Alat Berat
Business Construction EQ Feature Top News

Bagaimana Mengoptimalkan Strategi Pemasaran Digital di Bisnis Alat Berat

Pencarian alat-alat berat secara online mengalami peningkatan selama satu dekade terakhir secara global, dan di Indonesia sangat terasa dalam dua tahun terakhir sejak merebaknya pandemic. Namun, apakah strategi digital marketing efisien dan efektif untuk mempromosikan barang-barang modal itu?

Saat terjadi penguncian (lockdown) selama masa puncak pandemi yang memaksa banyak orang bekerja dari rumah, Internet menjadi media satu-satunya yang dapat digunakan untuk mencari dan/atau membeli maupun memasarkan dan menjual sesuatu. Ini berlaku tidak hanya untuk barang-barang kebutuhan sehari-hari tetapi juga dalam urusan bisnis alat berat. Para kontraktor atau pengguna alat memanfaatkan Internet untuk mencari mesin-mesin yang diperlukan untuk mendukung operasi-operasi mereka. Merespon tren itu, makin banyak distributor/dealer yang memanfaatkan internet baik untuk mempromosikan maupun untuk menjual produk-produk mereka. Mereka terus mengembangkan strategi-strategi pemasaran digital agar produk-produk mereka tampil paling depan pada mesin pencari para konsumen. Mereka meng-upgrade kembali website perusahaan, dan aktif di berbagai akun media sosial.

Ketika pandemi mulai mereda dan aktivitas-aktivitas bisnis mulai kembali berjalan normal, apakah strategi-strategi digital marketing masih efektif untuk bisnis jual/beli barang-barang modal itu? Majalah Equipment Indonesia bertanya kepada beberapa distributor alat berat yang aktif bermedia sosial mengenai efektivitas digital marketing dalam bisnis mereka. Belum semua perusahaan menjawab pertanyaan-pertanyaan kami, namun berikut ini kami rangkum beberapa respon dari mereka, termasuk dari PAABI (Perhimpunan Agen Tunggal Alat Berat Indonesia).

Indonesia termasuk salah satu negara yang sangat aktif bermedia sosial. Antusiasme warganya dalam memanfaatkan media sosial untuk rupa-rupa urusan sangat tinggi. Tren ini sudah menjalar ke dalam industri alat berat. Pemain-pemain alat berat juga sudah makin aktif di media soscial, khususnya untuk digital marketing. Bahkan beberapa perusahaan diketahui merekrut tim khusus untuk mengelola digital content. Tugas utamanya adalah menyediakan macam-macam konten untuk di-upload ke berbagai platform media sosial seperti Instagram, Facebook, dan LinkedIn.

“Pemasaran digital sudah merupakan ‘hygiene factor’ dalam dunia pemasaran, termasuk alat berat. Penetrasi social media juga sangat tinggi di Indonesia sehingga menjadi medium yang sangat efektif dalam memasarkan produk,” komentar Etot Listyono, Ketua PAABI, sebuah asosiasi yang mewadahi perusahaan-perusahaan agen alat berat di Indonesia.

Munculnya tren digital marketing di industri alat berat tidak lepas dari pembatasan-pembatasan sosial yang diterapkan selama masa puncak pandemi, sebagaimana diutqarakan Davin Christian, Sales Director PT Equipindo Perkasa. “Meningkatnya tren pemasaran digital, salah satu penyebabnya adalah pandemi Covid – 19 yang menyebabkan pemerintah menerapkan peraturan PSBB dan WFH,” ujar pria yang juga Ketua Umum IV PAABI ini.

Pengakuan senada disampaikan Fahruddin, Manajer Marcomm PT Gaya Makmur Tractors (GM Tractors). “Saat ini pemasaran alat berat dengan digital marketing sudah semakin meningkat pesat penggunaannya. Pemasaran dalam bentuk soft selling maupun hard selling menggunakan berbagai jenis plaform sosial media, berbagai iklan di mesin pencarian semisal Google  maupun B2B market place.”

