Dentuman suara mesin-mesin bor (drilling rig) untuk pemasangan tiang-tiang pancang di sepanjang jalan tol Cikampek sudah lama senyap. Sejak wabah virus corona merebak, alat-alat berat seperti excavator, drilling rig dan berbagai jenis crane sudah lama berdiam diri di tepi jalan tol. Mereka sudah hampir dua bulan idle alias non job. Padahal, awalnya, unit-unit itu sedang mengebut pengerjaan jalur kereta api cepat Jakarta – Bandung.
Pengangguran alat-alat berat pada proyek kereta api cepat itu kemungkinan besar merupakan representasi dari situasi serupa yang terjadi di banyak proyek lainnya, baik di sektor konstruksi, agrikultur hingga pertambangan, termasuk minyak dan gas. Semenjak Covid-19 menjalar di berbagai daerah, pemerintah menerapkan kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) untuk membatasi aktivitas dan mobilitas warga di luar rumah, termasuk untuk bekerja. Banyak kegiatan bisnis yang berhenti. Para pekerja kantoran disarankan untuk bekerja dari rumah. Proyek-proyek infrastruktur dan pekerjaan-pekerjaan tambang berhenti hingga batas waktu yang belum ditentukan.
Kita berada dalam situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya di mana hampir semua industri yang mengandalkan alat berat lumpuh, kata Riky Agustridi, GM Rental & Used Equipment PT Intraco Penta Wahana (IPW) ketika diminta pendapatnya mengenai dampak Covid-19 terhadap industri rental beberapa waktu lalu. Bayangkan, orang-orang berdiam diri di rumah selama berhari-hari demi terhindar dari penularan Covid-19 dengan mematuhi semua protokol kesehatan yang ditetapkan pemerintah.
Riky mengatakan pandemi Covid-19 sudah pasti memengaruhi bisnis rental dan used equipment. Dia mencontohkan di sektor penambangan. “Selama kuartal pertama tahun ini, harga komoditas batu bara masih belum rebound, tapi up and down. Dengan adanya pandemi Covid-19, para customer yang akan memulai harus wait and see. Pelanggan-pelangganyang sudah berjalan namun produksinya tidak begitu besar dan bergantung pada penjualan jangka pendek (short term transaction) harus berhenti operasi dan produksi mereka pending. Yang masih bertahan adalah para customer dan mine owner dengan produksi tinggi dan kontrak penjualan jangka panjang (long term),” ia menjelaskan.
Seberapa besar dampak krisis ini terhadap bisnis rental dan pasar alat bekas, Riky mengatakan pada prinsipnya semua bisnis bergantung pada supply and demand, dan tentunya sistem logistik atau rantai pasokan serta faktor-faktor seperti modal kerja, penyedia alat berat, tenaga kerja/operator, pasokan bahan bakar, suku cadang, penunjang operasional dan pembeli/peminat dari hasil produksi.
“Kalau rantai dari sistem tersebut terganggu dengan adanya pembatasan wilayah, tenaga kerja yang terbatas, pembatalan kesepakatan, pasokan suku cadang dan bahan bakar yang kurang serta pembatasan kerja, semuanya itu tentu sedikit banyak akan memengaruhi kinerja, produksi dan keberlangsungan operasi,” urainya.
Untuk menghendel dampak pandemi Covid-19 ini, kata Riky, Divisi Rental & Used Equipment Terra Rent melakukan dua pendekatan. Pertama, untuk divisi rental, Terra Rent bertahan dan fokus pada pelanggan-pelanggan dengan target produksi tinggi. Terra Rent juga menerapkan selective rental, yaitu fokus menggarap para customer yang hasil produksinya untuk kebutuhan local, terutama untuk pasokan ke power plant dan fishery. “Industri food & beverage dan industri-industri strategis seperti pembangkit listrik adalah industry yang sangat penting dan tetap harus ada selama masa pandemi Covid-19 ini,” ujarnya.
Kedua, untuk bisnis Used Equipment, perusahaan ini sudah pasti melakukan pengurangan karena daya beli menurun dan rendahnya permintaan alat berat bekas pada saat ini. Jumlah alat berat bekas pun meningkat di pasaran karena banyak perusahaan yang lebih membutuhkan cash flow dengan cara melepas aset-aset mereka.
Ketika ditanya mengenai strategi-strategi bisnis yang ditempuh IPW untuk bisa keluar atau setidaknya tetap bertahan selama masa pandemi ini, Riky mengakui saat ini masih cukup sulit karena belum diketahui sampai kapan kondisi ini akan berakhir. Sebagai antisipasi, pihaknya sudah membuat skenario mulai dari yang moderat hingga yang terburuk berdasarkan waktu: per 3 bulan, 6 bulan dan yang terburuk sampai dengan akhir tahun. “Efisiensi tentunya menjadi prioritas utama perusahaan untuk segera diterapkan. Dan sebagai penunjang support operation di lokasi tambang, kami tetap terhubung dengan cabang-cabang melalui mode kerja dari rumah (Work from Home/WfH),” ujarnya.
Selain industri-industri yang sedang berjalan, alternatif-alternatif lain yang dikembangkan perusahaan ini untuk menggairahkan pasar rental adalah dengan menjajaki peluang rental di industri-industri yang baik secara langsung maupun tidak langsung akan sangat dibutuhkan pada masa sulit ini saat ini, seperti industri makanan dan minuman (food and beverage), industri farmasi dan kesehatan medis, serta industri logistik dan jasa pengiriman. Semuanya ini tentu saja dengan penyesuaian alat-alat yang disewakan.



