Apakah aktivitas-aktivitas pemasaran digital di industri alat berat nasional sudah menjadi satu kebutuhan ataukah hanya ikut arus alias karena tren media sosial? Etot dengan yakin menegaskan bahwa pemasaran digital merupakan kebutuhan, bukan hanya trend teknologi. “Digital marketing sudah menjadi communication channel dalam menyampaikan pesan-pesan maupun promosi-promosi produk,” tandasnya sembari menambahkan beberapa faktor yang menggerakkan peningkatan akvitivitas-aktivitas digital marketing di industri alat berat nasional, seperti penetrasi social media yang tinggi dan cost/contact yang lebih efisien.

Senada dengan Etot, Fahruddin mengatakan: “Digital marketing bukan lagi menjadi kebutuhan saja, namun sudah menjadi keharusan, karena di era serba digital ini dibutuhkan saluran informasi yang cepat dan mudah untuk diakses.”

Menurut Davin, pandemi Covid-19 mendorong para pemain alat berat mencari cara-cara terbaik untuk melakukan pemasaran, dan kondisi itu yang membuat kegiatan pemasaran secara digital makin menarik. “Selama pandemi Covid–19 kami berusaha mencari metode-metode pemasaran yang lebih effective dan efficient. Kami menilai dengan banyaknya kebijakan WFH dari Pemerintah, intensitas seseorang untuk bermain social media juga bertambah dan akan terus bertambah juga seiring perjalanan waktu yang akhirnya membuat pemasaran digital harus lebih kita fokus dibandingkan sebelum pandem,” ujarnya.

Berkomentar tentang efektivitas digital marketing untuk bisnis alat berat dibandingkan metode pemasaran tradisional mengingat karakter utamanya yang  B2B, dan bukan terutama B2C, Etot mengatakan dalam bisnis B2B perusahaan harus mampu berkomunikasi dengan para pembuat keputusan, sementara dalam pemasaran digital kita bisa memilih digital channel yang relevan dengan target audience (para pembuat keputusan)

Davin mengatakan bahwa meskipun bisnis alat berat itu lebih ke B2B, hanya saja kita tetap diharuskan untuk bisa berkomunikasi dengan setiap PIC yang ada di setiap perusahaan calon customer. “Social media lebih memudahkan kita untuk berkomunikasi dengan setiap PIC yang ada di setiap calon customer,” ujarnya.

Fahruddin mengatakan bahwa digital marketing dapat dijalan untuk B2B maupun B2C. “Ini salah satu keunggulan dan kelebihan digital marketing. Dalam dunia digital marketing bukan hanya B2B saja yang bisa dijalankan dengan beragam market place dengan berbagai segmentasi yang dapat dipilih, namun B2C pun sangat efektif untuk bisa dilakukan. Bagaimana kita bisa menciptakan keterikatan (engagement) dengan konsumen secara langsung dengan melihat algoritma, karakter perilaku para pengguna sosial media dari masing-masing individu,” ungkapnya.

Sejauh ini, apa saja benefit yang yang diraih oleh distributor-distributor alat berat dalam menjalankan digital marketing, terutama dari sisi pemasaran dan penjualan? Fahruddin mengakui strategi digital marketing sebagai sesuatu yang sangat bermanfaat untuk dilakukan, untuk bisa meningkatkan brand awareness dan memperkenalkan profil perusahaan maupun produk-produk yang ditawarkan. “Dalam menjalankan digital marketing ini, dalam kesempatan tertentu, bukan hanya brand image yang bisa meningkat, namun hard selling pun bisa diperoleh, asalkan dengan pemilihan platform yang tepat,” ungkapnya.

Davin juga menyampaikan pendapat senada bahwa dengan social media kita dapat mengakses dan memasarkan produk-produk kita ke segala jenjang audience dengan biaya yang lebih hemat, lebih efektif, serta berasa lebih dekat dengan para customer kita.

Davin dan Fahruddin mengatakan yang menjadi goal utama dari kegiatan-kegiatan digital marketing perusahaan-perusahaan alat berat adalah meningkatkan brand awareness, dan menjalin engagement dengan para pelanggan untuk mendukung penjualan.

“Dengan meningkatnya brand awareness, otomatis pada jangka panjang akan meningkatkan jumlah inquiry yang akhirnya lead to sales,” kata Davin berharap.

Fahruddin menambahkan, nama dan profil perusahaan menjadi lebih dikenal, meningkatkan rasa kepercayaan para pelanggan terhadap perusahaan, dan mendorong penjualan.

Yang tidak kalah pentingnya, kata Davin, biaya yang lebih murah dibandingkan dengan pemasaran secara konvensional, dan juga dengan pemasaran secara digital, kita mempunyai flexibilitas untuk memanfaatkan semua format promosi yang ada (brosur, flyer, video, dll).

Hal itu dibenarkan Etot. Menurutnya, pemasaran secara digital memberikan keuntungan berupa biaya yang lebih terjangkau, dan kita dapat memanfaatkan format video untuk demo produk, dan bisa memilih channel yang sesuai dengan target market.

Meski menawarkan banyak benefit, pemanfaatkan strategi digital marketing untuk mendorong pertumbuhan bisnis alat berat bukan tanpa tantangan. Etot menyebut dua problem utama yang menghadang laju kegiatan pemasaran digital di bisnis alat berat, yakni masih belum banyak orang yang memiliki kapabilitas di digital marketing, dan konsumen dihadapkan pada begitu banyak informasi sementara waktu mereka terbatas, sehingga dituntut kreatifitas yang tinggi.

Tantangan utama dalam aplikasi strategi digital marketing untuk bisnis alat berat, kata Fahruddin, adalah pemilihan platform yang tepat untuk menemukan karakter yang sesuai dengan bisnis perusahaan. Selain itu, penempatan promosi dan materi content yang sesuai dengan produk dan karakter bisnis perusahaan.

Davin mengingatkan, selain belum semua kalangan familiar dengan social media, kadang–kadang yang bermain social media di banyak perusahaan bukan pembuat keputusan (karena pembuat keputusan biasanya belum familiar dengan social media). Di samping, informasi yang berlebihan kadang-kadang dapat membuat customer bingung untuk menentukan pilihan.

Untuk mengoptimalkan pemanfaatan digital marketing bagi kemajuan bisnis alat berat di Indonesia, Etot dan Davin menyarankan perlunya meningkatkan kapabilitas tim pemasaran di dunia digital marketing melalui training skill dan studi banding. Selain itu, pengertian dari para stakeholders tentang manfaat dan pengukuran efektivitas dari digital marketing sangat diperlukan. “Sekali lagi, tidak semua orang familiar dengan digital marketing, dan bagaimana agar digital marketing menjadi effektif di dunia alat berat,” imbuh Davin.

Sementara Fahruddin mengatakan bahwa membangun infrastruktur yang stabil untuk akses online/internet menjadi suatu keharusan baik itu jaringan maupun media server pendukungnya. Sedangkan untuk SDM-nya, perusahaan-perusahaan alat berat perlu merekrut orang-orang yang tepat untuk dapat mengelola digital marketing baik dari sisi kemampuan maupun pengetahuannya.

Pemasaran produk-produk alat berat di era digital ini tidak sesederhana seperti yang dapat dilakukan oleh perusahaan-perusahaan yang memasarkan langsung produk-produk mereka kepada konsumen. Alih-alih hanya menarik perhatian satu orang tertentu, taktik-taktik pemasaran distributor/dealer alat berat sering kali harus dapat menarik perhatian seluruh tim pembuat keputusan di suatu perusahaan. Banyak pemasar B2B, seperti di bisnis alat berat, menghadapi tantangan itu belakangan ini, tetapi tentu saja bukan tidak mungkin untuk dilakukan. Tentu saja tersedia banyak strategi pemasaran digital yang dapat digunakan oleh distributor/dealer peralatan berat, tetapi memilih mana yang terbaik dapat menjadi tantangan tersendiri.

Berita Terkait